Dark/Light Mode

Cegah Punahnya Batik Batang, Institut Pluralisme Support Pembatik Lansia

Rabu, 26 Februari 2025 22:16 WIB
Ma Sium, Pembatik Lansia berusia 68 tahun di Batang, Pekalongan, Jawa Tengah. (Foto: Irma Yulia/Rakyat Merdeka/RM.id)
Ma Sium, Pembatik Lansia berusia 68 tahun di Batang, Pekalongan, Jawa Tengah. (Foto: Irma Yulia/Rakyat Merdeka/RM.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Minimnya ketertarikan generasi muda dalam membatik, dibarengi rendahnya upah dari menghasilkan satu kain batik, bisa berakibat pada punahnya budaya batik, khususnya batik tulis. 

Terletak di sebelah timur Pekalongan, Jawa Tengah, terdapat satu desa wisata batik Rifaiyah di Batang. 

Walaupun, memiliki ragam motif dan ciri khas tersendiri, tak banyak orang tahu soal batik Batang. Beda, dengan batik Pekalongan yang sama terkenalnya dengan batik Yogyakarta dan Solo.

Direktur Institut Pluralisme Indonesia (IPI) William Kwan mengatakan, pengerjaan batik tulis di Batang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. 

"Di sini, kalau ada yang tanya, khasnya batik Batang apa? Nggak bisa jawab. Karena, tiap helai batik tulis dibuat tradisional dan mandiri oleh satu orang," tutur William saat berbincang dengan Rakyat Merdeka/RM.id di Batang, Rabu (26/2/2025). 

William menambahkan, mulai dari menggambar motif atau desain dibuat mengandalkan keterampilan individual, hingga proses pewarnaan dan lainnya dibuat tidak secara berkelompok. Sehingga, untuk menghasil satu kain batik membutuhkan waktu lebih lama. 

"Biasanya, ada satu orang yang bikin gambar, nanti yang warnain ganti orang. Nah, di Batang nggak begitu," kata William. 

Sayangnya, jumlah pembatik di Batang kian berkurang. Menurut Will, sapaan akrab William Kwan, saat ini rata-rata pembatik di Batang berusia 40 tahun ke atas. Bahkan, ada seorang pembatik berusia 68 tahun, bernama Ma Sium.

Ia merinci, saat ini hanya tersisa 2 orang pembatik lansia pembuat Batik Sogan Batangan, 2 orang pembatik lansia pembuat Batik Masin dan sekitar 30 orang pembatik aktif Batik Rifa'iah berusia rata-rata 40-60 tahun.

"Bila tidak terjadi regenerasi pembatik Batang hingga 10 sampai 20 tahun ke depan, saya khawatir, batik Batang akan punah," ujarnya.

Baca juga : KPK Pastikan Usut Dugaan Suap Pemilihan Ketua DPD RI

Saat ditemui dikediamannya, walau sudah berusia 68 tahun, Ma Sium, masih aktif membatik. Jari jemarinya masih kuat menggenggam canting.

Ma Sium pun menggambar sendiri bentuk tanaman atau binatang di selembar kain putih. Perempuan berkebaya Jawa itu, bahkan masih menerima pesanan yang motifnya bisa disesuaikan dengan permintaan pemesannya.

"Motif batik yang paling sering dibuat itu motif alas roban," tuturnya dalam bahasa Jawa. 

Ma Sium juga menunjukkan, kemampuannya menggambar binatang kesukaannya saat membatik, yaitu ayam nggeblak alias ayam yang kakinya miring sebelah karena kepleset. 

"Ya, kalau ada yang pesan, minta motif apa, saya buatin. Bisa selesai 3 minggu untuk satu kain batik," tuturnya. 

Menurut Ma Sium, membatik satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukannya seorang diri. Sebab, diusianya yang senja, sudah tak memungkinkan bekerja di pabrik atau tempat lainnya.

"Ya, membatik saja bisanya. Sudah dari dulu, dari kecil," ungkapnya.

Ma Sium mengaku, dibantu adiknya untuk setiap proses pemesanan, seperti pengiriman paket dan menerima pembayaran melalui transfer ke rekening. 

"Waktu itu pernah diundang ke Kedutaan Belanda di Jakarta, ko orang hanya lihat kain batiknya, terus foto. Yang laris terjual ko ngga ada uangnya, ternyata transfer, ya adik yang bantu. Saya nggak ngerti sih," ucapnya. 

Mengenal Ragam Batik Batang 

Baca juga : Cuci Gudang, Ini 3 Pemain Barca Yang Bakal Dijual

William menyampaikan, batik Batang mempunyai gaya desain batik pedalaman/kratonan (Batik Sogan Batangan) maupun gaya desain batik pesisiran (Batik Rifa'iah, Batik Masinan, Batik Boresan, Batik Kramalan). 

Batik Sogan Batangan terdiri dari batik-batik yang dibuat dengan gaya batik Yogyakarta/Mataraman awal (sejak sekitar tahun 1630an di Batang), batik Surakarta (sejak pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755) atau kombinasi batik Yogyakarta dan Surakarta. 

Lebih lanjut William menjelaskan, batik Sogan Batangan menggunakan motif klasik batik Mataraman dengan warna coklat kehitaman kombinasi putih atau coklat muda, hitam atau biru gelap (midnight blue atau 'biru tengah wengi').

Sementara itu, Batik Pesisiran Batang yang masih eksis saat ini hanya Batik Rifa'iah dan Batik Masinan. Batik Rifa'iah dibuat di Desa Kalipucang Wetan dan Desa Watesalit, Kecamatan Batang. Serta, Batik Masin dibuat di Desa Masin, Kecamatan Warungasem Menurutnya, yang juga cukup popular di kalangan pecinta batik Indonesia, khususnya para kolektor batik, ada Batik Tiga Negeri Rifa'iyah (warna merah, biru dan coklat/soga) dan Batik Masin. 

Batik Rifa'iah dibuat oleh para pembatik keturunan murid Kyai Ahmad Rifa'i (seorang pahlawan nasional yang gigih menentang kolonialis Belanda) dan memiliki desain yang dipengaruhi nilai-nilai spiritualitas agama Islam.

"Misalnya, motif Pelo Ati yang berupa ayam jantan dan burung yang terpenggal bagian kepalanya," katanya. 

Hal ini sesuai dengan ajaran dalam kitab-kitab Al Hadith, (umat Islam tidak boleh mengenakan pakaian bermotif makhluk hidup ciptaan Allah SWT). 

Selain itu, para pembatik tulis Rifa'iyah juga sering melantunkan sholawat maupun kalimat-kalimat dalam ajaran KH Ahmad Rifa'l saat membuat batik tulis. 

Untuk mencegah batik Batang punah, pihaknya bersama Konsorsium Pengusaha Peduli Sekolah Vokasi RI (Konsorsium) menggandeng SMKN 1 Warungasem, Batang, berupaya merevitalisasi Batik Tulis Batang. 

Kepala Sekolah SMKN 1 Warungasem Suyanta, mengatakan, dalam program revitalisasi ini para siswa belajar dari para pembatik tulis Batang yang jumlahnya semakin sedikit. 

Baca juga : Selamat, Bambang Brodjonegoro Jadi Dekan Institut Bank Pembangunan Asia

"Upaya ini sebagai solusi atas masalah regenerasi pembatik yang mengancam kelestarian Batik Tulis Batang," kata Suyanta dalam acara puncak 'Gelar Inovasi Batik Batang, Yang Muda Saatnya Berkarya' pada 24-26 Februari 2025. 

Menurut Suyanta, program revitalisasi di SMKN Warungasem dimulai pada tahun 2023, melalui bantuan renovasi gedung TEFA (Teaching Factory) Tata Busana, peralatan produksi yang berstandar industri, serta penguatan soft skill melalui pelatihan guru. 

"Kami memiliki fasilitas memadai dalam memberikan pendidikan tata busana yang yang cukup modern, yang dikombinasikan dengan pembelajaran budaya, teknik dan ragam desain klasik batik tulis tradisional Batang. Kini, siswa kami semakin terlatih dan terdorong kreatifitas fesyen-nya," ujarnya. 

Suyanta menambahkan, Gedung TEFA di SMKN Warungasem menerapkan model pembelajaran yang dioperasikan seperti pabrik, tapi di dalam sekolah. 

Pihaknya juga menggelar catwalk untuk peragaan busana dengan motif batik dari hasil karya sendiri.

Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Institut Pluralisme Indonesia yang turut mendukung dengan memberikan peningkatan kapasitas dan pengembangan pembelajaran tata busana melalui program pelatihan desain. 

Sebab, pelatihan dan pendampingan bagi generasi muda di Batang ini telah berjalan sejak Mei 2024 di SMKN 1 Warungasem dan menjalin kolaborasi pembelajaran antar sekolah, dengan melibatkan 7 sekolah setingkat SLTA di Kabupaten Batang yaitu SMKN 1 Warungasem, SMKN 1 Batang, SMK PGRI, SMAN 2 Batang, SMAN Wonotunggal, SLB Negeri Batang dan MAN Batang). 

Bahkan, desainer Patricia Sandjaja dan seniman visual Firman Lie dari Phalie Studio, Jakarta, telah membantu sebagai mentor pendidikan fesyen batik bagi para siswa peserta pelatihan. 

Melalui aktivasi TEFA SMKN 1 Warungasem sebagai institusi pendidikan, pihaknya akan terus berusaha berkontribusi sebagai fasilitator pengembangan kolaborasi pendidikan budaya dan ekonomi kreatif batik antar sekolah dan lintas institusi di Batang. 

"Hal ini diharapkan, dapat membantu upaya revitalisasi batik Batang agar tidak hilang di masa depan," pungkas Suyanta.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.