Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyelenggarakan Kongres PERSI XVI, Seminar Nasional PERSI XX, Seminar Tahunan Patient Safety XVIII dan Hospital Expo XXXVI pada 16-19 Oktober 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), mengangkat tema Rumah Sakit Tumbuh, Tangguh dan Berkualitas Untuk Semua.
PERSI adalah organisasi terbesar yang menghimpun rumah sakit di negara kita. Tercatat anggotanya ada 2.803 rumah sakit di seantero negeri kita, di antara 3.184 total rumah sakit yang ada.
Dari 2.803 rumah sakit anggota PERSI maka 1.049 adalah RS Pemerintah dan 1.754 RS swasta.
Dari berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi rumah sakit di Indonesia, setidaknya ada sembilan aspek yang mengemuka, dan semuanya dijadikan bagian dari penghargaan yang diberikan PERSI pada Kongres XVI tahun ini.
Pertama, Kode Etik dan Perilaku Rumah Sakit, yaitu segala kegiatan di rumah sakit yang berkaitan dengan pembentukan, penyelenggaraan, sosialisasi, implementasi, pengawasan, dan pembinaan Etika Rumah Sakit dan Kode Perilakunya.
Kedua, peluang besar dari Corporate Social Responsibility (CSR), yang meliputi segala kegiatan rumah sakit yang berkaitan dengan kepedulian/tanggung jawab sosial kepada masyarakat di satu sisi.
Baca juga : Menerima Paramakarya Parama Husada
Juga, hubungan rumah sakit kita dengan dunia usaha yang menyediakan CSR, bukan tidak mungkin akan bermanfaat bagi masyarakat yang dilayani rumah sakit.
Ketiga, perwujudan Green Hospital dalam bentuk segala kegiatan rumah sakit yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan.
Keempat, yang juga amat penting, bagaimana pengelolaan rumah sakit yang berkaitan dengan inovasi/kegiatan berupa kebijakan dalam perbaikan pelayanan internal maupun eksternal di masa krisis.
Kelima, tentang sumber daya manusia di rumah sakit, yang mencakup segala kegiatan di rumah sakit yang berkaitan dengan kesejahteraan, kesehatan jasmani dan rohani untuk sumber daya manusia (SDM) rumah sakit, komponen paling penting dalam pelayanan di rumah sakit.
Keenam, aspek kepemimpinan dan pengelolaan rumah sakit, antara lain berkaitan dengan upaya peningkatan mutu/kinerja dan pengembangan sumber daya yang ada.
Ketujuh, juga hal yang sangat penting dan sudah pernah saya tulis di koran Rakyat Merdeka beberapa waktu yang lalu, yaitu keselamatan pasien (Patient Safety) dan kaitannya dengan mutu pelayanan rumah sakit.
Baca juga : Puskesmas Untuk Kesehatan
Kedelapan, perkembangan terkini di bidang inovasi teknologi informasi. Serta kesembilan, tentang pelayanan pelanggan, aspek pemasaran dan hubungan masyarakat.
Selain sembilan aspek di atas, pada Kongres ke XVI ini, PERSI menganugerahkan penghargaan Paramakarya Parama Husada, yang merupakan penghargaan tertinggi PERSI yang diberikan kepada tokoh masyarakat/lembaga/instansi atas perhatian yang besar serta prakarsa dalam pengembangan upaya di bidang perumahsakitan pada umumnya dan rumah sakit pada khususnya.
Ada tiga orang penerima penghargaan Paramakarya Parama Husada ini, yaitu Prof Nila Moeloek, Menteri Kesehatan RI 2014-2019, Dr Nafsiah Mboi Menteri Kesehatan RI 2012-2014, dan Alhamdulillah, saya sendiri.
Saya mendapatkan penghargaan dalam ruang lingkup pengendalian penyakit termasuk Covid-19 di Indonesia pada umumnya dan di rumah sakit pada khususnya.
Saya tentu merasa bersyukur dan berterimakasih atas penghargaan ini, dan menyampaikan tiga harapan.
Pertama, semoga PERSI semakin berjaya dalam kinerjanya berbakti pada bangsa dan negara.
Baca juga : Global Health Diplomacy
Kedua, semoga rumah sakit di Indonesia dapat terus menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada seluruh rakyat kita. Ketiga, semoga perkembangan rumah sakit di Indonesia dapat terus berkembang pesat menuju pencapaian derajat kesehatan yang terbaik bagi anak bangsa, menyongsong Indonesia Emas 2045.
Sementara, dalam presentasi pada Seminar Nasional PERSI XX yang berjalan bersama Kongres XVI ini, saya sampaikan topik tentang ketahanan kesehatan dan kaitannya dengan palayanan di rumah sakit.
Rumah sakit jelas harus mampu mengantisipasi kemungkinan krisis kesehatan di masa datang, mulai dari kepekaan (alertness) tentang kemungkinan penyakit yang mewabah serta kesiapan seluruh sumber daya rumah sakit dalam menghadapi krisis yang saya usulkan sejak sekarang dibuat hospital emergency disaster plan sampai kepada pemikiran “out of the box” untuk meningkatkan pelayanan kesehatan rumah sakit tapi dilakukan di rumah pasien sendiri.
Untuk yang terakhir ini ada misalnya konsep rumah sakit tanpa dinding (hospital without wall) atau juga bangsal maya (virtual ward) dan lain-lain yang perlu mulai dikembangluaskan oleh rumah sakit di negara kita.
Di sisi lain, saya juga menyampaikan agar rumah sakit tidak hanya melayani orang yang sudah jatuh sakit, tetapi juga orang yang masih sehat dan ingin tetap sehat. Untuk ini saya usulkan agar tersedia “wing sehat” di rumah sakit.
Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Guru Besar FKUI
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
Penerima Rekor MURI 2024 sebagai penulis artikel COVID-19 terbanyak di media massa
Penerima Penghargaan Paramakarya Parama Husada PERSI 2024
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.