Dark/Light Mode
Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (14)
Menegakkan Sikap Keterbukaan Akademik
Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Kesediaan menerima kebenaran dari orang lain adalah sikap dasar seorang ilmuwan sejati. Sikap ini dicontohkan para ilmuwan Muslim di abad pertengahan yang juga disebut The Goden Age.
Sebagai contoh, Al-Kindi, seorang filosof Arab-Muslim di abad pertengahan mengatakan: “Tidak ada yang lebih dicintai oleh para pencinta kebenaran daripada kebenaran itu sendiri, dari mana pun datangnya, dari siapa pun asalnya, dari bentuk apa pun adanya, bahkan dia bersedia mengabdi kepada kebenaran itu dengan mengerahkan segenap jiwa raganya”.
Baca juga : Menegakkan Kejujuran Akademik
Sejalan dengan pernyataan Al-Kindi, Nabi Muhammad Saw sudah pernah mengingatkan: “carilah ilmu pengetahuan itu walau sampai di tanah Cina”. Hadis lain: “Hikmah itu ada di mana-mana, ambillah karena itu milik umat Islam yang tercecer”.
Al-Qur’an sendiri memerintahkan hambanya melakukan perjalanan keilmuwan untuk memperoleh kearifan guna menjalani hidup dengan benar, tenang, dan bahagia: “Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (QS Ali ‘Imran/ 3:137).
Baca juga : Belajar Pendekatan Praktis Dari Nabi: Ilmu Medis
Ayat ini menunjukkan betapa perlunya umat manusia bersifat terbuka menerima kebenaran, tanpa menutup diri dari sumber-sumber kebenaran lain yang bersumber dari seorang atau komunitas Muslim.
Keilmuwan Islam bukan berdiri sendiri tanpa membuka diri dari orang-orang lain, termasuk ilmuwan non-Muslim. Frans Rosenthal memuji etos kerja Muslim yang terbuka, termasuk memberikan pengakuan orang lain, non-Muslim, sebagai sumber kebenaran. Para ilmuwan Muslim di abad pertengahan melakukan pengembaraan ke berbagai negara, seperti India, Yunani, dan sumber-sumber peradaban yang sudah mapan saat itu. Para ilmuwan Muslim jarang sekali wafat di tempat kelahirannya, tetapi wafat di medan penelitian atau di tempat pengabdian keilmuwan. Keluhuran dan keterbukaan ilmuwan Muslim lebih terasa dari karya-karya mereka yang memngapresiasi ilmuwan Yunani dan India.
Baca juga : Pengalaman Dari Irano-Semit dan Afro-Erasia
Termasuk para ilmuwan Islam yang datang ke Indonesia, banyak sekali di antaranya dari Timur Tengah, Asia Barat dan Selatan. Para Wali Songo dan para guru-guru mereka menghabiskan umurnya, hijrah secara fisik ke Indoensia. Tidak satu pun di antara mereka kembali ke negerinya, karena mereka sadar akan tanggung jawab dakwah dan keimuan yang diembannya. Bahkan para rombongan dari negeri asal tidak wafat di sebuah tempat atau disebuah pulau yang sama melainkan bertebaran, tidak bergerombol di suatu tempat. Para Wali Songo berjuang secara terpisah dan tempat wafatnya pun berbeda-beda satu sama lain.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.