Dark/Light Mode

Road-Map Menuju Langit (11)

Mengenal Konsep Tanazul Dan Taraqqi

Kamis, 10 Oktober 2024 06:00 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebelum menjelaskan secara mikro bentuk-bentuk, sifat-sifat, dan hikmah perjalanan hidup manausia dari dan kembali kepada Tuhan, ada baiknya dijelaskan beberapa istilah yang secara popular sering digunakan, tetapi mempunyai makna spiritual yang berbeda.

Di antara istilah-istilah kunci ini ialah apa yang dimaksud dengan konsep tanazul dan taraqqi. Kedua istilah ini sebenarnya lebih tepat menjadi istilah sufistik daripada menjadi istilah fisika.

Kedua istilah tersebut di atas digunakan untuk menggambarkan bentuk-bentuk perjalanan anak manusia dari satu titik dan kembali ke titik semula, yang dalam istilah fisika disebut proses pengembalian (returned).

Pergerakan manusia tidak bisa dijelaskan dengan fenomena passing over, terlempar baru kembali ke pusat, seperti permainan yoyo. Bukan juga fenomena passing out terlempar jauh lalu tidak bisa Kembali ke tempat asal.

Baca juga : Hakekat Insan Kamil (2)

Tidak bisa juga digambarkan sebagai centrifugal, sebuah pergerakan dari pusat mencari keluar. Tidak bisa juga disebut centripetal, sebuah pergerakan dari luar menuju ke titik sentral.

Konsep tanazul berasal dari akar kata nazala-yanzilu (turun) yang bi­asa disebut al-qaus al-nuzul. Secara popular tanazul juga biasa diartikan membumi atau pembumian (down to the earth), karena ada sesuatu dari atas (langit: sky, celestial) ke bawah (bumi: earth, terrestrial). Prosesnya disebut tanazul dan tempat atau halnya disebut maqam nuzul atau kalangan arifin menyebutnya maqam al-khalq.

Maqam ini didalamnya berlaku ketentuan dhahir (al-hukumah al-dhahiriyyah). Ketika menjadi wujud dhahir, maka pada saat itu ia memani­festasikan nama kemahapengasihan Tuhan (Ism al-Rahmaniyyah). Disebut demikian karena keseluruhan makhluk dalam wujud ini mendapatkan rahmat rahmaniyyah-Nya.

Konsep Taraqqi berasal dari akar ka­ta raqa-yarqi (mendaki, naik) biasa disebut al-qaus al-taraqqi. Secara popular taraqqi juga bisa diartikan Kembali ke asal (back to the basic). Setelah bermanifestasi sebagai wujud dahir, manusia kembali melakukan perjalanan spiritual dari wujud dhahir ke wujud batin (al-sair min al-adhahir ila al-bathin).

Baca juga : Hakekat Insan Kamil (1)

Gambaran lain bisa juga disebut dari wujud keteruraian ke wujud kebersatuan (min al-tafshil ila al-ijmal), karena semakin keatas semakin me­nyatu (Qur’an) dan semakin ke bawah semakin terpisah-pisah (furqan), sehingga dengan demikian bisa juga disebut min al-furqan ila Al-qur’an.

Proses taraqqi juga biasa disebut Al-qaus al-al-su’ud, atau taraqqi (melangit); karena itu maqam ini disebut maqam su’ud, atau kalangan arifin menyebutnya maqam al-Haq. Maqam ini didalamnya berlaku ketentuan batin (al-hukumah al-bathiniyyah). Ketika kembali menjadi wujud batin, maka pada saat itu ia memanifestasikan nama kemahapenyayangan Tuhan (Ism al-Rahmaniyyah).

Disebut demikian karena para makhluk dalam wujud ini mendapat­kan rahmat rahimiyyah-Nya. Itulah sebabnya ketika manusia berpulang ke rahmatullah diucapkan kalimat: Inna lillah wa inna ilaihi raji’un (Q.S. Al-Baqarah/2:156).

Tahapan-tahapan perjalanan spiri­tual Insan Kamil ini diisyaratkan di dalam ayat: Latarkabunna th­araqan ‘an thabaq (Sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)/Q.S. Al-Isy­iqaq/84:19). Dalam ayat lain di­katakan: Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. (Q.S Al-Sajadah/32:5).

Baca juga : Al-Asma al-Husna = Insan Kamil (?)

Proses perjalan spiritual ini mengi­kuti pola permanen yang ditetapkan Sang Khaliq, yaitu perwujudan dari satu tahap ke tahapan lain selalu mengacu kepada wujud azali (tidak didahului ketiadaan) dan wujud abadi (tidak diakhiri dengan ketiadaan). Ke-azali-an dan ke-abadi-an inilah yang disebut dengan baqa’, yakni abadi di dunia dan di akhirat (baqa’ maujduhu dunyan wa akhiran).

Di manapun dan kapan pun perwujudan atau fenomena itu berwujud maka di situ akan tergambar ke­abadian model itu, sebagaimana diisyaratkan di dalam Al-Qur’an: Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. (Q.S. Al-Hijr/15:21). (Bersambung)

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 5, edisi Kamis, 10 Oktober 2024 dengan judul "Road-Map Menuju Langit (11) Mengenal Konsep Tanazul Dan Taraqqi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.