Dark/Light Mode

Road-Map Menuju Langit (9)

Hakekat Insan Kamil (1)

Selasa, 8 Oktober 2024 05:59 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Secara literal, Insan Kamil berarti manusia paripurna. Namun, dalam literatur teologi dan sufistik tidak sesederhana itu. Bagi kalangan sufi, Insan Kamil difahami sebagai lokus penampakan (madhhar) diri Tuhan paling sempurna, meliputi nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Di antara para sufi yang mendalami Insan kamil ini ialah Ibnu Arabi dan ‘Abd al-Karim al-Jili. Yang terakhir ini mempunyai beberapa tulisan secara khusus tentang Insan Kamil. Namun, substansi pikirannya sesungguhnya lebih terinspirasi oleh Ibn ‘Arabi yang sering diberi gelar sebagai imamnya wali (Imam al-auliya’).

Baca juga : Al-Asma al-Husna = Insan Kamil (?)

Dalam pandangan sufistik, Allah SWT memilih manusia sebagai makhluk yang memiliki keunggulan (tafadlul) atau ahsani taqwim (ciptaan paling sempurna) menurut istilah Al-Qur’an.

Disebut demikian karena di antara seluruh makhluk Tuhan, manusialah yang paling siap (isti’dad) menerima nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Makhluk-makhluk lainnya hanya bisa menampakkan bagian-bagian tertentu. Bandingkan dengan mineral, tumbuh-tumbuhan, binatang, bahkan malaikat, tidak mampu mewadahi semua nama dan sifat-Nya.

Baca juga : Jenis-jenis Perjalanan Spiritual (2)

Lagi pula, unsur semua makhluk makrokosmos dan makhluk spiritual tersimpul di dalam diri manusia. Ada unsur mineral, tumbuh-tumbuhan, dan binatang sebagai makhluk fisik dan ada unsur spiritualnya yang non fisik, yakni roh. Tegasnya, manusia sempurna secara kosmik-universal dan sempurna pula pada tingkat lokal-individual. Itu pula sebabnya manusia sering disebut miniatur makhluk makrokosmos (mukhtasar al-‘alam) atau mikrokosmos (al-insan al-kabir).

Keparipurnaan manusia diungkapkan juga di dalam ayat dan hadis. Dalam Al-Qur’an, manusia diciptakan paling sempurna (Q.S. At-Tin/95:4) dan satu-satunya makhluk yang diciptakan dengan “dua tangan” Tuhan (Q.S. Shad/38:75), dan telah diajari langsung oleh Allah SWT semua nama-nama (Q.S. Al-Baqarah/2:31). Dalam hadis-hadis tasawuf juga banyak dijelaskan keunggulan manusia, seperti: “Inna Allah khalaqa Adam ‘ala shuratih” (Allah menciptakan Adam sesuai dengan bentuk-Nya”. Ayat-ayat dan hadis ini, oleh kalangan sufi, bukan saja menunjukkan manusia sebagai lokus penjelmaan atau penampakan (tajalli) Tuhan paling sempurna tetapi juga seolah menjadi “nuskhah” (copy) Tuhan atau al-shurah al-kamilah menurut istilah Ibn ‘Arabi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.