Dark/Light Mode

Pancasila Dalam Detak Jantung Asta Cita Dan Geopolitik Indonesia

Kamis, 24 April 2025 07:32 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Asta Cita yang memuat ­peningkatan kualitas sumber ­daya manusia, reformasi biro­krasi, hingga hilirisasi industri harus menjadikan Pancasila sebagai roh utama dalam pelaksanaannya. Misalnya, hilirisasi industri tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, tetapi harus berlandaskan pada keadilan sosial dan kemandirian nasional sebagaimana termaktub dalam sila kelima. Penting juga dicermati bahwa Asta Cita menekankan pada pemerataan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. 

Pancasila sebagai ideologi inklusif menuntut negara ­untuk tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi memastikan seluruh rakyat merasakan manfaatnya. Dalam kerangka itu, pembangunan infrastruktur, ke­tahanan pangan, dan transformasi digital yang digalakkan pemerintah ke depan hendaknya tidak menciptakan kesen­jangan baru antarwilayah, antar­kelas ­sosial, atau antarbudaya. Panca­sila mengajarkan bahwa persatuan Indonesia harus diwujudkan dengan cara memberikan ­ruang hidup yang layak dan adil bagi setiap anak bangsa. Dengan demikian, Asta Cita tidak hanya menjadi alat untuk mengejar indikator makroekonomi, melainkan sebagai sarana konkret untuk memperkokoh persatuan nasional di tengah pluralitas bangsa. 

Relevansi ideologi Pancasila juga semakin mengemuka di tengah tantangan geopolitik kontemporer. Rivalitas kekuatan besar di kawasan Asia Pasifik menuntut Indonesia untuk ber­sikap cerdas dan berdaulat dalam menjaga kepentingan nasionalnya. Pancasila yang mengusung prinsip bebas aktif dalam politik luar negeri, memberikan fondasi kokoh bagi Indonesia untuk tetap menjadi poros tengah, penyeimbang, sekaligus inisiator perdamaian. 

Baca juga : Meneguhkan Asta Cita: Jalan Reformasi Menuju Manajemen Pemerintahan Yang Bersih Dan Berwibawa

Sementara itu visi Asta Cita yang mencantumkan penguatan pertahanan negara dan peran aktif Indonesia di dunia internasional, sangat sejalan ­dengan misi luhur Pancasila untuk menciptakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dalam dunia yang makin terpolarisasi, Indonesia dapat menunjukkan bahwa keberanian moral dalam berdiplomasi, dan ketegasan dalam menjaga kedaulatan, merupakan manifestasi konkret dari nilai-nilai Pancasila. 

Dari itu penguatan ideo­logi Pancasila dalam Asta Cita harus dilandasi oleh ketela­danan kepemimpinan nasional. Integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam tata kelola pemerintahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai Pancasila, khususnya dalam mewujudkan keadilan sosial dan supremasi hukum. Dalam situasi di mana kepercayaan publik terhadap institusi negara masih fluktuatif, konsistensi pemerintah dalam menjadikan Pancasila sebagai ruh kebijakan akan sangat menentukan keberhasilan reformasi struktural yang tengah dirintis. 

Perkokohan ideologi Panca­sila dalam implementasi Asta Cita juga harus melibatkan semua elemen bangsa, dari legislatif, yudikatif, militer, akademisi, hingga masyarakat sipil. Pendekatan partisipatif yang menempatkan rakyat se­bagai subjek pembangunan adalah ciri khas Pancasila yang membedakannya dari ideologi lain. Dalam kerangka besar sejarah bangsa, Pancasila adalah warisan sekaligus komitmen yang terus diuji oleh zaman. Ia telah berhasil membimbing Indonesia melewati berbagai badai sejarah—mulai dari kolonialisme, pergolakan ideologi, hingga krisis multidimensional.

Baca juga : Pertemuan Prabowo Dan Megawati:Fondasi Persatuan Bangsa Di Tengah Geopolitik Global

Oleh karena itu, memperkokoh ideologi Pancasila dalam Asta Cita adalah tugas yang tidak bisa ditunda. Ia adalah kerja bersama, kerja kebudayaan, kerja sejarah, dan kerja kerak­yatan. Pemerintahan ke depan memiliki peluang emas untuk tidak hanya mewarisi kekuasaan, tetapi untuk mentransformasikan kekuasaan menjadi pengabdian yang mencerminkan keadilan, kemanusiaan, dan persatuan.

Jika Asta Cita dijalankan ­dengan semangat Pancasila, maka bukan hanya cita-cita pembangunan yang akan terwujud, tetapi juga harapan kolektif bangsa Indonesia untuk hidup dalam masyarakat yang ber­adab, sejahtera, dan berdaulat. Di ­tengah dunia yang berubah cepat, hanya bangsa yang teguh pada nilai yang akan bertahan dan memimpin. Dan nilai itu, bagi Indonesia, tak lain dan tak bukan adalah Pancasila. 

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah Gubernur ­Lemhannas RI (2001-2005) dan ­Direktur Jenderal Sosial Politik ­Depdagri RI ­(1998-2000). Kini menjabat Ketua ­Dewan Pembina Center for ­Geopolitics & Geostrategy Studies Indonesia (CGSI).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.