Dark/Light Mode

Teologi Lingkungan Hidup

Dampak Teologis Kerusakan Lingkungan

Senin, 10 Juni 2024 05:20 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Idealnya antara ajaran aga­ma dan pemeluknya tidak boleh berjarak. Namum ada keke­cenderungan antara keduanya semakin berjarak, setidaknya di dalam pola kehidupan social budaya. Ajaran agama menganjurkan apa dan umatnya melakukan apa? Agama mesti­nya menjadi pandangan hidup (way of life) bagi pemeluknya. Apa jadinya agama dan peme­luknya berjarak? Apakah masih bisa disebut agama jika tanpa pemeluk? Mungkin mitos? Apa masih bisa disebut manusia tanpa agama? Mungkin mon­ster? Lihatlah pemandangan di sekitar kita atau mungkin lihat­lah diri kita sendiri. Apa kata agama dan apa yang dilakukan pemeluknya, atau apa kata aga­ma dan apa yang kita lakukan? Semakin berjarak antara agama dan pemeluknya semakin gagal kita menciptakan lingkungan pacu pembangunan yang ber­basis moral kemanusiaan.

Lingkungan pacu kita seba­gai umat beragama, termasuk kerusakan lingkungan alam, semakin teruji (untuk tidak mengatakan semakin rusak). Memang semuanya sudah berubah. Salah satu faktornya ialah masa depan datang lebih awal melampaui kecepatan kita menyiapkan diri.

Baca juga : Misteri Maqam Ibrahim

Mestinya masa depan itu datang 50 tahun lagi tetapi sudah masuk di dalam kamar-kamar kita. Dampaknya ialah munculnya multi shock. Di antaranya cultural shock, Theological shock, economical shock, IT shock sampai kepada theological shock.

Multi shock ini perlu dicermati. Jika generasi muda tidak segera dilakukan membinaan intensif maka serta merta ideologi ter­larang dari dalam negeri dan dari luar negeri bisa mencekam negeri kita.

Baca juga : Misteri Di Balik Hijir Ismail?

Apa jadinya jika masa depan datang lebih awal dari pada perkiraan kita? Pertanyaan ini dianalisis lebih cermat oleh Prof. Clifford Geertz dalam bukunya The Observed. Geertz membayangkan suatu masyara­kat yang akan mengalami apa yang disebut dengan kepriba­dian ganda (split personality). Sayang sekali Geertz, ahli Antropologi agama senior dari Amerika Serikat yang melaku­kan penelitiannya doktornya di Indonesia ini keburu wafat sebelum menyaksikan predik­sinya menjelma menjadi suatu kenyataan. Apa yang pernah diprediksi Geertz kini banyak melanda umat beragama.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.