Dark/Light Mode

Beragama dalam Keberagaman (3)

Kerancuan Negara Sekuler

Rabu, 6 November 2024 06:11 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Seolah-olah negara mempunyai bahasa sendiri, budipekerti sendiri, pikiran sendiri, bahkan nilai-nilai agama sendiri. Bagi Hegel, negara adalah tujuan, bukan cara. Pribadi, keluarga dan masyarakatlah yang menjadi cara.

Atas dasar ini, Hegel menyusun falsafah nasionalisme, dimana loyalitas seseorang adalah untuk negara nasional yang tersusun di atas kondisi obyektif suatu bangsa.

Rasa nasionalisme lebih kuat dari rasa cinta kepada kemerdekaan. Nasionalisme mengadopsi apa yang disebut dengan inner werkende Krafte, ‘kekuatan dalam’ yang bisa menggilas para penentangnya.

Baca juga : Antara Negara Agama Dan Negara Sekuler

Pola dialektik Hegel lebih mengedepankan principle of negation, ketimbang principle of identity, yang mengedepankan titik temu di antara perbedaan yang ada.

Celakanya, kalau konsep negara dan nasionalisme semacam ini berhadapan langsung dengan Islam, agama yang secara khusus memiliki konsep syari’ah, hukum-hukum yang mengatur mulai dari isi hati setiap orang sampai kepada masyarakat dan negara.

Ketegangan konseptual sulit dalam hal ini sulit dihindari karena negara dan agama berkompetisi memperebutkan loyalitas individu dan masyarakat.

Baca juga : Memahami Kondisi Objektif Bangsa Indonesia

Pemandangan ini sebenarnya pernah terjadi di Indonesia, terutama dalam akhir paroh pertama rezim Orde Baru, ketika Pak Ali Murtopo tampil sebagai arsitek politik Soeharto.

Dalam masa ini, membicarakan eksistensi syari’ah bagaikan penuh dengan ranjau. Orang-orang harus ekstra hati-hati karena salah sedikit terjebak dalam perangkap isu SARA yang selalu dibayangi dengan akronim menakutkan, seperti subversif, fundamentalisme, komando jihad, ekstrim kanan, black list, dan berbagai ancaman lainnya dari Kopkamtib, suatu institusi yang mempunyai kewenangan besar untuk menangkap orang tanpa melalui proses hukum normal.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 7, edisi Rabu, 6 November 2024 dengan judul "Beragama dalam Keberagaman (3), Kerancuan Negara Sekuler"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.