Dewan Pers

Dark/Light Mode

Martin Luther King Warnai Puisi Esai Indonesia 

Sabtu, 21 Januari 2023 11:37 WIB
Chairwoman of the Indonesian Essay Poetry Community, Monica JR menjadi, pembicara dalam sesi diskusi di kebudayaan Amerika Kedutaan Besar AS yang berlokasi di Pacific Place, Jumat (20/1). (Foto: Ist)
Chairwoman of the Indonesian Essay Poetry Community, Monica JR menjadi, pembicara dalam sesi diskusi di kebudayaan Amerika Kedutaan Besar AS yang berlokasi di Pacific Place, Jumat (20/1). (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada yang unik dalam acara kerja sama komunitas puisi esai dengan pusat kebudayaan Amerika Kedutaan Besar AS yang berlokasi di Pacific Place, Jumat (20/1). Pidato terkenal Martin Luther KingI Have a Dream,” di 1960-an diangkat dalam puisi esai tapi untuk konteks yang berbeda di 2020-an.

Jika Martin Luther King memimpikan kesetaraan ras kulit hitam dan kulit putih, puisi esai Denny JA dengan judul “Lennon Has a Dream Too” memimpikan lebih meratanya ekonomi orang kaya dan orang miskin. Di era ini, satu persen orang terkaya menguasai 85 persen kekayaan dunia.

Monica JR dalam presentasinya menjelaskan betapa perjuangan Martin Luther King ikut mewarnai puisi esai di Indonesia. Keduanya sama sama menyuarakan gerakan anti diskriminasi.

Berita Terkait : Dukung IKN, Kadin Kukar Yakin Investor Asing Kian Lirik Indonesia

Bedanya, Martin Luther King menyuarakan anti diskriminasinya sesuai konteks sosial politik amerika serikat lebih banyak diwarnai diskriminasi kulit hitam dan putih. Sementara dalam konteks politik indonesia, segmentasi kulit hitam dan putih tidak mencolok. Yang mencolok adalah diskriminasi karena keyakinan agama, etnis tionghoa, jurang kaya, dan miskin. 

Untuk menghormati Hari Martin Luther King Jr., Puisi Esai Network dengan @america menyelenggarakan acara bersama. Acara tersebut mengundang para komunitas pencinta sastra dan seni, aktivis hak sipil, dan publik generasi muda untuk berkumpul dan membagikan puisi asli atau karya favorit mereka sendiri yang terinspirasi dari pesan Dr. King tentang kesetaraan dan keadilan untuk semua.

Monica JR, sebagai Chairwoman of the Indonesian Essay Poetry Community menjadi pembicara dalam sesi diskusi. “Dr. King adalah sosok ikonik dalam gerakan hak sipil dan dikenang atas perjuangannya memperjuangkan kesetaraan ras. Pesannya tentang antikekerasan dan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap keadilan telah mengilhami banyak orang di seluruh dunia, termasuk banyak anak muda.”

Berita Terkait : Dubes RI Ajak Jurnalis China Pelesiran Ke Indonesia

Perjuangan tentang antikekerasan dan komitmennya yang tak tergoyahkan terhadap keadilan telah mengilhami banyak orang di seluruh dunia, termasuk banyak anak muda. Oleh karena itu, perjuangan Dr. King sejalan dengan spirit Puisi Esai.

Penggagas Puisi Esai, Denny JA selalu mengutip John F. Kennedy bahwa jika saja lebih banyak politisi membaca puisi dan lebih banyak penyair memahami politik, maka kita akan mewarisi dunia yang lebih baik. Puisi esai lahir untuk menempatkan persoalan sosial yang nyata ke dalam jantung puisi dengan bahasa yang indah, serta mudah dipahami oleh publik.

“Jangan pernah meremehkan karya sastra. Buktinya novel Uncle Tom’s Cabin yang ditulis oleh Harriet Beecher Stowe berhasil membuat masyarakat Amerika tergugah dan pada akhirnya menghapus hukum perbudakan di konstitusi Amerika Serikat,” lanjut Monica JR.

Berita Terkait : Yandri Apresiasi Kemendag Tingkatkan Volume Perdagangan Indonesia-Saudi 

XYZ+ yang dikepalai oleh Amelia juga menjadi salah satu kontributor sekaligus moderator. Ia menilai bahwa acara kebudayaan ini dinilai sebagai bentuk kolaborasi yang adiwarna, karena mampu menyatukan dua faktor: melawan diskriminasi dan menggunakan media seni sebagai medium pembawa pesan.