Dark/Light Mode

Dampak Kesehatan Kebakaran TPA Jatiwaringin

Senin, 6 Juli 2026 08:05 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Media massa ramai memberitakan kebakaran besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, yang terjadi sejak 30 Juni 2026. Kebakaran tersebut diberitakan meng­hanguskan sedikitnya 15 hektare area timbunan sampah.

Laman Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), 2 Juli 2026, menulis bahwa TPA Jatiwaringin menerima sekitar 1.366 hingga 2.700 ton sampah per hari, atau setara dengan 498.590 hingga 985.500 ton per tahun.

Di televisi kita melihat para pejabat turun langsung ke lapangan dengan mengguna­kan alat pelindung pernapasan khusus karena polusi udara yang ditimbulkan berpotensi mengganggu sistem perna­pasan dan kesehatan. Laporan media massa juga menunjukkan bahwa gangguan kese­hatan telah terjadi dalam bentuk ­peningkatan kasus ­Infeksi ­Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada warga sekitar.

Jika diamati lebih saksama, gangguan paru dan pernapasan akibat kebakaran berskala luas seperti ini bukan tidak mungkin tidak hanya ­berupa ISPA. Berbagai keluhan, ­seperti batuk dan sesak napas akibat perburukan penyakit paru obstruktif, misalnya asma bronkial atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK), maupun gangguan lainnya juga dapat terjadi.

Baca juga : Pasca Tuberkulosis Dan Rokok Tersier

Mengingat tim kesehatan telah diterjunkan ke lapangan, akan lebih baik jika dilaporkan pula pola penyakit paru dan gangguan pernapasan yang terjadi pada masyarakat terdampak asap kebakaran TPA Jatiwaringin, termasuk berba­gai masalah kesehatan lain di luar sistem pernapasan beserta penanganannya.

Sebagai referensi, pada 2023 jurnal ilmiah Sustainability menerbitkan artikel berjudul A Comprehensive Study of the Impact of Waste Fires on the Environment and Health, yang dapat menjadi salah satu rujukan penting dalam ­penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran TPA.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa kebakaran berbagai jenis sampah dalam skala luas dapat menghasilkan sedikitnya delapan jenis gas pencemar udara, yaitu amonia (NH₃), karbon dioksida (CO₂), karbon monoksida (CO), hidrogen sulfida (H₂S), metana (CH₄), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), serta berbagai senyawa lainnya.

Selain itu, di udara juga akan terdapat Particulate Matter (PM) dalam berbagai ukuran, seperti PM10, PM5, dan PM2,5, yang berukuran sangat kecil sehingga dapat mencapai ­saluran napas paling halus hingga alveolus. Disebutkan pula bahwa kebakaran biomassa dan sampah dapat melepaskan volatile ­organic compounds (VOC) serta ­senyawa aromatik polisiklik yang berbahaya.

Baca juga : Eco-Anxiety Jangkiti Anak Muda Dunia

Artikel tersebut menjelaskan bahwa dampak kesehatan akibat kebakaran sampah dapat berkisar dari ringan hingga berat. Keluhan dan penyakit yang mungkin timbul meliputi sakit kepala, iritasi mata, gangguan kulit, serta gangguan saluran cerna. Dampaknya terhadap paru dan saluran napas dapat berupa infeksi dengan berba­gai tingkat keparahan, mulai dari ISPA ringan hingga berat, serta gangguan pernapasan ­seperti serangan asma dan penyakit lainnya.

Disebutkan pula bahwa kelompok yang paling rentan terdampak gangguan kese­hatan akibat kebakaran sampah berskala luas adalah lansia, ibu hamil, anak-anak, serta mereka yang telah memiliki penyakit paru kronis sebelumnya.

Hal lain yang menarik dan patut menjadi perhatian para pengambil kebijakan adalah pemanfaatan teknologi mutakhir berupa kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), machine learning (ML), dan deep learning dalam pengen­dalian kebakaran sampah berskala besar. Menurut arti­kel tersebut, penggunaan teknologi-teknologi tersebut dapat meningkatkan akurasi identifikasi, pemantauan, serta mitigasi dampak kebakaran.

Informasi ilmiah lainnya diterbitkan oleh Wisconsin Department of Natural Re­sources melalui tulisan berjudul Environ­mental and Health Impacts of Open ­Burning. Secara khusus dijelaskan dampak pembakaran bahan plastik yang dapat melepaskan berbagai zat kimia berbahaya, ­seperti dioksin, benzo (a) ­pyrene (BaP), serta hidrokarbon aromatik polisiklik. Referensi lain yang juga penting adalah artikel di news.mongabay.com ter­tanggal 17 Juni 2025 berjudul Open ­Burning of Plastic ­Is an Esca­lating Public Health Threat.

Baca juga : Menko Polkam Kutuk Keras Pembakaran Pesawat AMA

Kita semua tentu berharap kebakaran TPA Jatiwaringin dapat segera diatasi. Di saat yang sama, berbagai upaya juga perlu dilakukan secara maksimal untuk menangani dampak kesehatan yang ditimbul­kan akibat kebakaran tersebut.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.