Dark/Light Mode

Film Dokumenter Jadi Literasi Digital Pekerja Migran Tangkal Terorisme

Sabtu, 20 April 2024 21:19 WIB
Film Dokumenter Jadi Literasi Digital Pekerja Migran Tangkal Terorisme

RM.id  Rakyat Merdeka - Film bisa menjadi cara menangkal narasi dan propaganda ekstrimis. Salah satu yang menjadi sasaran dan korban propaganda itu adalah para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang tersebar di berbagai negara. 

Hal ini dilakukan Ruang Migran (RUMI) untuk menjawab fungsi literasi melawan narasi dan propaganda ekstrimis. 

Salah satunya memproduksi film dokumenter berjudul 'Pilihan'. Peraih Piala Citra 2011 yang juga pernah menjadi pekerja migran, Ani Ema Susanti menjadi sutradara film ini dengan mengangkat kisah tiga PMI yang saling bertolak belakang.

Film ini menceritakan kisah Listyowati dan Masyitoh, dua pekerja migran di Singapura. Listyowati, pekerja migran asal Sendangkulon berjuang dengan realitas pahit pernikahan. 

Baca juga : Momen Idul Fitri, Perwira Elnusa Tetap Bekerja Jaga Pasokan Energi

Mimpi-mimpinya tentang kehidupan yang lebih baik hancur oleh kekejaman suaminya, meninggalkannya kecewa dan merindukan tujuan hidup, serta perjalanannya berubah drastis ketika ia tersandung atas kekejaman yang terjadi di Timur Tengah.

Pendiri Ruang Migran (RUMI) Noor Huda Ismail mengatakan, pembuatan film ini memang ditujukan kepada PMI. 

Huda menjelaskan, film akan diputar oleh kementerian/lembaga terkait, seperti Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) dan disaksikan oleh PMI sebelum diberikan pelatihan yang dibutuhkan.

Pihaknya sengaja fokus untuk menceritakan masalah media sosial dan bagaimana para pekerja migran menggunakannya dengan bijak. Untuk itu, PMI yang terjebak radikalisme turut dilibatkan dalam pembuatan film. 

Baca juga : 4 Menteri Bersaksi Di MK, Gibran Puas

"Pendekatan kita adalah bagaimana mantan teroris bisa bercerita dan dikemas dengan baik. Rata-rata kampanye negara kan menunjukkan negara sudah melakukan ini, dan kita tahu bahwa kita tidak tertarik pada hal itu. Kita tertarik kepada cerita, proses, dan apa langkah selanjutnya," kata Huda Sabtu (20/4/2024). 

Sementara, Ani Ema Susanti yang juga menjadi sutradara film ini mengungkap kisah inspiratif di balik pembuatan film ini. 

Pengalaman Ani Ema sebagai manajer audiovisual di Ruangobrol membawanya bertemu dengan individu yang terlibat dalam jaringan teroris dan pekerja migran yang terjebak dalam jerat eksploitasi. 

Melalui lensa yang ditawarkannya, ia menyaksikan transformasi individu-individu ini dari radikalisasi hingga menjadi agen perdamaian. Ani mengaku pembuatan film ini bertujuan untuk memperkuat suara para pekerja migran dan mengatasi eksploitasi. 

Baca juga : Gali Ilmu Literasi Digital, Kemenkominfo Ingatkan Masyarakat Hati-Hati Bermedsos

Perjalanan Ani Ema dari seorang pekerja migran hingga menjadi seorang advokat memberikan wawasan mendalam tentang perjuangan dan tantangan yang dihadapi oleh jutaan pekerja migran di seluruh dunia.

Yang menarik, Ani Ema bersama Ruang Migran membentuk RUMI Academy dan memberikan worskhop setiap minggu kepada para pekerja Migran. 

''Setelah dua bulan mereka bisa praktik menulis cerita lalu kemudian memproduksi film. Mereka juga menjadi sutradara sekaligus pemain. Hasil karya film pendek teman-teman pekerja migran ini bisa diakses melalui aplikasi Ruang Migran Indonesia yang bisa didownload di googleplay store,'' katanya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.