Dark/Light Mode

Melonjak, Kinerja Investasi Dan Perdagangan RI-China Di Semester I-2021

Rabu, 4 Agustus 2021 23:40 WIB
Pameran produk unggulan Indonesia di China. (Foto: KBRI Beijing)
Pameran produk unggulan Indonesia di China. (Foto: KBRI Beijing)

RM.id  Rakyat Merdeka - Berdasarkan data National Bureau of Statistics (NBS), China mencatatkan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 12,7 persen pada semester I-2021. Pulihnya kondisi perekonomian China ini diharapkan dapat turut mendorong pemulihan ekonomi Indonesia melalui peningkatan kerja sama di sektor perdagangan dan investasi.

Seperti dalam keterangan KBRI Beijing, pada semester I-2021, investasi China dan Hong Kong ke Indonesia berjumlah 4 miliar dolar AS (setara Rp 53 triliun) dengan total proyek sebanyak 2.133. China menempati peringkat ketiga investor asing terbesar di Indonesia dengan nilai realisasi investasi mencapai 1,7 miliar dolar AS (setara dengan Rp 24 triliun) dengan jumlah proyek 1.245. Sementara, Hong Kong berada di urutan kedua investor asing kedua terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai 2,3 miliar dolar AS (setara Rp 33 triliun) dan jumlah proyek 888. 

Baca Juga : Ciutkan Gap Vaksinasi Negara Kaya-Miskin, WHO Serukan Moratorium Vaksin Booster

Pada periode ini, kinerja ekspor Indonesia ke China melonjak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari meningkatnya total nilai ekspor Indonesia ke China, khususnya produk-produk unggulan dan potensial Indonesia. Berdasarkan data Kepabeanan China, total perdagangan bilateral Indonesia-China dalam periode ini mencapai 53,5 miliar dolar AS (setara Rp 766 triliun), meningkat 50,3 persen dibandingkan semester I-2020. Ekspor Indonesia ke China tercatat mencapai 26,2 miliar dolar AS (setara Rp 375 triliun), tumbuh 51.4 persen. Nilai impor Indonesia dari China juga meningkat 49,3 persen atau mencapai 27,3 miliar dolar AS (setara Rp 391 triliun). 

Produk unggulan dan potensial Indonesia dalam periode ini yang mengalami peningkatan nilai ekspor signifikan, dalam kode HS dua digit, di antaranya: Besi dan Baja (HS 72) meningkat 100 persen; Lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) meningkat 125,9 persen; Aneka produk kimia (HS 38) meningkat 104,6 persen; Kopi, teh, mate dan rempah-rempah (HS 09) meningkat 94,8 persen; Residu dan sisa dari industri makanan, olahan makanan hewan (HS 23) meningkat 230,9 persen; Produk industri penggilingan (HS 11) meningkat 3688,9 persen; Barang dari kulit (HS 42) meningkat 177,04 persen; Bermacam-macam olahan yang dapat dimakan (HS 21) meningkat 106,3 persen; Produk keramik (HS 69) meningkat 108,7 persen; Mutiara alam, buatan, logam mulia (HS 71) meningkat 286,3 persen; Nikel (HS 75) meningkat 5496,9 persen; Bulu dan bulu halus unggas olahan, bunga tiruan, barang dari rambut manusia (HS 67) meningkat 182,3 persen.

Baca Juga : Audit Keuangan BAZNAS 2020 Raih Opini Wajar Tanpa Pengecualian

Kemudian, olahan dari daging, ikan, krustacea, moluska atau invertebrata air lainnya (HS 16) meningkat 816,8 persen; Produk hewani (HS 05) meningkat 120,2 persen; Timbal (HS 78) meningkat 277,4 persen; Barang dari besi atau baja (HS 73) meningkat 93,1 persen; Garam, belerang, tanah dan batu, bahan plester, kapur dan semen (HS 25) meningkat 72,7 persen; Olahan dari sayuran, buah, biji/kacang atau bagian dari tanaman (HS 20) meningkat 68,3 persen; Bagian dan aksesoris kendaraan (HS 87) meningkat 53,9 persen; Pulp dari kayu (HS 47) meningkat 52,6 persen; Instrumen musik, bagian dan aksesorisnya (HS 92) meningkat 50,9 persen; Instrumen dan aparatus optis, dan lain-lain (HS 90) meningkat 48,7 persen; Kakao dan olahannya (HS 18) meningkat 48,6 persen; Kertas dan kertas karton (HS 48) meningkat 48,3 persen; Mainan, keperluan olah raga, bagian dan aksesorisnya (HS 95) meningkat 46,3 persen; Produk produk hewani yang dapat dimakan (HS 04) meningkat 40,4 persen.

Mengingat kondisi di China yang sudah berangsur normal meskipun tetap dengan pemberlakuan protokol kesehatan yang masih ketat, sejak akhir 2020, KBRI Beijing semakin mengintensifkan pelaksanaan diplomasi ekonomi secara hybrid. Antara lain dengan melaksanakan dan memfasilitasi kegiatan promosi dan forum bisnis TTI, promosi budaya, roadshow business visit ke investor dan calon investor China, serta promosi produk ekspor andalan dan potensial Indonesia di berbagai wilayah di China. 

Baca Juga : Ini, Skema Bantuan Subsidi Upah Pekerja 2021

KBRI Beijing juga berkomitmen mendorong peningkatan kerja sama Indonesia-China di bidang infrastruktur, kesehatan, ekonomi digital, ekonomi hijau, serta industri bernilai tambah khususnya di sektor kendaraan listrik. Dalam kerangka sinergi kerja sama BRI dan GMF, KBRI Beijing juga mendorong percepatan implementasi proyek-proyek strategis di 4 koridor ekonomi, yaitu Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara dan  Bali. 

Di bidang kesehatan, China mendukung Indonesia sebagai hub-vaksin regional. Selain produksi bersama vaksin Covid-19, sejumlah perusahaan vaksin dan obat-obatan China juga menawarkan pembangunan pusat penelitian vaksin dan memberikan sponsor untuk pengembangan program pendidikan kesehatan publik pada universitas-universitas di Indonesia serta pertukaran pengetahuan para ahli. Berbagai upaya diplomasi ekonomi KBRI Beijing tersebut diharapkan dapat turut memberikan kontribusi bagi upaya penanganan pandemi dalam negeri dan saat yang sama menjadi bagian dalam upaya pemulihan ekonomi nasional. [USU]