Dewan Pers

Dark/Light Mode

Aparat Makin Brutal, Korban Tewas Terus Bertambah

Dua Demonstran Tewas Ditembak Junta Militer

Senin, 1 Maret 2021 05:05 WIB
Foto ini diambil dari video ketika demonstran anti kudeta menghindari gas air mata di Kota Yangon, Myanmar, kemarin. (Foto : Associated Press).
Foto ini diambil dari video ketika demonstran anti kudeta menghindari gas air mata di Kota Yangon, Myanmar, kemarin. (Foto : Associated Press).

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintahan junta militer Myanmar semakin brutal menghadapi pengunjuk rasa. Kemarin, mereka menembak dua demonstran hingga tewas.

Kejadian itu terjadi buntut dari pembubaran paksa dilakukan Junta kepada demonstran me­nentang kudeta, di Yangon, kota terbesar di Myanmar. Dengan tewasnya dua pengunjuk rasa itu, kini korban tewas menentang ku­deta militer menjadi lima orang.

Dilansir Reuters, kemarin, aparat keamanan melepaskan tem­bakan di berbagai bagian kota.

Berita Terkait : Termasuk Imam Masjid, 3 Orang Tewas Ditembak Di Ibu Kota Pakistan

“Ada seorang pria yang diba­wa ke rumah sakit dengan luka tembak di dada. Pria itu meninggal,” kata seorang dokter di rumah sakit, yang meminta identitasnya tidak disebutkan.

Tembakan fatal lainnya terjadi di kota Dawai, wilayah selatan. Di kota itu, setidaknya satu demonstran tewas dan yang lain­nya mengalami luka-luka, akibat tindakan represif aparat.

“Satu orang tewas, dan aparat melukai yang lain,” kata politisi Kyaw Min Htike.

Berita Terkait : Golkar Berikan Masker, Sembako, Dan Vitamin

Kebrutalan aparat sudah ber­langsung sejak Jumat (26/2) di Yangon dan Mandalay, dua kota terbesar. Aparat menembakkan granat kejut, peluru karet, dan senjata ke udara. indakan keras diambil terhadap unjuk rasa yang telah berlangsung selama beberapa pekan untuk menentang junta militer.

Polisi dan juru bicara junta be­lum merespons kejadian tersebut. Namun sebelumnya pekan lalu, pemimpin Junta Jenderal Min Aung Hlaing menegaskan, pihak berwenang akan mengguna­kan kekuatan untuk menangani protes. Namun demikian, massa tak gentar dengan ancaman itu. Penentang kudeta militer terus melancarkan aksi protes.

“Jika mereka menekan kami, kami akan bangkit. Jika mereka menyerang kami, kami akan ber­tahan. Kami tidak akan pernah bertekuk lutut,” tegas Nyan Win Shein, demonstran di Yangon.
 Selanjutnya