Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam sidang kabinet terakhir yang dipimpin Presiden Jokowi di IKN pagi ini, salah satu arahan beliau antara lain, “Agar setelah dilantik, pemerintahan baru bisa segera bekerja dan berlari kencang.”
Salah satu tantangan kesehatan yang kita hadapi adalah tuberkulosis (TB), di mana Indonesia menjadi penyumbang kasus TB nomor dua terbesar di dunia. Setiap jam, lebih dari 15 orang meninggal di negara kita karena penyakit ini.
Terkait upaya "berlari kencang" melawan tuberkulosis, ada baiknya jika pemerintahan baru segera mengadopsi dan mengimplementasikan panduan terbaru WHO mengenai pengobatan pencegahan tuberkulosis (TB Preventive Treatment - TPT) yang baru dikeluarkan pada 9 September 2024.
Baca juga : Erling Haaland Bakal Terus Gacor
Panduan tersebut memuat 21 rekomendasi berbasis bukti ilmiah, salah satunya adalah rekomendasi kuat terkait pemberian levofloxacin setiap hari selama 6 bulan sebagai salah satu opsi TPT bagi mereka yang terpapar tuberkulosis resisten multi-obat (MDR) dan resisten rifampisin (RR).
Terdapat lima langkah penting dalam paket pemberian TPT ini. Pertama, mengidentifikasi kelompok berisiko tinggi yang terinfeksi laten tuberkulosis.
Kedua, melakukan skrining TB, dan ketiga, memastikan bahwa individu tersebut belum terinfeksi TB aktif. Keempat, melakukan tes untuk mendeteksi infeksi TB, dan kelima, memilih obat TPT yang tepat.
Baca juga : BPJS Kesehatan Bahas Penguatan Sistem Anti Kecurangan Melalui Pemanfaatan Teknologi
Selain levofloxacin, opsi lain dalam pengobatan TPT termasuk pemberian isoniazid setiap hari selama 6 atau 9 bulan, regimen rifapentine dan isoniazid selama 3 bulan, atau kombinasi rifapentine dan isoniazid setiap hari selama satu bulan.
Alternatif lainnya adalah pemberian rifampisin setiap hari selama 4 bulan. Di Indonesia, cakupan program TPT masih sangat rendah, hanya sekitar 2-3 persen.
Oleh karena itu, kita memang perlu “berlari kencang” untuk meningkatkan cakupannya, dan sekarang juga harus menggunakan panduan terbaru dari WHO ini agar langkah-langkah yang diambil sesuai dengan bukti ilmiah yang valid.
Baca juga : Telkom Gandeng 3 Perusahaan Teknologi Global Perkut Al Ecosystem
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI. Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara. Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Mantan Kabalitbangkes.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya