Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kelompok radikal bukan hanya dari kelompok agama dengan isu ideologi agama yang diusungnya. Tetapi radikalisme juga muncul dari kelompok lain seperti kelompok yang merepresentasikan diri dengan etnik atau komunitas tertentu.
Tidak terkecuali di antaranya kelompok yang mengatasnamakan diri dengan kelas buruh atau kaum tertindas lainnya. Radikalisme agama bisa melahirkan terorisme dan radikalisme bisa melahirkan separatisme, yang bermuara kepada bubarnya NKRI.
Di dalam menghadapi kelompok-kelompok radikal, idealnya pemerintah (umara) dan tokoh agama (ulama) memiliki bahasa yang sama di dalam menyelesaikan persoalan kelompok radikal tersebut.
Baca juga : Dekadensi Atau Pembengkakan Kualitas?
Tidak sepantasnya bahasa agama atau bahasa negara digunakan untuk lebih memanaskan sistuasi. Bahasa agama diperlukan kesejukannya untuk mendinginkan ketegangan situasi dan bahasa negara diperlukan untuk menegaskan adanya kepastian hukum guna menuntaskan persoalan sampai ke akar-akarnya. Tidak jarang terjadi bahasa agama diperhadap-hadapkan dengan bahasa negara oleh kelompok radikal.
Radikalisme sesungguhnya tidak lain adalah faham yang mempunyai keyakinan ideologi tinggi dan fanatik serta selalu berjuang untuk menggantikan tatanan nilai atau status quo yang sudah mapan dan atau sistem yang sedang berlangsung.
Mereka berusaha untuk mengganti dengan tatanan nilai tersebut dengan tatanan nilai baru, sesuai dengan apa yang diyakininya sebagai tatanan nilai benar.
Baca juga : Antara Jihad Dan Fasad (Bagian 2)
Radikalisme merupakan suatu kompleksitas nilai yang tidak berdiri sendiri melainkan ikut ditentukan berbagai faktor; termasuk faktor ekonomi, politik, dan pemahaman ajaran agama.
Radikalisme bisa meningkat menjadi terorisme manakala pemerintah atau masyarakat salah dalam menanganinya. Sebaliknya radikalisme yang dibina dan disalurkan melalui kegiatan positif maka hasilnya juga positif. Pertanyaannya sekarang, bagaimana memahami dan mendalami setiap gerakan yang menjurus kepada kelompok atau faham radikalisme?
Radikalisme bukan hanya menempel di dalam perjuangan yang bersifat keagamaan seperti semangat jihad, tetapi juga radikalisme bisa mengambil bentuk macam-macam. Ada radikalisme ideologi kedaerahan, seperti kekuatan yang berusaha untuk memisahkan diri dengan NKRI yang dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia tidak pernah sepi, meskipun eskalasinya relatif kecil dan sporadis.
Baca juga : Antara Jihad Dan Fasad (Bagian 1)
Radikalisme juga bisa muncul di dalam bentuk kekuatan liberalisme yang berusaha melemahkan sendiri-sendi yang mapan di dalam masyarakat lalu digantikan dengan ideologi kebebasan dan keterbukaan di seluruh lini kehidupan masyarakat.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.