Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
In Memoriam Try Sutrisno: Membumikan Pancasila Di Tengah Badai Geopolitik Dunia
Rabu, 4 Maret 2026 06:50 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Sebelumnya
Dalam konteks itulah pula warisan pemikiran Try Sutrisno menemukan relevansinya. Ia meyakini bahwa kompas moral dan strategis bangsa ini adalah Pancasila. Bagi Try, Pancasila bukan hanya simbol pemersatu internal, melainkan fondasi etis bagi cara Indonesia memandang dan merespons dunia. Ketika negara-negara lain terjebak dalam politik blok dan kalkulasi transaksional, Indonesia dituntut tetap berdiri pada prinsip kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian yang berkelanjutan.
Pancasila, jika dibaca secara mendalam, sesungguhnya menawarkan horizon etik yang melampaui batas teritorial Indonesia. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan penghormatan terhadap martabat spiritual manusia tanpa memaksakan hegemoninya; sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menolak kekerasan dan penjajahan dalam bentuk apa pun; sila Persatuan Indonesia mengajarkan bahwa identitas kolektif dapat dibangun tanpa meniadakan keberagaman; sila Kerakyatan menegaskan pentingnya musyawarah di atas dominasi; dan sila Keadilan Sosial menuntut distribusi kesejahteraan yang tidak timpang.
Baca juga : Menlu Sugiono Minta Perwakilan RI Timur Tengah Prioritaskan Pelindungan WNI
Nilai-nilai ini, jika dikontekstualisasikan dalam tata dunia, dapat menjadi tawaran ideologis alternatif di tengah kegagalan ekstremisme, liberalisme yang tak terkendali, maupun nasionalisme sempit. Pancasila tidak lahir dari ambisi hegemonik, melainkan dari pengalaman historis bangsa yang majemuk—dan justru karena itu ia berpotensi menjadi inspirasi global. Maka agar Pancasila memiliki resonansi dunia, ia harus terlebih dahulu kokoh di rumahnya sendiri. Pembumian Pancasila yang diperjuangkan Try memiliki dimensi domestik yang tak terpisahkan dari peran global Indonesia.
Ketahanan nasional di era globalisasi tidak cukup dibangun melalui pertumbuhan ekonomi, tetapi melalui kohesi sosial dan kepercayaan publik terhadap negara. Polarisasi politik, disinformasi digital, dan politik identitas dapat menjadi celah yang melemahkan daya tawar Indonesia di panggung internasional. Karena itu, penguatan internalisasi nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan, reformasi birokrasi, dan keteladanan elite menjadi prasyarat mutlak.
Baca juga : Panggah: Pancasila & Politik Bebas Aktif Fondasi Indonesia Hadapi Geopolitik
Di tengah perang yang belum usai dan ketegangan yang terus berulang, dunia membutuhkan lebih dari sekadar keseimbangan kekuatan; ia membutuhkan keseimbangan nilai. Indonesia mungkin bukan kekuatan militer raksasa, tetapi ia memiliki kekuatan ideologis yang khas. Dalam dunia yang cenderung transaksional dan terpolarisasi, konsistensi pada Pancasila dapat menjadi kontribusi Indonesia bagi peradaban: menghadirkan jalan tengah, merawat kemanusiaan, dan menegaskan bahwa perdamaian sejati lahir dari keadilan.
Badai geopolitik global yang belum menunjukkan tanda-tanda reda, Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin dan warga negara yang menjadikan Pancasila sebagai laku hidup, bukan sekadar retorika seremonial. “In Memoriam Try Sutrisno” bukan hanya catatan duka, tetapi juga seruan agar kita tidak kehilangan arah.
Baca juga : Hadiri Pemakaman Try Sutrisno, Prabowo: Semoga Jadi Suri Teladan
Pancasila tetap kita jaga dan bumikan secara konsisten, maka Indonesia akan mampu menciptakan stabilitas politik, moneter, dan tata kelola fiskal menjadi kemandirian bangsa berdiri tegak, tidak hanya sebagai negara yang bertahan, tetapi sebagai bangsa yang memberi makna dalam Percaturan Geopolitik Dunia.
Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati Geopolitik, dan Geostrategi, serta Manajemen Pemerintahan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya