Dark/Light Mode

Geopolitik Indonesia: Gerakan Non Blok Bebas Aktif Untuk Menegakkan Perdamaian Dunia

Rabu, 25 Maret 2026 07:38 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Ketegangan serupa juga ­merambat ke berbagai kawasan lain, membentuk lanskap global yang sarat ketidakpastian. Di Asia Selatan, dinamika kea­manan antara Pakistan dan ­Afghanistan terus menyisakan bara konflik di wilayah perbatasan. Di Asia Tenggara, hu­bungan Thailand dan Kamboja kembali memanas akibat sengketa wilayah yang tak kunjung tuntas. Sementara itu di Asia Timur, rivalitas antara China dan Jepang semakin tajam, ditandai oleh kebijakan pembatasan ekonomi dan penguatan postur keamanan. Fragmentasi ini menunjukkan bahwa dunia tidak hanya sedang menghadapi konflik, tetapi juga krisis kepercayaan antarnegara.

Dalam pusaran ke­tegangan tersebut, spirit Konferensi Asia-Afrika 1955 menemukan ­relevansinya kembali. Nilai-nilai Bandung—solidaritas, kesetaraan, dan kemandirian—bukan sekadar warisan historis, melain­kan fondasi moral bagi tata dunia yang lebih adil. Indo­nesia, se­bagai tuan rumah lahirnya se­mangat tersebut, memikul ­tanggung jawab historis ­untuk menghidupkannya kembali dalam praktik diplomasi yang bebas dan aktif. Di tengah dunia yang terbelah oleh kepen­tingan dan rivalitas, spirit ­Bandung harus tampil ­sebagai jalan ­tengah: menjembatani perbedaan, me­rawat perdamaian, dan menegaskan bahwa kemerdekaan setiap bangsa hanya bermakna jika diiringi oleh komitmen kolektif terhadap keadilan global.

Baca juga : Gerindra Ingatkan Masyarakat, Lebaran Momentum Menjaga Persatuan

Menuju masa depan, geopolitik Indonesia akan sangat di­tentukan oleh kemampuan dalam mengintegrasikan ­pengalaman masa lalu dengan kebutuhan masa kini. Keterlibatan dalam BoP memberikan pelajaran ­bahwa perdamaian tidak dapat dicapai melalui dominasi, melainkan melalui dialog dan kerja sama. Indonesia harus ­mampu memanfaatkan posisi ini ­untuk menjadi aktor yang tidak hanya reaktif, tetapi juga pro­aktif dalam membentuk tatanan global yang lebih adil.

Tentulah pula ambisi geopolitik tersebut harus ditopang oleh kekuatan domestik yang kokoh. Ketahanan ekonomi, kemajuan teknologi, dan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor kunci dalam menentukan posisi Indonesia di tingkat global. Tanpa fondasi internal yang kuat, peran internasional hanya akan menjadi retorika tanpa daya dorong yang nyata. Oleh karena itu, pembangunan nasional harus dipandang sebagai bagian integral dari strategi geopolitik.

Baca juga : One Way dan Contraflow Efektif, Pemudik Rasakan Perjalanan Lebih Lancar

Maka jelaslah geopolitik Indo­nesia, adalah tentang menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas. Dari Bandung 1955, keterlibatan dalam BoP, hingga hubungan dengan kekuatan global seperti Amerika Serikat, Indonesia telah menunjukkan konsistensi dalam menempuh jalan bebas aktif. Jalan ini bukan sekadar kompromi, tetapi strategi yang memungkinkan Indonesia untuk tetap berdaulat sekaligus berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.

Dalam dunia yang terus berubah, prinsip ini menjadi kompas yang menuntun arah perjalanan Indonesia —sebuah perjalanan yang tidak hanya bertujuan untuk bertahan, tetapi juga untuk memimpin ­dengan martabat dan integritas di ­panggung global. Dengan tetap berpijakan pada soliditas dan stabilitas politik, serta kemandirian ekonomi Indonesia.

Baca juga : BlueBand Ajak Keluarga Indonesia Sebarkan Kebaikan di Bulan Ramadan

Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.