Dark/Light Mode

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom

Manfaatkan Demokrasi Tangani Corona

Jumat, 5 Juni 2020 06:23 WIB
Hasil tangkapan layar diskusi FPCI yang menghadirkan Dubes Kim Chang-beom, Selasa (2/6).
Hasil tangkapan layar diskusi FPCI yang menghadirkan Dubes Kim Chang-beom, Selasa (2/6).

RM.id  Rakyat Merdeka - Wabah virus corona tidak hanya menjadi cobaan bagi sektor kesehatan setiap negara. Tapi juga ujian bagi sistem pemerintahannya.

Bagi Korea Selatan, pandemi Covid-19 juga merupakan cobaan. Tapi, menurut Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Kim Chang-beom pemerintah di Seoul menggunakan nilai demokrasi untuk menangani penyebaran virus. Langkah tersebut dibahas dalam dialog virtual yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Selasa (2/6). Dialog ini diberi judul “Democracy in the time of Co- vid-19: Challenges and Future Opportunities”.

Acara itu juga menghadirkan President Korea Foundation Geun Lee, Profesor Hubungan Politik Internasional Seoul National University Kim Eui-young, serta Dubes Indonesia untuk Islandia Todung Mulya Lubis.

“Pandemi ini tidak hanya mempengaruhi kita menjalani kehidupaa. Tetapi juga mempengaruhi pemerintah dan pengambil keputusan serta tokoh politik menentukan keputusan mulai dari lokal, pusat dan in- ternasional,” jelas Kim.

Berita Terkait : Duta Besar Jerman Peter Schoof, Cerita Kesuksesan Negerinya Hadapi Covid-19

“Jadi, penanganan corona ini bicara soal komunikasi, koordinasi satu sama lain. Ini juga tergantung pada tiap masyarakat salah satunya menuruti aturan karantina dan lainnya,” lanjutnya.

Kim menjelaskan Negeri Gingseng itu berhasil menurunkan angka positif penularan lewat transparansi dari pemerintah dan kepatuhan dari masyarakatnya.

“Ini adalah bentuk penghargaan demokrasi dari atas hingga akar rumput,” jelas Kim.

Salah satu keberhasilan dalam menghargai demokrasi di Korsel juga bisa dilihat dari keberhasilan negeri tersebut menjalankan pemilu legislatif 15 April lalu.

Berita Terkait : Seneng Bisa Pulangkan Warganya Ke Kampung Halaman

“Partisipasi pemilu lalu terbesar dalam catatan pileg sebelumnya. Ini sangat hebat mengingat acara demokrasi ini dilaksanakan di tengah pandemi,” beber Kim.

Ia menambahkan peran aktif masyarakat dalam menegakkan kebijakan tentu sangat diperlukan untuk membantu pemerintah menghadapi virus yang mematikan ini.

“Masyarakat yang disiplin tentunya akan sangat membantu pembuat kebijakan menghadapi tantangan Covid-19,” lanjutnya.

Meskipun masih ada kasus positif, Korea Selatan dianggap sebagai salah satu negara yang berhasil menekan angka positif kasus corona. Padahal, Korea Selatan awalnya termasuk negara yang terkena dampak Covid-19 paling parah.

Berita Terkait : Ingatkan Bahaya Corona, Pria Berdandan Ala Malaikat Maut

Pada 2 Juni, menurut data John Hopkins University, total infeksi Covid-19 di Korea Selatan sebanyak 11.541 kasus. Sebanyak 272 orang meninggal dunia, sedangkan 10.446 lainnya dinyatakan sembuh.

Menambahkan, Presiden Korea Foundation Geun Lee menyebut pandemi Covid-19 membentuk ancaman bagi demokrasi. Banyak sistem yang terganggu sehingga pemerintah di sejumlah negara menerapkan lockdown.

“Di negara dengan pendapatan yang sangat rendah menimbulkan masalah lain seperti keru- suhan dan diskriminasi,” tandas Lee.[DAY]