Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Harga Obat Di Indonesia Selangit, Kenapa Malaysia Dan India Jauh Lebih Murah?
Rabu, 3 Juli 2024 21:58 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Berbagai media menyajikan berita bahwa harga obat di Malaysia ternyata lima kali lebih murah dari di Indonesia, sebagaimana disampaikan setelah rapat kabinet pada Selasa (2/7).
Informasi mengenai harga obat di negara kita yang relatif lebih mahal dibandingkan negara tetangga sebenarnya sudah lama kita dengar, namun nampaknya belum kunjung teratasi hingga sekarang.
Selain harga yang lebih mahal di Malaysia, ternyata harga obat di Indonesia juga jauh lebih mahal dibandingkan di India. Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan terkait ini.
Pertama, saya bertugas di kantor WHO Asia Tenggara di New Delhi selama 5 tahun, dari 2015 hingga pensiun pada usia 65 tahun di 2020. Karena usia saya ketika di India sudah lebih dari 60 tahun, maka saya mengonsumsi berbagai obat rutin yang selalu saya beli di New Delhi, dan kesehatan saya selalu terjaga dengan baik.
Selama lima tahun di India, banyak teman-teman dokter dari Indonesia yang menitip obat kepada saya, sehingga ketika pulang ke Jakarta, saya selalu membawa obat untuk mereka gunakan sehari-hari.
Baca juga : Harumkan Indonesia, Ini Sederet Penghargaan Internasional Diraih BRI Di Juni 2024
Pengalaman saya dan teman-teman lain menunjukkan mutu obat terjamin baik, yang terbukti dengan kesehatan kami yang selalu terjaga. Misalnya, kadar kolesterol saya selalu terjaga baik dan tekanan darah selalu terkontrol dengan baik berkat obat-obat rutin tersebut.
Kedua, di semua kemasan obat di India selalu tercantum harganya. Jadi, di mana pun kita membeli obat di India, harganya sama persis dan dikontrol ketat oleh pemerintahnya. Ini contoh yang baik jika diterapkan di negara kita, dengan dua keuntungan.
Keuntungan pertama, masyarakat jadi tahu persis harganya karena tercetak di kemasan obat. Keuntungan kedua, harga akan sama di seluruh Indonesia, di apotik mana pun kita membelinya.
Ketiga, harga obat di India jauh lebih murah dari di Indonesia, sesuai data konkret berikut ini. Saya masih mengonsumsi obat dari India yang selalu saya titipkan jika ada teman-teman WHO dari New Delhi datang ke Jakarta.
Berikut perbandingan harga obat yang kini saya konsumsi. Harga 1 tablet Atorvastatin 20 mg di apotik di Jakarta adalah Rp 6.160, sedangkan di India hanya 4,9 Indian rupees, atau Rp 1.000. Jadi, harga kita enam kali lebih mahal.
Baca juga : Fase Mina Selesai, Jemaah Haji Bersiap Tawaf Ifadhah
Kemudian, 1 tablet Clopidogrel 75 mg di Jakarta adalah Rp 7.835, dan di India hanya 7,7 Indian rupees, atau Rp 1.540, lebih dari lima kali lebih mahal dari harga di India.
Selanjutnya, 1 tablet Telmisartan 40 mg di Jakarta adalah Rp 5.198, sementara di India hanya 7,4 Indian rupees, atau Rp 1.500.
Terakhir, obat hipertensi istri saya Concord 2.5 mg di Jakarta adalah Rp 10.711, sedangkan di India hanya 7,8 Indian rupees, atau Rp 1.560. Jadi, harga di Jakarta enam kali lebih tinggi dari harga di New Delhi.
Tingginya harga di Indonesia tidak hanya pada obat tetapi juga pada alat kesehatan, yang tentu berdampak pada harga pelayanan kesehatan yang menjadi lebih mahal.
Ini juga salah satu alasan kenapa ada banyak laporan bahwa melakukan tindakan kesehatan tertentu di negara jiran memang lebih murah, karena obatnya beberapa kali lebih murah dan demikian juga biaya pemeriksaan lainnya. Ini juga dapat menjadi salah satu alasan kenapa ada jutaan kunjungan warga Indonesia ke negeri jiran untuk berobat.
Baca juga : Gokil! Peringkat Daya Saing Indonesia Melejit, Lampaui Jepang Dan Inggris
Kita tunggu langkah konkret yang akan dilakukan pemerintah, sehingga obat yang dikonsumsi masyarakat kita dapat menjadi jauh lebih murah, sama seperti yang dinikmati rakyat Malaysia dan India.
Oleh Prof Tjandra Yoga Aditama, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya