Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
RM.id Rakyat Merdeka - Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing akhirnya membuka satu kenyataan penting tentang arah dunia hari ini. Banyak yang menginginkan mereka membahas soal Iran, Selat Hormuz dan eskalasi militer di Timur Tengah. Tetapi kalau membaca keseluruhan gerakan politik dua negara besar ini, terlihat jelas bahwa agenda yang mereka bawa jauh lebih besar dibanding Tehran semata.
Trump datang ke China sambil membawa sejumlah pengusaha besar Amerika Serikat. Dari situ saja pesan sudah terbaca. Amerika sedang datang dengan kepentingan ekonomi yang serius. Dunia boleh sibuk melihat ancaman perang di Timur Tengah, tetapi Washington tetap berpikir tentang pasar, jalur dagang, industri, teknologi, dan posisi mereka di tengah tekanan global yang makin keras.
Amerika tahu China tidak lagi bisa dipandang sebagai negara biasa. Beijing hari ini sudah menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia yang pengaruhnya masuk sampai ke supply chain global, perdagangan internasional, bahkan skema pembiayaan utang Amerika sendiri. Dalam kondisi seperti ini, hubungan Washington dan Beijing berubah menjadi hubungan yang aneh. Tegang, tetapi saling membutuhkan.
Data kepemilikan China atas surat utang Amerika Serikat yang mendekati 700 miliar dolar memperlihatkan bagaimana dua negara ini sebenarnya sedang saling mengunci. Amerika menekan China lewat strategi keamanan dan tekanan geopolitik. China membalas dengan kekuatan ekonomi dan pengaruh dagang yang terus membesar. Tidak ada yang benar-benar lepas.
Baca juga : Mesra Di Beijing, Trump-Jinping Teman Tapi Rival
Karena itu terlalu dangkal kalau melihat pertemuan Trump dan Xi Jinping hanya dari sudut pandang Iran. Tehran memang penting. Selat Hormuz juga sangat sensitif karena menjadi salah satu jalur energi paling vital di dunia. Tetapi pembicaraan dua negara besar seperti Amerika dan China selalu bergerak di banyak lapisan sekaligus.
Iran ada di sana. Israel ada. Energi dunia masuk. Perdagangan masuk. Taiwan juga ikut masuk. Dan justru Taiwan terlihat menjadi titik yang paling sensitif bagi Beijing.
Xi Jinping bahkan sudah mengingatkan langsung bahwa kesalahan penanganan Taiwan bisa memicu bentrokan terbuka antara China dan Amerika Serikat. Ini peringatan keras. Sangat keras. Xi juga menegaskan bahwa perdamaian di Selat Taiwan tidak mungkin berjalan bersamaan dengan kemerdekaan Taiwan. Ia menyebutnya seperti air dan api.
Kalimat itu penting dibaca. Itu pesan geopolitik langsung dari Beijing kepada Washington. China ingin Amerika memahami bahwa Taiwan menyentuh inti kepentingan nasional mereka. Menyentuh kehormatan politik mereka. Menyentuh masa depan pengaruh China di Asia Pasifik.
Baca juga : PTFI & Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan Menuju Ekonomi Berkelanjutan
Sementara Amerika tetap bergerak dengan pola lama mereka. Washington ingin mempertahankan tekanan strategis terhadap China sambil menjaga dominasi di kawasan Asia. Penjualan senjata ke Taiwan yang nilainya mencapai miliaran dolar juga memperlihatkan bahwa Amerika tidak ingin kehilangan pijakan di sana.
Maka sebenarnya dunia sedang melihat dua kekuatan besar membaca langkah satu sama lain dengan sangat hati-hati. Salah hitung sedikit saja, dampaknya bisa melebar ke mana-mana.
Selat Hormuz hari ini bisa mengguncang harga minyak dunia hanya dalam hitungan jam. Keberadaan Taiwan bisa mengubah stabilitas Asia Pasifik dalam waktu yang sangat cepat. Amerika memahami itu. China juga memahami itu. Karena itulah dua negara ini tetap duduk bersama meskipun saling curiga dan saling menekan.
Ada hal lain yang menarik. Di tengah suasana dunia yang panas, Trump tetap datang ke Beijing. Itu menunjukkan bahwa komunikasi langsung antara dua negara besar masih dianggap jauh lebih penting dibanding membiarkan ketegangan bergerak liar tanpa kendali.
Baca juga : Kelimpungan Lawan Iran, Trump Minta Bantuan Jinping
Dunia sekarang sedang masuk ke fase yang berbeda. Amerika masih kuat. Tetapi dunia juga melihat China tumbuh dengan kecepatan yang membuat banyak negara mulai berhitung ulang soal arah masa depan global.
Indonesia harus membaca situasi ini dengan tenang. Politik luar negeri bebas aktif jangan hanya bagus di pidato. Dunia sedang bergerak cepat dan tekanan geopolitik makin dekat ke Asia Pasifik. Kalau persaingan Amerika dan China makin keras, dampaknya akan langsung terasa ke perdagangan, energi, jalur laut, sampai stabilitas kawasan sendiri.
Iran memang terus menjadi perhatian dunia. Tetapi di tengah perjumpaan Trump dan Xi Jinping, terlihat jelas bahwa pertarungan sebenarnya jauh lebih besar dibanding Tehran. Yang sedang dipertaruhkan sekarang adalah arah keseimbangan kekuatan dunia pada abad ini.
Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si
Ketua Bidang Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
DPP Partai Golkar Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan
Visiting Professor Tomsk State University (TSU) Siberia Rusia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya