Dark/Light Mode

4 Alasan Kelayakan Serangga Jadi Menu Makanan, Salah Satunya Bergizi Tinggi

Senin, 27 Januari 2025 14:31 WIB
Sebagai sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal, serangga dapat memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. (Foto: FAO)
Sebagai sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal, serangga dapat memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat. (Foto: FAO)

RM.id  Rakyat Merdeka - Anda mungkin kurang familiar dengan kebiasaa mengkonsumsi serangga. Tapi faktanya, menurut laporan Badan Pangan PBB (FAO), lebih dari 1.900 spesies serangga telah dikonsumsi orang di seluruh dunia. Serangga yang kaya nutrisi, juga banyak menjadi bagian dari makanan nasional.

Di Asia, kumbang merah termasuk jenis serangga yang paling populer, serta menjadi makanan lezat yang berharga di banyak negara.

Di Republik Demokratik Kongo, masyarakat Ngandu biasa mengkonsumsi makanan yang terbuat dari ulat bulu selama musim hujan.

Di Eropa dan Amerika Utara, semakin banyak gerai yang menyediakan aneka produk olahan serangga. 

Sementara Uni Eropa, telah mengambil langkah-langkah untuk menstandarisasi serangga sebagai sumber pangan manusia, dengan memprioritaskan faktor keselamatan.

Berikut empat alasan kelayakan serangga sebagai bahan pangan, seperti dilansir FAO dalam situs resminya:

1. Bergizi Tinggi 

Serangga yang dapat dimakan, memiliki nilai gizi penting dan dapat menjadi tambahan makanan sehat.

Baca juga : Ahli Gizi IPB Setuju Serangga Masuk Menu Makan Bergizi Gratis, Ini Alasannya

Sebagai salah satu opsi pangan, serangga tak hanya menjadi energi, lemak, protein, dan serat. Tetapi juga dapat menjadi sumber zat gizi mikro yang baik seperti seng, kalsium dan zat besi, tergantung jenisnya.

Di luar itu, serangga juga dapat menjadi sumber protein alternatif untuk daging konvensional. Dibanding daging sapi, kandungan asam amino dan lemak ulat memang masih kalah. Tetapi, ulat mengandung nilai mineral yang sebanding. Di samping itu, secara umum, ulat memiliki kandungan vitamin yang lebih tinggi.

Pengetahuan yang baik tentang komposisi nutrisi serangga, dapat menguatkan pentingnya serangga dalam menu makanan kita.

FAO, bersama dengan Jaringan Sistem Data Pangan Internasional (INFOODS) terus mengumpulkan, menyusun, dan menyebarluaskan data komposisi pangan. Basis Data Komposisi Pangan FAO/INFOODS untuk Keanekaragaman Hayati merupakan repositori global yang memuat data berbagai serangga yang dapat dimakan.

Data komposisi pangan yang akurat, meningkatkan basis bukti untuk mendukung penggunaan serangga untuk ketahanan pangan dan gizi. Serta menginformasikan kebijakan dan program gizi, kesehatan, dan pertanian.

2. Mendukung Lingkungan Berkelanjutan

Serangga yang dapat dimakan, memiliki banyak keuntungan bagi lingkungan. Dibanding sumber protein hewani lainnya, pemeliharaan serangga menghasilkan lebih sedikit gas rumah kaca. Selain itu, serangga juga membutuhkan lebih sedikit air ketimbang hewan ternak.

Lahan yang dibutuhkan untuk memelihara serangga pun jauh lebih sedikit dibanding hewan lain yang menjadi sumber protein. Di luar itu, serangga juga dikenal sangat efisien dalam mengubah pakan menjadi protein.

Baca juga : AS Nggak Akan Pernah Kalah Dari Rusia & China

Jangkrik, misalnya, membutuhkan pakan 12 kali lebih sedikit dibanding sapi untuk menghasilkan jumlah protein yang sama. Di Asia Tenggara, budidaya jangkrik telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Untuk memastikan peningkatan pasokan dapat memenuhi standar keamanan pangan internasional secara memadai, FAO dan Universitas Khono Kaen Thailand menerbitkan panduan tentang budidaya jangkrik yang berkelanjutan.

Panduan ini membahas kesenjangan pengetahuan di antara petani jangkrik dan lembaga pemerintah, untuk memastikan keamanan dan kebersihan pangan.

3. Membuka Peluang Ekonomi

Selain menjadi sumber pangan, serangga yang dapat dimakan dapat membuka peluang ekonomi. Karena tidak membutuhkan ruang besar, budidaya serangga dapat dilakukan di mana saja. Tak cuma di desa, tetapi juga di kota.

Serangga yang dapat dimakan juga gampang diangkut. Mudah dibudidayakan tanpa pelatihan yang mendalam. Intinya, budidaya serangga menawarkan peluang ekonomi bagi mereka yang memiliki akses terbatas ke lahan, pelatihan, dan sumber daya lainnya. Serangga dapat membuka peluang mata pencaharian yang inklusif bagi banyak orang di seluruh dunia.

FAO mendukung negara-negara yang ingin membudidayakan serangga secara berkelanjutan dan meningkatkan ketahanan pangan, dengan mendukung pengembangan rantai nilai berbasis serangga.

Dengan memberikan panduan penilaian keamanan pangan dan praktik terbaik untuk memelihara dan mengonsumsi serangga yang dapat dimakan, FAO berkontribusi mengisi kesenjangan pengetahuan dan memfasilitasi jalur menuju sektor pangan yang selama ini kurang dikenal.

4. Belum Banyak Dimanfaatkan

Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Serahkan Santunan Jaminan Kematian Bagi Pengurus RT

Serangga yang dapat dikonsumsi adalah sumber daya ekonomi dan gizi yang belum dimanfaatkan secara optimal. Masih sedikit yang melirik. Padahal, seiring melonjaknya populasi dunia, produksi pangan perlu ditingkatkan. Ini jelas akan menekan produksi pertanian dan sumber daya alam yang terbatas.

Karena itu, diperlukan solusi inovatif untuk memenuhi permintaan global terhadap sumber protein dan makanan bergizi lainnya.

Dalam konteks ini, budidaya serangga yang dapat dikonsumsi memberikan peluang untuk membantu memenuhi permintaan yang meningkat. Tentunya, dengan tetap mengedepankan faktor keamanan dan kebersihan pangan.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.