Dark/Light Mode

Gejolak Geopolitik Amerika Dan Jalan Stabilitas Menuju Indonesia Raya

Senin, 6 Oktober 2025 07:32 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Geopolitik AS juga mem­perlihatkan bahwa dunia memasuki era multipolar. Hegemoni tunggal digugat, kekuatan baru bangkit, dan aliansi lama retak. Bagi Indonesia, ini bukan semata ancaman, tetapi peluang. Sebagai negara strategis di Indo-Pasifik, Indonesia dapat tampil sebagai penyeimbang, jembatan, bahkan pusat gravitasi baru. ­Namun untuk itu, stabilitas dalam ­negeri adalah syarat ­mutlak. Tak ada negara yang bisa memainkan peran global bila rumahnya sendiri rapuh.

Menuju Indonesia Raya ­berarti membangun kedaulatan yang kokoh, tidak tunduk pada tekanan geopolitik mana pun, tetapi juga tidak mengi­solasi diri. Kita harus menapaki diplomasi yang luwes, men­jaga hubungan dengan semua ­ke­kuatan besar, sembari selalu menempatkan kepentingan nasional sebagai ­kompas utama. Presiden ­Prabowo Subianto menekankan politik luar negeri yang bebas aktif serta pertahanan nasional yang kuat, agar Indonesia tidak mudah dipengaruhi tekanan eksternal.

Baca juga : Gaung Soekarno Dan Prabowo Di PBB: Seruan Kemanusiaan Dan Perdamaian

Ada nilai inti yang tak boleh terlupakan: kemandirian. Gejolak geopolitik AS mengingatkan bahwa bangsa yang hanya menggantungkan diri pada kekuatan luar akan senantiasa rapuh. Indonesia harus berani membangun kemandirian ekonomi, memperkuat pertahanan, dan meneguhkan identitas kebangsaan. Kemandirian bukanlah penutupan diri, melainkan kemampuan untuk berdiri tegak di tengah pergaulan dunia tanpa kehilangan jati diri.

Jalan menuju Indonesia Raya adalah jalan panjang penuh gelombang. Gejolak geopolitik AS hanyalah salah satu badai di antara banyak badai yang akan datang. Namun, bila bangsa ini mampu menjaga stabilitas domestik, memperkuat persatuan, dan menegakkan kemandirian, maka setiap badai akan menjadi ujian yang memperkokoh, bukan menghancurkan.

Baca juga : Pemerintahan Dalam Pembangunan Asta Cita Pusat Dan Daerah Untuk Indonesia Raya

Pelajaran terbesar yang ­bisa ditarik ialah ini: stabilitas domestik adalah benteng ter­akhir sekaligus landasan awal. ­Tanpanya, cita-cita Indonesia Raya hanyalah fatamorgana. Dengannya, segala badai global bisa dihadapi. AS, ­dengan segala keperkasaannya, tetap rapuh di hadapan gejolak geopolitik. Indonesia, dengan ­segala ­keterbatasannya, justru bisa menemukan kekuatan bila mampu menjaga harmoni dalam negeri.

Seperti kapal yang berlayar di samudra luas, kita memang tak bisa mengendalikan arah angin, tetapi bisa menata layar. Gejolak geopolitik AS adalah angin kencang: bisa menghantam, bisa pula mendorong kita lebih cepat ke tujuan. Semua bergantung pada kebijaksanaan menata layar, menjaga keseimbangan, dan berpegang teguh pada kompas kebangsaan. Kompas itu bernama Pancasila, yang ­mengarahkan kita bukan hanya pada stabilitas, tetapi pada ­kejayaan: sebuah Indonesia Raya.

Baca juga : Manajemen Pemerintahan Pusat Dan Daerah Dalam Mewujudkan Asta Cita

Prof. Dr. Ermaya ­Suradinata, SH, MH, MS, adalah DIRJEN SOSPOL ­DEPDAGRI RI ­1999-2001 DAN GUBERNUR ­LEMHANNAS RI 2001-2005.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.