Dark/Light Mode

In Memoriam Try Sutrisno: Membumikan Pancasila Di Tengah Badai Geopolitik Dunia

Rabu, 4 Maret 2026 06:50 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kembali ke­hilangan salah satu putra ­ter­baiknya. Try Sutrisno wafat pada Senin, 2 Maret 2026, pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 90 tahun. Kepergian Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia ini menghadirkan duka yang dalam, tetapi lebih dari itu, ia mengundang refleksi tentang fondasi ke­bangsaan yang selama ini ia jaga dengan penuh konsistensi: ­Pancasila, yang merupakan ideologi sebagai dasar negara yang digali dari bumi Indonesia oleh Presiden pertama RI Ir. Seokarno.

Semasa hidupnya, saya ber­sama beliau terasa ­singkat di Badan Pembinaan Ideologi Panca­sila (BPIP). Jen­deral TNI (Purn) Try Sutrisno ­sebagai Wakil Ketua Dewan Penga­rah BPIP, yang dipimpin Ketua ­Dewan Pengarah BPIP adalah Ibu Prof. DR.(H.C) Hj. ­Megawati Soekarnoputri yang juga Wakil Presiden Indonesia ke-8 dan Presiden Indonesia ke-5. Dan dibantu beberapa anggota Dewan Pengarah, serta Kepala BPIP yang dipimpin oleh Prof. Drs. KH. Yudian Wahyudi, dan di­bantu beberapa unsur pimpinan. Penguatan untuk memperkokoh ideologi Panca­sila, demokrasi, dan HAM yang dijadikan ­pedoman dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam Kabinet Merah Putih.

Baca juga : Menlu Sugiono Minta Perwakilan RI Timur Tengah Prioritaskan Pelindungan WNI

Dalam lanskap global yang kian tidak menentu—ditandai ­rivalitas kekuatan besar, ­fragmentasi ekonomi, konflik kawasan, hingga perang ­narasi di ruang digital—komitmen membumikan Pancasila ­justru ­menemukan urgensinya. Dan pada titik inilah warisan moral Try Sutrisno menjadi relevan ­untuk direnungkan kembali. Bersamaan pula di mana ke­kuatan negara harus berakar pada ideologi yang kokoh. ­Stabilitas nasional bukan ­hanya soal pertahanan fisik atau ­ketertiban politik, melainkan juga ketahanan ideologis.

Dalam sepanjang fase ­pengabdian Try Sutrisno terha­dap ­bangsa dan negera, komitmen tersebut semakin ­menemukan ­ruang artikulasi­nya melalui Badan Pembinaan ­Ideologi Panca­sila (BPIP). Sebagai Wakil Ketua Dewan ­Pengarah BPIP, Try Sutrisno dikenal ­sangat disiplin dan berintegritas dalam mendorong pem­bumian Panca­sila. Ia tidak melihat Panca­sila sebagai dokumen ­arsip sejarah, melainkan sebagai ideologi ­hidup yang harus terus di­terjemahkan dalam kebijakan ­publik, tata kelola pemerintahan, hingga perilaku warga negara.

Baca juga : Panggah: Pancasila & Politik Bebas Aktif Fondasi Indonesia Hadapi Geopolitik

Di tengah menguatnya polarisasi global —antara libe­ralisme pasar yang ekstrem, nasio­nalisme sempit, dan radikalisme berbasis identitas—Try Sutrisno memandang Pancasila sebagai jalan tengah yang ­berakar pada pengalaman historis Indonesia sendiri. Tambahan pula di mana geopolitik global hari ini ­ber­gerak dalam pusaran ke­tidak­pastian yang nyaris tak ­menemukan jeda. Ketegangan antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel kembali memanaskan Timur Tengah, konflik Israel–Palestina belum juga menemukan titik damai yang berkeadilan, sementara perang Rusia–Ukraina terus meng­guncang stabilitas Eropa dan rantai pasok energi dunia.

Di Asia Selatan, gesekan ­Pakistan–Afganistan menyisa­kan persoalan keamanan kawasan, dan dinamika Thailand–Kamboja memperlihatkan betapa rapuhnya relasi antar­negara bila sentimen nasio­nalisme tak ter­kelola dengan bijak. Maka dalam lanskap seperti ini, dunia seakan kehilangan jangkar moral; relasi internasional bergerak dalam logika kekuatan dan kepen­tingan semata. Efek dominonya ­merambat ke ekonomi, pangan, energi, bahkan kepercayaan ­publik terhadap tata dunia yang adil.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.