Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Puasa Dan Karakter Pancasila Di Tengah Ketahanan Geopolitik Indonesia
Senin, 2 Maret 2026 07:14 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam lanskap global yang ditandai oleh eskalasi rivalitas dan konflik terbuka, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanaskan kawasan Teluk, sementara dinamika strategis antara Tiongkok dan Jepang memperlihatkan kompetisi militer dan teknologi yang kian intens di Asia Timur. Di Eropa, perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina terus mengguncang stabilitas energi dan pangan global.
Kawasan Timur Tengah tetap berada dalam pusaran konflik akibat perang antara Israel dan Palestina yang memicu ketegangan regional lebih luas. Bahkan di Asia Tenggara, benturan bersenjata antara Thailand dan Kamboja di wilayah perbatasan menunjukkan bahwa kawasan yang selama ini dianggap relatif damai pun tidak sepenuhnya imun dari konflik terbuka. Akumulasi krisis ini memperlihatkan dunia yang bergerak dalam ketidakpastian, di mana geopolitik didominasi oleh logika kekuatan, perlombaan senjata, dan fragmentasi ekonomi.
Baca juga : Geopolitik Dunia Berubah, Indonesia Harus Prioritaskan UU Pembumian Ideologi Pancasila
Di tengah pusaran tersebut, Indonesia justru menampilkan stabilitas yang relatif kokoh, yang tidak hanya bertumpu pada politik luar negeri bebas aktif, tetapi juga pada fondasi sosial-budaya yang membentuk karakter bangsa. Ramadan, dalam konteks ini, dapat dibaca sebagai instrumen kultural yang memperkuat etika publik, kohesi sosial, dan disiplin kolektif —tiga elemen yang menopang ketahanan nasional.
Dengan begitu puasa melatih integritas dalam ruang batin, sebuah kualitas yang menjadi modal utama bagi tata kelola negara yang bersih dan kredibel. Di tengah kompetisi geopolitik yang sering diwarnai praktik kekuasaan koersif dan manipulasi informasi, integritas menjadi aset strategis. Negara yang memiliki aparatur dan masyarakat berkarakter jujur akan lebih tahan terhadap infiltrasi kepentingan asing, korupsi transnasional, dan disinformasi global. Dengan demikian, dimensi Ketuhanan dalam puasa bertransformasi menjadi kekuatan etis yang menopang kedaulatan nasional.
Baca juga : Peran Geopolitik Dalam Mencairkan Kebekuan Birokrasi Negara
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab yang tumbuh melalui pengalaman menahan lapar juga memiliki implikasi geopolitik. Empati sosial yang terbangun melalui zakat, sedekah, dan solidaritas kolektif memperkuat kohesi domestik. Kohesi sosial merupakan prasyarat bagi stabilitas politik, dan stabilitas politik adalah prasyarat bagi kredibilitas internasional. Dunia memandang Indonesia sebagai negara yang mampu mengelola keberagaman tanpa terjerumus dalam konflik berkepanjangan.
Adapun Persatuan Indonesia yang diperkuat oleh praktik sosial Ramadan, juga memiliki dimensi strategis dalam geopolitik. Di tengah meningkatnya politik identitas global, kemampuan Indonesia menjaga harmoni dalam keberagaman menjadi keunggulan komparatif. Tradisi buka puasa bersama lintas kelompok, penghormatan terhadap pluralitas, serta budaya gotong royong menunjukkan bahwa identitas keagamaan tidak menjadi sumber fragmentasi, melainkan energi integratif. Persatuan yang berbasis kesadaran moral ini menciptakan stabilitas domestik yang menjadi fondasi bagi konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia.
Baca juga : Lemhannas RI, Wawasan Nusantara, Dan Asta Cita Dalam Kepemimpinan Nasional
Dalam dimensi kerakyatan, puasa melatih pengendalian diri, kesabaran, dan kemampuan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Demokrasi yang ditopang oleh warga yang matang secara emosional, akan lebih tahan terhadap polarisasi dan intervensi eksternal. Dalam konteks geopolitik, ketahanan demokrasi domestik memperkuat posisi Indonesia sebagai model demokrasi terbesar di dunia Muslim, sebuah identitas yang memberikan legitimasi moral dalam diplomasi global, termasuk dalam isu perdamaian, pembangunan, dan keadilan internasional.
Sila keadilan sosial menemukan relevansinya dalam gaya hidup bersahaja yang dilatih selama Ramadan. Pengendalian konsumsi dan kesadaran akan distribusi sumber daya mendorong ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Dalam konteks global yang diwarnai ketimpangan ekonomi dan krisis lingkungan, model pembangunan yang berkeadilan menjadi sumber soft power Indonesia. Dunia membutuhkan narasi alternatif terhadap kapitalisme eksesif, dan nilai kesederhanaan serta solidaritas sosial yang hidup dalam masyarakat Indonesia dapat menjadi kontribusi normatif bagi tata dunia yang lebih adil.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya