Dewan Pers

Dark/Light Mode

Interpol Peringatkan Bahaya Pencurian Dan Pemalsuan Vaksin Covid-19

Sabtu, 5 Desember 2020 09:19 WIB
Seorang pasien di Maryland menerima vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech selama uji klinis. (Foto: Associatediated Press)
Seorang pasien di Maryland menerima vaksin Covid-19 Pfizer dan BioNTech selama uji klinis. (Foto: Associatediated Press)

RM.id  Rakyat Merdeka - Polisi Internasional atau Interpol memperingatan kemungkinan vaksin Covid-19 dicuri atau dibuat versi palsu. 

Megutip Sky News kemarin, badan kepolisian global itu mengatakan, penjahat dapat menargetkan rantai pasokan atau menjual vaksin Covid-19 palsu secara online ketika semakin banyak jenis vaksin yang disetujui. Badan tersebut telah mengeluarkan peringatan di 194 negara anggotanya.

“Saat pemerintah bersiap meluncurkan vaksin, organisasi kriminal berencana menyusup atau mengganggu rantai pasokan,” kata Sekretaris Jenderal Interpol, Juergen Stock.

Berita Terkait : Moeldoko Ngarep Aa Gym Ikutan Divaksin Covid-19

“Jaringan kriminal juga akan menyasar anggota masyarakat yang tidak curiga melalui situs palsu dan pengobatan palsu, yang dapat menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan, bahkan nyawa mereka,” sambungnya.

Untuk itu, konsumen diingatkan selalu waspada. Sebab, kelompok tersebut dapat mengambil untung dari alat tes Covid-19 palsu. Saat ini, sekitar 170 vaksin Covid-19 sedang dikembangkan. Sebagian berada dalam tahap pemeriksaan terakhir, dan akan segera tersedia.

Inggris menjadi negara pertama di dunia yang menyetujui vaksin Pfizer/BioNTech Covid-19 untuk digunakan. Vaksin tersebut diharapkan akan diberikan mulai pekan depan.

Berita Terkait : Polisi Harapkan Rizieq Shihab Penuhi Panggilan Penyidik

Juru Bicara Pfizer mengatakan, perusahaannya telah mengambil tindakan tegas untuk melindungi vaksin selama proses pengiriman. Kerja sama Inggris dan Swedia dari Universitas Oxford dan AstraZeneca juga telah menyerahkan vaksin mereka untuk disetujui di Inggris.

Sementara ilmuwan dari perusahaan Amerika, Moderna, sedang mencari persetujuan dari regulator Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk mengizinkan penggunaan darurat vaksin mereka.

Rusia pun telah mengumumkan akan memulai vaksinasi skala besar dengan Sputnik V mulai pekan depan. Militer China telah menyetujui vaksinasi lain yang dibuat CanSino Biologics.  [DAY]