Dark/Light Mode

Aspek Epigenetik, Microbiome Dan Gizi Pengaruhi Kasus Stunting

Kamis, 13 Februari 2025 21:30 WIB
Diseminasi temuan awal studi AASH dan diskusi kebijakan percepatan penurunan stunting, di Jakarta, Kamis (13/2/2025)  (Foto: Istimewa)
Diseminasi temuan awal studi AASH dan diskusi kebijakan percepatan penurunan stunting, di Jakarta, Kamis (13/2/2025) (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Seameo Regional Center for Food and Nutrition (RECFON) menemukan fakta terkait kasus stunting di Indonesia, khususnya wilayah Lombok Timur, NTB. 

Dengan menggunakan studi Action Against Stunting Hub (AASH), kasus stunting bukan hanya persoalan asupan gizi. Melainkan juga terkait dengan faktor epigenetik, kesehatan saluran cerna, infeksi, mikrobiota, serta kesehatan mental ibu.

Untuk itu, diperlukan pendekatan intervensi interdisiplin dan berbasis bukti, dengan fokus pada pangan lokal, suplementasi mikronutrien, serta dukungan kesehatan mental bagi ibu. 

Ketua Tim Peneliti Komponen Kognitif AASH Risatianti Kolopaking mengungkapkan, 65 persen perkembangan anak di Lombok Timur masuk kategori belum optimal. Sebab, mereka dipengaruhi berbagai aspek seperti epigenetik, microbiome dan gizi. Terutama untuk usia 1-2 tahun.

“Kami juga meneliti kakak atau saudara kandung anak tersebut yang berusia 3-6 tahun, dan hasilnya juga perkembangannya rata-rata dan belum berkembang dengan baik,” ujar Risatianti Kolopaking dalam acara diseminasi temuan awal studi AASH dan diskusi kebijakan percepatan penurunan stunting yang dilaksanakan di Hotel Gren Melia, Jakarta, Kamis (13/2/2025). 

Baca juga : Perkuat Ekosistem, Menkop Budi Arie Bentuk Pos Pengaduan Koperasi

Sementara pada anak stunting, stimulasi yang diberikan oleh ibu ataupun pengasuh juga kurang optimal. Karena itu, perlu pengayaan dan juga alat bantu bagi para ibu sehingga membantu proses pendidikan dan kesiapan anak bersekolah. 

Temuan lainnya, sambung Risatianti, permasalahan kesehatan mental pada ibu perlu diperhatikan karena memengaruhi pertumbuhan anak. Baik yang berusia 1-2 tahun ataupun pada anak usia prasekolah. 

"Stimulasi yang kurang optimal pada anak stunting tersebut ternyata turut mengganggu perkembangan motorik kasar anak, seperti berjalan, berlari, keseimbangan. Padahal, hal tersebut merupakan aspek penting bagi perkembangan anak ke depan terutama pada kesiapan anak bersekolah," tuturnya. 

Di kesempatan sama, Ketua Tim Peneliti Komponen Pendidikan AASH, Rita Anggorowati menjabarkan untuk komponen pendidikan, pihaknya menemukan kualitas guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sangat berpengaruh pada perkembangan anak. 

Guru yang memiliki latar belakang sarjana terutama lulusan PAUD akan menumbuhkan lingkungan pembelajaran yang sehat. 

Baca juga : Ke MUI, Menkomdigi Ajak Dai Perangi Judi Online

Studi itu tak hanya meneliti guru PAUD di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), tetapi juga di bawah Kementerian Agama (Kemenag). 

Rita menambahkan dari sisi lingkungan pembelajaran, layanan sanitasi dan air bersih yang baik turut memengaruhi perkembangan anak ke arah positif. 

"Di sisi lain, pelibatan dan pemberdayaan orang tua melalui kegiatan, lokakarya pendidikan bagi masyarakat dan guru, serta pembaruan rutin mengenai kegiatan sekolah menjadi harapan masyarakat dalam meningkatkan tumbuh kembang dan kesiapan belajar anak," papar Rita. 

Sementara itu, Country Lead Studi AASH di Indonesia Umi Fahmida mengatakan, hasil temuan awal studi ini dapat dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan stunting. 

“Kami memang mendedikasikan data-data yang kaya untuk dimanfaatkan. Tidak hanya untuk ilmu pengetahuan tetapi juga sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan,” pungkas Umi Fahmida.

Baca juga : Vincent Kompany Puji Harry Kane Setinggi Langit

Sekadar informasi, AASH merupakan studi interdisiplin yang bertujuan menyusun tipologi stunting melalui pendekatan anak secara utuh atau "whole child approach". 

Penelitian ini dilaksanakan pada 2019-2024 di tiga negara yakni India, Indonesia, dan Senegal. Untuk Indonesia, penelitian tersebut diselenggarakan di Lombok Timur.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.