Dark/Light Mode

Data Terbaru: Satu Orang Meninggal Akibat Virus Nipah

Minggu, 8 Februari 2026 06:44 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Dalam beberapa ­minggu terakhir, dunia menjadi ­waspada dengan adanya dua kasus akibat virus Nipah di West Bengal, India. Keduanya merupakan petugas kesehatan. Satu kasus dilaporkan membaik, sementara kabar terakhir menyebutkan satu kasus lainnya masih dalam kondisi kritis.

Saat dunia—dan kita—terus memantau dengan waspada kasus di India, muncul kabar mengejutkan. Pada 6 Februari 2026, WHO mengeluarkan laporan resmi dalam Disease Outbreak News (DONs) yang melaporkan kematian pasien pertama akibat virus Nipah pada tahun 2026. Kematian ini tidak terjadi di India yang sedang diawasi, melainkan di Bangladesh. Hal ini menunjukkan bahwa dunia memang perlu waspada terhadap penyakit ini, termasuk kita di Indonesia.

Setidaknya ada tujuh hal penting terkait kasus kematian di Bangladesh yang perlu kita cermati.

Pertama, WHO menerima laporan kematian ini secara resmi dari National Focal Point–International Health Regulation (IHR-NFP) Bang­la­desh pada 3 Februari 2026. Setiap negara memiliki IHR-NFP, dan saya pernah menjadi IHR-NFP Indonesia pada 2009 hingga 2014.

Baca juga : Nipah Pada Kelelawar Di Indonesia

Kedua, kasus ini telah terkonfirmasi sebagai infeksi virus Nipah (NiV infection) berdasarkan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) di laboratorium setempat pada 29 Januari 2026. Ini kembali menunjukkan ­bahwa semua negara—termasuk Indo­nesia—harus siap dengan pemeriksaan canggih untuk deteksi virus Nipah.

Ketiga, pasien adalah seorang perempuan berusia ­antara 40–50 tahun yang ­tinggal di Distrik Naogaon, Divisi Rajshahi, wilayah timur laut Bangladesh.

Keempat, pasien mulai menga­lami gejala pada 21 Januari 2026 berupa demam, sakit kepala, kejang otot, hilangnya nafsu makan, badan lemah, muntah, lalu diikuti hipersalivasi, disorientasi, dan kejang.

Kelima, perkembangan penyakit berlanjut. Pada 27 ­Januari 2026 pasien menjadi tidak sadar dan kemudian dirujuk ke rumah sakit tertier. Pasien masuk rumah sakit pada 28 Januari 2026, dilakukan pengam­bilan sampel usap tenggorok dan darah, dan pasien meninggal pada hari yang sama saat sampel diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Baca juga : Infeksi Virus Nipah Di India Masuk DONs WHO

Keenam, pasien dilaporkan beberapa kali mengonsumsi jus manis kaya sukrosa yang diekstrak dari tangkai bunga atau batang pohon kurma—dalam bahasa Inggris disebut date palm sap—yang mentah dan tidak direbus. Ini memang merupakan salah satu cara penularan infeksi virus Nipah.

Ketujuh, Pemerintah Bang­ladesh melalui tim investigasi wabah (outbreak investigation team) segera melakukan investigasi terhadap 35 orang yang melakukan kontak dengan pasien, terdiri atas 3 kontak rumah tangga, 14 kontak di masyarakat, dan 18 petugas kesehatan yang pernah me­nangani pasien.

Dari 35 orang tersebut, terdapat 6 orang dengan gejala tertentu, yakni 3 kontak rumah tangga, 2 kontak di masyarakat, dan 1 petugas kesehatan. Seluruhnya telah diperiksa secara mendalam melalui PCR dan deteksi antibodi anti-Nipah IgM dengan ELISA, dan semua hasilnya negatif.

Situasi ini menegaskan ­bahwa setiap negara memerlukan setidaknya tiga tim yang kuat: pertama, tim investigasi wabah yang andal dan cepat bekerja di lapangan; kedua, tim klinik dan rumah sakit yang menangani pasien; dan ketiga, tim laboratorium dengan presisi terjamin. Ketiganya harus didukung sarana dan prasarana yang memadai.

Baca juga : Peningkatan Pemakaian Gas Tertawa (N₂O) Di Dunia

Sebagai catatan, Bangladesh pertama kali melaporkan kasus infeksi virus Nipah pada 2001. Sejak itu, hampir setiap tahun terdapat laporan kasus. Pada 2025 bahkan tercatat empat kasus terkonfirmasi di negara tersebut.

Dengan demikian, di awal 2026 ini, kasus infeksi virus Nipah sudah muncul di India dan Bangladesh. Dunia—dan kita—tentu harus tetap waspada.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI;
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.