Dark/Light Mode

Peningkatan Hotspot di Wilayah ASEAN Picu Akumulasi Asap

Rabu, 11 September 2019 07:00 WIB
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati (kanan) menjelaskan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan di ASEAN di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Selasa (10/9). (Foto: Humas KLHK).
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati (kanan) menjelaskan sebaran asap kebakaran hutan dan lahan di ASEAN di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Selasa (10/9). (Foto: Humas KLHK).

 Sebelumnya 
Namun demikian meski sempat terjadi penurunan titik panas pada tanggal 8 September 2019 di Serawak, namun meningkat kembali pada 9 September 2019.

Sementara untuk di Kalimantan Barat terjadi penurunan titik panas dari 8 September 2019 ke 9 September 2019.

Artinya jika terjadi asap di wilayah Serawak itu disebabkan oleh lokal hotspot di wilayah tersebut yang ternyata jumlahnya juga meningkat terus beberapa hari terakhir.

Baca juga : Menteri Siti dan DPR Bahas Rencana Kerja dan Anggaran 2020

Untuk asap yang berasal dari hotspot di Serawak, Semenanjung Malaysia dan Kalimantan Barat ini diperkirakan terakumulasi di perairan Laut Cina Selatan karena ada dorongan angin dari arah Tenggara ke Barat Laut.

Data dan fakta tersebut semakin menjelaskan bahwa tidak terjadi asap lintas batas (transbondary haze) yang berasal dari kejadian Karhutla di Indonesia.

Terkait hal tersebut, Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Ruandha Agung Sugardiman juga menjelaskan bahwa kejadian Karhutla yang terjadi di Indonesia pada tahun 2019 masih normal.

Baca juga : Masyarakat Perlu Teredukasi Pengendalian Iklim

"Apa yg terjadi di kita ini merupakan fluktuasi tahunan yang biasa terjadi di Indonesia, ini masih di bawah dari Business As Usual (BAU) yang biasa terjadi di Indonesia.

Hal ini karena Pemerintah Indonesia telah merubah paradigma dari pemadaman menjadi pencegahan," ujar Ruandha. Data KLHK sampai 31 Agustus 2019 menunjukkan luas areal lahan dan hutan yang terbakar seluas 328 ribu hektare (ha) yang berarti masih 35 persen lebih rendah dari luas areal terbakar pada 2018 yang mencapai 510 ha.

Luas areal terbakar tahun 2019 itu terbagi di lahan gambut seluas 89 ribu ha, dan di lahan tanah mineral seluas 239 ribu ha.

Baca juga : Hari Ini Presiden Jokowi Serahkan Tanah Objek Reforma Agraria untuk Kalimantan

Data ini mengkonfirmasi jika perlindungan areal gambut di Indonesia lebih baik karena luas areal terbakar tidak didominasi pada areal gambut yang sulit dipadamkan melainkan di tanah-tanah mineral yang relatif lebih mudah dipadamkan.[SRI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.