Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Gejolak Geopolitik Amerika Dan Jalan Stabilitas Menuju Indonesia Raya
Senin, 6 Oktober 2025 07:32 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Geopolitik AS juga memperlihatkan bahwa dunia memasuki era multipolar. Hegemoni tunggal digugat, kekuatan baru bangkit, dan aliansi lama retak. Bagi Indonesia, ini bukan semata ancaman, tetapi peluang. Sebagai negara strategis di Indo-Pasifik, Indonesia dapat tampil sebagai penyeimbang, jembatan, bahkan pusat gravitasi baru. Namun untuk itu, stabilitas dalam negeri adalah syarat mutlak. Tak ada negara yang bisa memainkan peran global bila rumahnya sendiri rapuh.
Menuju Indonesia Raya berarti membangun kedaulatan yang kokoh, tidak tunduk pada tekanan geopolitik mana pun, tetapi juga tidak mengisolasi diri. Kita harus menapaki diplomasi yang luwes, menjaga hubungan dengan semua kekuatan besar, sembari selalu menempatkan kepentingan nasional sebagai kompas utama. Presiden Prabowo Subianto menekankan politik luar negeri yang bebas aktif serta pertahanan nasional yang kuat, agar Indonesia tidak mudah dipengaruhi tekanan eksternal.
Baca juga : Gaung Soekarno Dan Prabowo Di PBB: Seruan Kemanusiaan Dan Perdamaian
Ada nilai inti yang tak boleh terlupakan: kemandirian. Gejolak geopolitik AS mengingatkan bahwa bangsa yang hanya menggantungkan diri pada kekuatan luar akan senantiasa rapuh. Indonesia harus berani membangun kemandirian ekonomi, memperkuat pertahanan, dan meneguhkan identitas kebangsaan. Kemandirian bukanlah penutupan diri, melainkan kemampuan untuk berdiri tegak di tengah pergaulan dunia tanpa kehilangan jati diri.
Jalan menuju Indonesia Raya adalah jalan panjang penuh gelombang. Gejolak geopolitik AS hanyalah salah satu badai di antara banyak badai yang akan datang. Namun, bila bangsa ini mampu menjaga stabilitas domestik, memperkuat persatuan, dan menegakkan kemandirian, maka setiap badai akan menjadi ujian yang memperkokoh, bukan menghancurkan.
Baca juga : Pemerintahan Dalam Pembangunan Asta Cita Pusat Dan Daerah Untuk Indonesia Raya
Pelajaran terbesar yang bisa ditarik ialah ini: stabilitas domestik adalah benteng terakhir sekaligus landasan awal. Tanpanya, cita-cita Indonesia Raya hanyalah fatamorgana. Dengannya, segala badai global bisa dihadapi. AS, dengan segala keperkasaannya, tetap rapuh di hadapan gejolak geopolitik. Indonesia, dengan segala keterbatasannya, justru bisa menemukan kekuatan bila mampu menjaga harmoni dalam negeri.
Seperti kapal yang berlayar di samudra luas, kita memang tak bisa mengendalikan arah angin, tetapi bisa menata layar. Gejolak geopolitik AS adalah angin kencang: bisa menghantam, bisa pula mendorong kita lebih cepat ke tujuan. Semua bergantung pada kebijaksanaan menata layar, menjaga keseimbangan, dan berpegang teguh pada kompas kebangsaan. Kompas itu bernama Pancasila, yang mengarahkan kita bukan hanya pada stabilitas, tetapi pada kejayaan: sebuah Indonesia Raya.
Baca juga : Manajemen Pemerintahan Pusat Dan Daerah Dalam Mewujudkan Asta Cita
Prof. Dr. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah DIRJEN SOSPOL DEPDAGRI RI 1999-2001 DAN GUBERNUR LEMHANNAS RI 2001-2005.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya