Dark/Light Mode

Konsorsium Ilmu Biomedis

Senin, 11 Mei 2026 07:54 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Ilmu biomedis merupakan salah satu ilmu pengetahuan dasar (basic science) yang amat penting. Laman University of Oxford, Inggris, menuliskan bahwa ilmu biomedis berfokus pada bagaimana sel, organ, dan sistem tubuh ­manusia bekerja. Bidang ini ­sangat relevan untuk memahami sekaligus mengobati ­berbagai penyakit pada manusia.

Sementara itu, laman ­Curtin University Australia menyebutkan bahwa ilmu biomedis merupakan titik temu ­antara pelayanan kesehatan dan ilmu pengetahuan. Bidang ini ­mempelajari tubuh ­manusia, meneliti penyebab dasar ­penyakit, serta mengem­bangkan pengobatan dan langkah pencegahan yang efektif.

Ilmu biomedis mengkaji fenomena makhluk hidup ­mulai tingkat molekul, sel, organ, hingga organisme utuh yang berkaitan dengan penyakit, cara pencegahan, pengo­batan, dan pemulihannya. Cakupannya pun sangat luas, mulai dari analisis sampel ­biologis, pengembangan strategi terapeutik seperti perawatan medis, obat-obatan, dan vaksin, baik di sektor swasta maupun pemerintahan, hingga penelitian penyakit manusia.

Bidang ilmu biomedis mencakup berbagai disiplin ilmu, seperti anatomi, fisiologi, ­farmakologi, genetika, imunologi, mikrobiologi, dan patologi. Dengan mempelajari berbagai aspek tubuh dan kesehatan manusia tersebut, ilmuwan biomedis dapat lebih memahami cara menjaga kesehatan sekaligus mengobati penyakit.

Baca juga : “Capping Day” dan Hari Perawat Internasional

Ilmu biomedis memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Pengetahuan yang dihasilkan dari penelitian biomedis telah melahirkan ber­bagai terobosan medis, termasuk pengembangan obat dan terapi baru, identifikasi faktor risiko penyakit, serta penciptaan perangkat medis dan alat diagnostik.

Perkembangan ilmu biomedis juga sangat penting dalam mendukung penguatan sistem kesehatan nasional berbasis riset dan inovasi.

Pendidikan sarjana, magister, dan doktor biomedis kini telah tersedia di berbagai universitas di Indonesia. Perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan memiliki tanggung jawab mengimplementasikan ­Tridharma Perguruan Tinggi secara optimal, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, termasuk dalam pengem­bangan ilmu biomedis.

Untuk mencapai hal ter­sebut, diperlukan sinergi dan kolaborasi kuat antar-­institusi pendidikan tinggi. Dalam konteks itu, Indonesia telah memiliki Konsorsium Ilmu Biomedis Indonesia (KIBI), sebuah wadah strategis yang menghimpun berbagai program studi dan pemangku kepentingan di bidang ilmu biomedis.

Baca juga : SIM Keliling Kabupaten Bogor Selasa 5 Mei, Hadir di Mall Cileungsi

Pada 2026 ini, KIBI genap berusia 10 tahun. Perayaan satu dekade tersebut mengu­sung tema: “Satu Dekade KIBI: Menguatkan Kolabo­rasi, ­Mengakselerasi Dampak ­Tridharma Ilmu Biomedis untuk Indonesia.

Dalam satu dekade per­jalanannya, KIBI kini ber­anggotakan 38 program studi jenjang S1, S2 (magister), dan S3 (doktor) dari 26 universitas negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Konsorsium ini telah berkontribusi dalam penguatan mutu pendidikan, harmonisasi kurikulum, serta pengembangan kolaborasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Salah satu agenda utama peringatan satu dekade tersebut adalah penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Ra­kernas) XVI KIBI di Universitas ­YARSI, Jakarta, pada 11-12 Mei 2026. Sekolah Pasca­sarjana YARSI menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ­pengabdian masyarakat langsung di lapangan pada 13 Mei 2026, dengan Universitas ­Islam Bandung (Unisba) ­sebagai tuan rumah.

Baca juga : Meninggalnya Para Dokter Internship Kita

Momentum satu dekade ini menjadi sangat penting bagi KIBI sebagai refleksi atas berbagai capaian sekaligus ­pijakan untuk memperkuat peran di masa mendatang. Semoga pengembangan ilmu biomedis di Indonesia dan semakin kuatnya peran Konsorsium Ilmu Biomedis Indonesia (KIBI) dapat memberikan ­kontribusi nyata bagi peningkatan derajat kesehatan bangsa.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta mantan Kepala Balitbangkes.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat,
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024-PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.