Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Al-Qur’an betul-betul ajaib, karena meskipun singkat kalimatnya tetapi padat makna konotatif. Sebagai contoh, Inna anzalnahu fi lailatil qadr (QS Al-Qadr/97:1). Mengapa malam (lailah), bukan siang (nahar)? Meskipun siang hari Ramadan kita menunaikan puasa, namun Allah SWT tetap memilih malam (lailah) sebagai pangkalan pendaratan Kalam Ilahi. Malam memang mendatangkan kegelapan, tetapi bukankah kegelapan menjanjikan keheningan, kerinduan, keakraban, kehangatan, kepasrahan, dan kekhusyukan?
Dalam Kamus Besar Bahasa Arab, Lisan Al-‘Arab (15 jilid), lailah mempunyai banyak arti. Ada makna faktual dan ada makna simbolik. Lailah juga bisa diartikan dengan perempuan, kelembutan, feminin, nurturing dan jamaliyyah. Sedangkan nahar bisa diartikan dengan laki-laki, ketegaran, masculine, struggeling dan jalaliyyah.
Baca juga : Kesantunan Tata Bahasa Al-Qur’an
Dalam syair-syair Bahasa Arab juga kata lailah sering diartikan dengan beragam makna. Lihat saja novel fenomenal Laila Majnun, karya monumental Syekh Maulana Hakim Nidhami (1155-1223M). Dalam Novel ini, Laila memang nama putri seorang raja, tetapi kata lailah diimajinasi sedemikian rupa sehingga menyimpan makna cinta yang amat dalam.
Perhatikan cuplikan syair dalam buku tersebut: Lailah adalah cahaya malam, Majnun adalah sebatang lilin. Lailah adalah keindahan, Majnun adalah kerinduan. Lailah menabur benih cinta, Majnun menyiraminya dengan air mata.
Baca juga : Bagaikan Hutan Belantara
Lailah memegang cawan cinta, Majnun berdiri mabuk dengan aromanya. Perhatikan juga syair pendek seorang pengantin baru yang takut kehilangan malam: “Ya laila thul, ya shubh qif!” (Wahai malam bertambah panjanglah, wahai subuh berhentilah). Kedua syair ini mengambil makna simbolik (majazi) dari lailah.
Pelajaran penting yang dapat diperoleh dari kata lailah ialah suasana batin malam (al-lailah) mengisyaratkan jarak antara antara Tuhan dengan hamba lebih dekat ketimbang nahar di siang hari. Mungkin karena itu, Allah SWT menganjurkan salat tahajud di malam hari (QS Al-Isra’/17:79). Mungkin karena itu pula Allah SWT mensyariatkan salat jauh lebih banyak di malam hari daripada di siang hari. Malam kita lebih mudah menjadi khalifah dan malam lebih mudah kita menjadi hamba.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.