Dark/Light Mode

Sosiologi Korupsi (34)

Kasus Pengecualian Dalam Kisah Nabi Ibrahim AS

Jumat, 13 Februari 2026 06:19 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

 Sebelumnya 
Penyembelihan Nabi Ibrahim terhadap anaknya tidak boleh dijadikan dasar atau alat pembenaran bagi seorang ayah untuk menyiksa atau menyakiti anak kandungnya.

Semangat yang dapat dipetik dari transisi kurban manusia (human sacrifice) menjadi kurban binatang (animal sacrifice) adalah sebuah pesan moral: setiap orang pasti memiliki sesuatu yang paling ia cintai.

Baca juga : Kasus Pengecualian

Pertanyaannya, bersediakah ia mengorbankan objek kecintaannya itu demi Tuhan? Dalam keyakinan agama-agama Abrahamik (Abrahamic Religions), penyembahan dan pengabdian kepada Tuhan harus di atas segalanya. Objek yang paling dicintai Nabi Ibrahim saat itu adalah putra tunggalnya.

Bagi kita di masa kini, objek kecintaan itu mungkin bukan lagi anak, melainkan jabatan, harta, kekuasaan, atau properti lainnya. Relakah kita mengorbankan hal-hal tersebut demi kecintaan kita kepada Tuhan?

Baca juga : Cara Malaikat Memutuskan Perkara

Kasus penyembelihan ini juga tidak bisa dijadikan alasan untuk mendiskreditkan agama tertentu. Sebab, tujuan utamanya bukanlah penghilangan nyawa anak, melainkan manifestasi dari bentuk komitmen puncak seorang hamba terhadap Tuhannya.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 1 & 6, edisi Jumat, 13 Februari 2026 dengan judul "Sosiologi Korupsi (34) Kasus Pengecualian Dalam Kisah Nabi Ibrahim AS"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.