Dark/Light Mode

Soal Dugaan Pembobolan Jaringan Internal BIN Dan Kementerian

Kedubes China Minta Media Beritakan Sesuai Fakta Dan Bukti Yang Cukup

Kamis, 16 September 2021 22:18 WIB
Duta Besar China untuk RI, Xiao Qian (Foto: Istimewa)
Duta Besar China untuk RI, Xiao Qian (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Juru Bicara Kedutaan Besar China di Indonesia angkat bicara soal berita tentang dugaan pembobolan jaringan internal 10 kementerian dan lembaga di Tanah Air - termasuk Badan Intelijen Negara (BIN) - yang diduga melibatkan hacker Negeri Tirai Bambu.

Menurutnya, serangan siber adalah tantangan umum yang dihadapi negara-negara sedunia.

"China dengan tegas menentang dan menindak serangan siber dan pencurian rahasia lewat internet, dalam bentuk apa pun sesuai dengan hukum. Posisi China dalam hal ini konsisten dan jelas," demikian bunyi pernyataan Kedutaan Besar China untuk Indonesia yang diterima RM.id, Kamis (16/9).

Baca Juga : Minta Anak Buahnya Lebih Humanis, Kapolri Banjir Pujian Netizen

Dijelaskan, ruangan siber (cyberspace) memiliki virtualitas tinggi, sulit dilacak, dan melibatkan banyak aktor.

Oleh karena itu, penelusuran asal-usul serangan siber adalah masalah teknis yang kompleks.

"Pihak China berharap media terkait dapat memberitakan, berdasarkan fakta dan bukti yang cukup. Kami juga berharap teman-teman media Indonesia tidak disesatkan oleh suara-suara anti-China yang tidak sesuai fakta," pungkas pernyataan tersebut.

Baca Juga : Terbitkan Telegram, Kapolri Minta Anak Buahnya Tak Reaktif Hadapi Rakyat

Dugaan peretasan ini terungkap dari laporan terbaru peneliti keamanan internet milik media internasional TheRecord, Insikt Group.

Laporan tersebut mengungkap, aksi pembobolan tersebut memiliki kaitan dengan Mustang Panda.

Selama ini, Mustang Panda dikenal sebagai kelompok hacker asal China, yang memiliki target operasi wilayah Asia Tenggara.

Baca Juga : Menjaga Brand Dapat Meningkatkan Kepercayaan Konsumen

Terkait kasus ini, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan, Polri tengah berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Namun, Argo belum dapat memberikan keterangan secara rinci mengenai dugaan pembobolan tersebut.

"Sedang dikoordinasikan ke kementerian tersebut," kata Argo, Senin (13/9). [HES]