Dark/Light Mode

Haji, Napak Tilas Drama Kosmos (16)

Transformasi Wujud Spiritual Manusia (Bagian 2)

Senin, 2 Juni 2025 05:30 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Transformasi spiritual manusia sering diistilahkan dalam Al-Qur’an dengan kata: Sair, safar, suluk, siyah dan subul. Istilah-istilah tersebut terkadang digunakan di dalam konteks perjalanan spiritual manusia sebagai manifestasi Insan Kamil, yang biasa disebut: Madhhar al-Ijma’, Nur Muhammad, Nufus al-Rahman, Jauhar dan istilah yang agak kurang pas 'Aql al-Awwal. Namun istilah-istilah tersebut juga sering digunakan dalam konteks anak manusia (Adam) dan “keadaman” (Adamiyyah). Istilah-istilah tersebut juga sering digunakan dalam konteks perjalanan makrokosmos (al-‘alam al-kabir) dan mikrokosmos (al-‘alam al-shagir).

Baca juga : Transformasi Wujud Spiritual Manusia (Bagian 1)

Perjalanan manusia mengikuti proses kehadiran lima eksistensi (al-Hadharat al-Khamsah), yakni dari Ahadiyyah, Wahidiyyah, Alam Jabarut, Alam Malakut dan Alam Syahadah (tentang al-Hadharat al-Khamsah sudah dibahas dalam artikel terdahulu di dalam kolom ini). Secara sederhana, perjalanan Insan Kamil bisa digambarkan semula berasal dari wujud batin kemudian melakukan perjalanan spiritual menjadi wujud dhahir (al-sair min al-bathin ila al-dhahir). Gambaran lain bisa juga disebut dari wujud kebersatuan ke wujud keteruraian (min al-ijmal ila al-tafshil), karena semakin ke atas semakin menyatu (qur’an) dan semakin ke bawah semakin terpisah-pisah (furqan), sehingga dengan demikian bisa juga disebut min al-qur’an ila al-furqan.

Baca juga : Peristiwa Tanazul dan Taraqqi

Proses ini disebut dengan al-qaus al-nuzul, yang biasa disebut tanazul (membumi); karena itu maqam ini disebut maqam nuzul atau kalangan arifin menyebutnya maqam al-khalq. Maqam ini di dalamnya berlaku ketentuan dhahir (al-hukumah al-dhahiriyyah). Ketika menjadi wujud dhahir, maka pada saat itu ia memanifestasikan nama kemahapengasihan Tuhan (Ism al-Rahmaniyyah). Disebut demikian karena keseluruhan makhluk dalam wujud ini mendapatkan rahmat rahmaniyyah-Nya.

Baca juga : Titik Balik Perjalanan Spiritual Manusia

Setelah bermanifestasi sebagai wujud dhahir ia lalu kembali melakukan perjalanan spiritual dari wujud dhahir ke wujud batin (al-sair min al-adhahir ila al-bathin). Gambaran lain bisa juga disebut dari wujud keteruraian ke wujud kebersatuan (min al-tafshil ila al-ijmal), karena semakin ke atas semakin menyatu (qur’an) dan semakin ke bawah semakin terpisah-pisah (furqan), sehingga dengan demikian bisa juga disebut min al-furqan ila al-qur’an.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.