Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Semua tentu mengenal Puskesmas, akronim dari Pusat Kesehatan Masyarakat. Dari nama ini jelas bahwa tugasnya mencakup kesehatan secara umum, bukan tentang kesakitan saja.
Setidaknya ada dua aspek penting dalam kesehatan. Pertama dan yang utama adalah menjaga yang sehat tetap sehat dan juga produktif. Ini menjadi bagian penting, bahkan utama, dalam suatu Puskesmas.
Aspek kesehatan yang kedua adalah membuat yang sakit menjadi sehat. Untuk yang sakit ini, maka harusnya proses bermula dari mencegah jangan sampai sakit, atau dengan kata lain membuat yang sehat tetap sehat.
Sesudah pencegahan, tahapan berikutnya adalah mendeteksinya sedini mungkin. Ini juga harus jadi prioritas di Puskesmas.
Sesudah dideteksi, kemudian masuk ke tahap pengobatan bagi mereka yang sudah jatuh sakit.
Kenyataannya, kalau kita lihat sehari-hari, di Puskesmas pengunjung utamanya adalah mereka yang sudah telanjur jatuh sakit.
Di beberapa kota besar, satu Puskesmas dapat menerima dan harus menangani ratusan pasien sakit seharinya. Tentu mengobati pasien sakit adalah penting, tapi akan baik jika Puskesmas juga menitikberatkan kegiatannya untuk menjaga masyarakat tetap sehat, dan mencegah jangan sampai jadi penyakit. Inilah bagian dari yang disebut sebagai kegiatan promotif preventif.
Perlu disadari juga karena ada kata “Pusat” dalam Puskesmas, maka ruang lingkup dan tanggung jawabnya tentu bukan hanya di dalam gedung saja, yang biasanya penuh dengan pasien sakit.
Baca juga : Global Health Diplomacy
Namun, yang juga penting adalah kegiatan langsung di masyarakat. Sebab, masalah kesehatan masyarakat tidak mungkin ditangani oleh petugas kesehatan semata.
Harus ada koordinasi dengan lintas sektor dan pemangku kepentingan lainnya, yang tentu membutuhkan waktu dan perhatian dari petugas Puskesmas.
Di satu sisi, sehari-hari Puskesmas harus menangani ratusan pasien sakit. Tentu perhatian dan sumber daya untuk kegiatan menjaga yang sehat tetap sehat serta kegiatan langsung di masyarakat jadi tidak mendapat porsi penting.
Di sisi lain, masyarakat masih memerlukan tempat berobat ketika dia sakit, yaitu ke Puskesmas.
Menilik dari dua sisi ini, ada dua usulan yang saya sampaikan, mengingat sekarang sedang ada pembahasan Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan dalam hal substansi Pusat Kesehatan Masyarakat, sebagai amanah Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023.
Pertama, di Jakarta misalnya, ada satu Puskesmas tingkat Kelurahan yang sepenuhnya melakukan kegiatan kesehatan masyarakat, tanpa menerima pasien sakit.
Puskesmas seperti ini dapat sepenuhnya melakukan kegiatan menjaga masyarakat yang sehat menjadi tetap sehat, dan juga melakukan kegiatan langsung di lapangan setiap hari.
Ini dapat disebut sebagai Puskesmas yang benar-benar “pusat kesehatan masyarakat”.
Baca juga : Malaysia Laporkan Kasus Mpox Pertama Di 2024, Pasien Tak Punya Riwayat ke Luar Negeri
Untuk Jakarta, hal ini memang lebih memungkinkan karena banyaknya Puskesmas yang tersedia di berbagai pelosok kota.
Untuk daerah lain yang Puskesmasnya masih terbatas jumlahnya, dapat dimodifikasi dalam bentuk lain.
Misalnya, sehari dalam seminggu, atau mungkin dalam sebulan, Puskesmas mendedikasikan seluruh sumber dayanya untuk kegiatan kesehatan masyarakat dan kegiatan langsung di lapangan.
Alternatif lain dengan menambah tenaga di Puskesmas, yang dapat langsung terjun ke masyarakat.
Tetapi penambahan tenaga tentu punya konsekuensi dan tantangan tersendiri pula.
Usulan kedua, yang juga sudah dilakukan di negara lain, adalah Puskesmas menyediakan hari khusus bagi mereka yang sehat dan ingin konsultasi, atau diberikan pembekalan untuk tetap menjaga kesehatannya. Katakanlah semacam hari “Puskesmas Sehat”.
Ini dapat meliputi kegiatan seperti senam kesehatan, atau konsultasi menurunkan berat badan untuk yang obesitas, atau klinik berhenti merokok dan lain-lain.
Tentu ini juga dapat termasuk pemeriksaan Ibu hamil dan atau konsultasi tumbuh kembang anak.
Baca juga : Pneumonia dan Paru-paru Basah
Pada hari khusus ini juga dapat dilakukan pemeriksaan rutin, seperti berat badan, tekanan darah, laboratorium dasar dan juga berbagai upaya deteksi dini penyakit sesuai faktor risikonya masing-masing.
Di hari yang sama dapat juga dilakukan kegiatan di masyarakat, seperti Posyandu dan Posbindu yang kini sudah banyak dilakukan.
Kita semua amat mendambakan masyarakat dan bangsa yang sehat. Upaya menjaga yang sehat tetap sehat, dan penguatan pelayanan kesehatan primer seperti di Puskesmas ini jelas amat penting. Bahkan dapat dikatakan sebagai pilar utama kesehatan bangsa.
Dalam beberapa hari mendatang kita akan menyambut pemerintah baru yang akan segera mulai bertugas.
Tentu kita percaya dan berharap agar dalam program kesehatan pemerintah baru ke depan akan bertitik berat pada promotif preventif, kegiatan pelayanan kesehatan primer di Puskesmas dan upaya menjaga masyarakat yang sehat dapat tetap selalu sehat, tentunya sejalan dengan upaya pengobatan bagi masyarakat yang sudah jatuh sakit.
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
-Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI
-Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
-Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
-Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
-Penerima Rekor MURI 2024 sebagai penulis artikel Covid-19 terbanyak di media massa
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.