Dewan Pers

Dark/Light Mode

Muhyiddin Setuju Ismail Sabri Jadi Perdana Menteri, Tapi Ada Syaratnya...

Kamis, 19 Agustus 2021 18:45 WIB
Muhyiddin Yassin (kiri) dan Ismail Sabri (Foto: Istimewa)
Muhyiddin Yassin (kiri) dan Ismail Sabri (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelaksana Tugas Perdana Menteri sekaligus Ketua Perikatan Nasional Muhyiddin Yassin menegaskan, koalisi mendukung penuh Wakil Presiden Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) Ismail Sabri Yaakob sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-9, dengan satu syarat.

Anggota kabinet yang kelak terpilih, harus bersih dan berintegritas. Tidak sedang menghadapi tuntutan pidana di pengadilan.

"Jika diangkat sebagai Perdana Menteri oleh Raja, Ismail Sabri harus memastikan bahwa anggota kabinetnya hanya terdiri dari orang-orang yang berintegritas, dapat dipercaya, dan bebas dari tuntutan pidana di pengadilan," kata Muhyiddin dalam pernyataannya, Kamis (19/8).

Muhyiddin meninggalkan Istana Negara sore ini, setelah satu jam beraudiensi dengan Raja Malaysia Sultan Abdullah Riayatuddin Mustafa Billah Shah.

Untuk diketahui, hari ini, Raja bertemu dengan 114 anggota parlemen untuk memverifikasi dukungan terhadap Ismail Sabri, sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-9.

Berita Terkait : Muhyiddin Yassin Mundur, Anwar Ibrahim Ucapkan Terima Kasih

Ismail Sabri yang datang ke Istana sekitar pukul 1 siang, pulang sekitar 2 jam kemudian tanpa berbicara sepatah kata kepada media.

Sementara Delegasi Partai Islam SeMalaysia (PAS) yang terdiri dari 18 anggota parlemen dan mantan menteri senior Azmin Ali, yang merupakan anggota Dewan Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu), meninggalkan Istana setelah menghabiskan waktu sekitar 1 jam di sana.

Sebelumnya, anggota parlemen dari UMNO, Bersatu, dan Barisan Nasional tiba di Istana di Kuala Lumpur lebih awal.   Disusul Ahmad Zahid Hamidi, yang datang terpisah dari rombongan UMNO.

"114 anggota parlemen telah diundang ke Istana, untuk menegaskan pilihan mereka terhadap Ismail Sabri. Setiap anggota parlemen punya waktu 1 sampai 2 menit untuk menghadap Raja," kata Sekretaris Jenderal UMNO, Ahmad Maslan seperti dikutip The Straits Times, Kamis (19/8).

"Anggota parlemen diminta menyebutkan nama dan konstituen mereka, untuk menegaskan dukungan terhadap Ismail dibuat secara sukarela tanpa paksaan,"imbuhnya.

Berita Terkait : Mundur, Muhyiddin Tetap Jadi PM Sementara Sampai Pengganti Ditetapkan

Ismail adalah wakil perdana menteri dalam pemerintahan Muhyiddin, yang mengundurkan diri pada Senin (16/8).

Sebanyak 17 anggota parlemen dari Gabungan Parti Sarawak (GPS), aliansi partai berbasis negara yang menjalankan pemerintah Sarawak, bersama dengan anggota parlemen independen Lubok Antu Jugah Muyang, melakukan audiensi dengan Raja secara virtual.

Anggota parlemen dari GPS-Petra Jaya Fadillah Yusof mengatakan, mereka termasuk di antara kelompok anggota parlemen pertama yang melakukan sesi mereka sekitar pukul 10 pagi.

Sebelumnya, Sekretaris Utama Pemerintah Mohd Zuki Ali dan Jaksa Agung Idrus Haru juga terlihat tiba di Istana.

Hari ini, Sultan Abdullah dijadwalkan bertemu dengan anggota parlemen dalam 5 kelompok, dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore.

Berita Terkait : Muhyiddin Mundur, UMNO Sudah Nyiapin Pengganti

Pertemuan itu terjadi sehari setelah batas waktu Rabu (18/8) bagi anggota parlemen, untuk menyatakan siapa yang mereka pilih untuk memimpin negara.

Semua partai yang berada di Perikatan Nasional telah mendukung Ismail Sabri, kecuali anggota parlemen veteran UMNO Tengku Razaleigh Hamzah yang merupakan kandidat saingan untuk jabatan perdana menteri. Sampai akhirnya, UMNO mengunggulkan Ismail Sabri.

Dukungan 114 suara yang diperoleh Ismail Sabri, memupus impian  Anwar Ibrahim, yang memimpin koalisi oposisi Pakatan Harapan dan merupakan presiden Partai Keadilan Rakyat, untuk menjadi PM berikutnya.

Muhyiddin yang kehilangan suara mayoritas dengan penarikan 15 anggota parlemen UMNO dari Perikatan Nasional pada awal bulan ini, sempat berjanji untuk mendorong mosi percaya di sesi parlemen berikutnya. Serta menawarkan serangkaian reformasi kepada pihak oposisi, dalam upaya untuk mengamankan suara yang cukup.

Namun faktanya, oposisi menolak kesepakatan reformasinya untuk mendapatkan dukungan bipartisan. Sehingga, Muhyiddin lempar handuk pada Senin (16/8). [HES]