Dark/Light Mode

Kesaksian Seorang Murid: Maha Guru Itu Telah Pergi, Prof Bachtiar Aly

Kamis, 30 Juli 2026 09:37 WIB
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si
Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M.Si

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketika seseorang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya sebagai peziarah di dunia ini, kita wajib mengenang kebaikan yang pernah kita terima darinya.

Saya menulis tentang Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, M.A. sebagai seorang murid yang dibimbing langsung oleh beliau. Saya tidak sedang menyusun riwayat hidup resmi dan tidak pula ingin menempatkan beliau sebagai manusia yang selalu benar. Saya hanya ingin menceritakan seorang guru yang memberi pengaruh besar dalam perjalanan pendidikan dan pengabdian saya.

Prof. Bachtiar Aly berpulang pada 26 Juli 2026. Saya hadir dalam pemakaman almarhum. Suasananya tenang, khidmat, dan sangat sederhana. Tidak sampai 100 orang mengantarkan beliau menuju tempat peristirahatan terakhir.

Bagi saya, keadaan itu terasa sedikit mengganjal di hati. Karena itulah saya menuliskan kesaksian ini ketika mengenang seorang tokoh dan guru bangsa, seorang pakar komunikasi, mantan anggota DPR RI, diplomat, guru besar, dan tokoh organisasi yang pergi tanpa menjadi berita besar di media massa. Banyak murid, sahabat, dan kolega bahkan tidak mengetahui bahwa beliau sedang sakit.

Barangkali, ya barangkali, begitulah cara beliau menjalani hari-hari terakhirnya. Sakitnya tidak banyak diceritakan. Beliau tidak mengabari banyak orang. Sepertinya beliau tidak ingin merepotkan orang-orang terdekatnya.

Saya mengenal Prof. Bachtiar Aly melalui banyak perjumpaan. Hubungan kami bermula sebagai dosen dan mahasiswa ketika saya mengambil Program Magister Ilmu Komunikasi UI. Seiring waktu, hubungan itu berkembang menjadi hubungan seorang abang, guru, senior, dan adik.

Selama menjalani studi, beliau berkali-kali mendorong saya agar segera menyelesaikan program magister. Setelah selesai, beliau juga terus mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral.

Dorongan semacam itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain. Namun, bagi seorang murid, perhatian dari seorang guru sering kali menjadi tenaga tambahan ketika niat sedang lesu dan semangat mulai kendur.

Prof. Bachtiar Aly juga banyak memberi kiat mengenai komunikasi, hubungan internasional, dan cara membangun relasi. Beliau memahami bahwa relasi tidak dibangun hanya melalui pertukaran kartu nama atau pertemuan seremonial.

Baca juga : Apresiasi Pembekalan Seskab Teddy, Qodari: Teladan bagi Taruna Akmil

Salah satu kenangan yang paling melekat terjadi saat saya berada di Busan, Korea Selatan. Setelah saya dikukuhkan sebagai Guru Besar Hubungan Internasional di Busan University of Foreign Studies (BUFS), orang pertama yang menelepon saya adalah Prof. Bachtiar Aly.

Beliau berkata melalui sambungan telepon, “Adinda, abang bangga. Sungguh luar biasa Anda. Selamat ya, Adinda Profesor Ngabalin. Kapan balik? Kita harus berjumpa ya. Sekali lagi selamat, Dik. Patenlah, Dinda.”

Di atas pusara saat pemakaman, kalimat itu terus berdenging di telinga saya. Air mata tak terbendung terus mengalir seraya berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar memudahkan perjalanan Prof. Bachtiar Aly menuju keharibaan Yang Maha Agung.

Saya masih mengingat telepon itu. Seorang guru mengikuti perjalanan muridnya, lalu memberi ucapan ketika murid tersebut mencapai salah satu tahap penting dalam hidupnya. Perhatian semacam itu terasa sederhana, namun sangat sulit dilupakan.

Kedekatan kami juga dipertemukan melalui Pelajar Islam Indonesia (PII). Almarhum Dr. Mansyur Semma dan Bang Darlis Muhammad, yang keduanya merupakan senior sekaligus instruktur saya di PII Sulawesi Selatan, memperkenalkan saya kepada Prof. Bachtiar Aly. Ketika itu saya sedang menjalankan amanah di Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), Jalan Menteng Raya Nomor 58, Jakarta Pusat, sebagai Ketua Bidang Luar Negeri.

Setelah mengetahui saya merupakan kader PII dan berasal dari Irian Jaya—kini Papua—hubungan kami semakin dekat. Prof. Bachtiar Aly memberi perhatian besar kepada anak-anak daerah. Beliau memahami bahwa banyak anak daerah memiliki kemampuan, tetapi sering kekurangan akses, jaringan, dan orang yang bersedia membuka pintu.

Saya mengalami sendiri perhatian tersebut.

Ketika beliau menjadi Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), saya dimasukkan ke dalam kelompok kerja luar negeri. Dalam beberapa kesempatan, saya juga diminta mewakili beliau menghadiri berbagai kegiatan komunitas ilmu komunikasi.

Kepercayaan itu sangat berarti. Seorang guru kadang mengajarkan lebih banyak melalui tanggung jawab daripada melalui ceramah di kelas. Murid diberi kesempatan, dipercaya membawa nama organisasi, lalu belajar mempertanggungjawabkan kepercayaan tersebut.

Saat saya maju sebagai calon Ketua Umum Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) di Aceh, Prof. Bachtiar Aly juga memberikan dukungan. Beliau menghubungi banyak anak-anak masjid di Aceh. Saya tidak pernah melupakan kesediaannya membantu seorang adik yang sedang berjuang di organisasi.

Baca juga : Tetapkan Tersangka Baru, Kejagung Terus Bersihkan BGN dari Koruptor

Perjalanan kami kembali bertemu di Partai Golkar. Beberapa kali beliau hadir sebagai pakar komunikasi dan menjadi pembicara. Beliau selalu merasa menjadi bagian dari keluarga besar Partai Golkar serta dikenal sebagai sosok yang menjaga martabat dalam kehidupan politik. Kami juga sama-sama menjadi bagian dari keluarga besar Komisi I DPR RI.

Ketika Prof. Bachtiar Aly menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir, saya pun terus berkomunikasi dengan beliau. Selain sebagai anggota Komisi I DPR RI, sebagai murid saya merasa perlu terus mengikuti perkembangan beliau selama bertugas di Mesir.

Saya benar-benar mengenal Prof. Bachtiar Aly sebagai akademisi yang memahami komunikasi sekaligus memiliki pengalaman luas dalam urusan politik luar negeri.

Kami kemudian kembali dipertemukan sebagai penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan ketika kementerian tersebut dipimpin Bapak Dr. H. Edhy Prabowo. Dalam berbagai kesempatan, saya melihat cara beliau menyampaikan pandangan dengan tenang. Beliau tidak perlu meninggikan suara untuk menunjukkan keluasan pengalaman.

Seluruh perjumpaan itu membuat kepergian Prof. Bachtiar Aly terasa sangat pribadi bagi saya. Saya kehilangan seseorang yang pernah mengajar saya di kampus, memberi kesempatan di organisasi, mendukung perjalanan pendidikan saya, serta mengikuti perkembangan saya hingga menjadi guru besar.

Saya sempat bertanya dalam hati mengapa seorang tokoh dengan pengabdian panjang seperti beliau tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Saya tidak mengetahui pertimbangan yang melatarbelakanginya. Pertanyaan itu murni muncul sebagai ungkapan seorang murid yang merasa gurunya telah memberi begitu banyak kepada negara dan masyarakat.

Namun, penghormatan kepada seseorang tidak berhenti pada lokasi pemakamannya. Penghormatan hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah menerima ilmu, pertolongan, perhatian, dan kepercayaannya.

Bachtiar Aly pergi tanpa keramaian besar. Media massa tidak banyak memberitakan kepergiannya. Jumlah orang yang hadir di pemakaman juga tidak mencerminkan panjangnya perjalanan hidup dan luasnya pergaulan beliau.

Mungkin banyak orang baru mengetahui kabar kepergiannya setelah seluruh prosesi selesai. Mungkin pula banyak murid yang menyesal karena tidak sempat mengucapkan salam terakhir.

Baca juga : Kasus Sertifikasi K3, 2 Pengusaha Dihukum 1,5 Tahun Penjara

Saya termasuk orang yang beruntung pernah mengenal beliau dari dekat. Saya pernah menjadi muridnya, adiknya di lingkungan PII, rekannya dalam sejumlah penugasan, serta orang yang beberapa kali menerima kepercayaan darinya.

Saya tentu tidak mengenal seluruh sisi kehidupannya. Saya juga tidak hendak mengatakan bahwa beliau tidak pernah memiliki kekurangan. Kesaksian saya sederhana. Dalam perjalanan hidup saya, Prof. Bachtiar Aly telah menjadi guru yang memberi ilmu, perhatian, dorongan, dan kesempatan.

Kini perjalanan itu telah selesai.

Selamat jalan, Pak Dosen.

Selamat jalan, Abangku.

Selamat jalan, Guruku.

Prof. Dr. H. Bachtiar Aly, M.A.

Terima kasih atas ilmu dan kepercayaan yang pernah diberikan. Saya bersaksi, selama mengenalmu sebagai murid dan adik, begitu banyak kebaikan yang saya terima darimu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.