Dark/Light Mode

Tuduhan Bid`ah (2)

Senin, 20 September 2021 06:10 WIB
Nasaruddin Umar
Nasaruddin Umar
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Persoalan bid’ah akhir-akhir ini muncul karena dimunculkan oleh sekelompok orang yang mungkin niatnya betul-betul ingin memelihara kemurnian ajaran agama dari berbagai praktek syirik, khurafat, dan hal-hal yang bersifat spekulatif. Namun muncul masalah karena seringkali kata bid’ah ini digunakan untuk menyerang sebuah tradisi atau kreasi lokal yang dihubungkan dengan ibadah.

Kata ibadah ini sendiri juga seringkali menimbulkan persoalan tersendiri, karena ada yang mendefinisikannya terlalu luas, yakni segala sesuatu yang dilakukan dengan niat baik karena Allah Swt adalah ibadah. Ada orang yang mendefinisikannya terlalu sempit, yakni ibadah yang mahdhah, yaitu ibadah ritual yang dilakukan secara rutin seperti shalat dan puasa.

Berita Terkait : Tuduhan Bid`ah (1)

Wilayah abu-abu seringkali muncul, seperti praktek budaya yang menyertai perkawinan. Rukun dan dan syarat perkawinan secara syari’ah sangat simple. Cukup ada sepasang calon pengantin berlainan jenis dan memenuhi segala syarat perkawinan, mempunyai dua saksi, ada wali sah yang mengawinkannya, ada mahar, dan akad yang sah. Selebihnya itu hanya variasi.

Sekelompok orang yang sering melontarkan bid’ah kepada orang yang melibatkan tradisi budaya yang bersifat unik, seperti sungkeman terhadap kedua orang tua, dengan alasan Nabi tidak pernah melakukan hal seperti itu.

Berita Terkait : Tendensius Mengungkap Data Dan Fakta (5)

Demikian pula di sekitar upacara pemakaman seringkali juga dipandang ada praktek bid’ah, karena melibatkan tradisi lokal di dalam rangkaian pemakaman, seperti praktek siraman menggunakan air khusus di dalam botol, takziyah sampai malam ketiga atau ketujuh, makan di rumah orang keluarga yang meninggal. Termasuk menyertakan foto almarhum/ almarhumah ke pemakaman.

Tudingan bid’ah seperti ini harus hati-hati, karena meskipun Nabi tidak pernah melakukannya tetapi beberapa praktek yang sudah menjadi adat istiadat dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja, karena itu juga memiliki fungsi yang berarti di dalam masyarakat.

Berita Terkait : Tendensius Mengungkap Data Dan Fakta (4)

Itu pun belum tentu bid’ah dalam arti sesungguhnya karena menyangkut wilayah abu-abu. MUI perlu memberikan ketegasan terhadap hal-hal yang bersifat khilafiyah. Sembarangan menuduh orang bid’ah bisa masuk ke dalam kategori penistaan agama (religious hate speech).