Dark/Light Mode

Awas! Kurang Jemur Matahari Picu Kematian Dini, Ini Kata Dosen IPB

Minggu, 30 November 2025 16:42 WIB
Ilustrasi. Foto: Dwi Pambudo/RM
Ilustrasi. Foto: Dwi Pambudo/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Paparan sinar matahari ternyata memiliki dampak signifikan pada harapan hidup dan kesehatan, bukan sekadar suasana hati. Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr Christy Efiyanti, SpPD, FINASIM, mengungkapkan kurangnya paparan matahari dapat meningkatkan risiko kematian secara signifikan.

Dalam paparannya, dr Christy menjelaskan bahwa individu yang rutin terpapar sinar matahari aktif cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap penyakit kardiovaskular (CVD) dan kematian nonkanker/non-CVD.

"Penelitian dalam dekade terakhir menunjukkan bahwa kurangnya paparan sinar matahari mungkin bertanggung jawab terhadap 340.000 kematian di Amerika Serikat dan 480.000 kematian di Eropa setiap tahunnya," ujar dr Christy dikutip dari laman resmi IPB, Minggu (30/11).

Baca juga : PetroChina Pacu Kebangkitan Kopi Liberika dan UMKM

Kondisi defisiensi paparan matahari ini juga dihubungkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit serius, termasuk kanker payudara, kanker kolorektal, hipertensi, penyakit jantung, sindrom metabolik, multiple sclerosis, Alzheimer, hingga autisme.

Peran Vital Vitamin D

dr Christy membeberkan bahwa peran utama sinar matahari adalah membantu tubuh memproduksi Vitamin D. Nutrisi ini vital untuk menjaga kekebalan tubuh, kesehatan tulang, dan fungsi metabolisme yang optimal.

"Paparan sinar matahari yang cukup mampu memperbaiki status vitamin D seseorang. Sebaliknya, defisiensi vitamin D sering kali terjadi pada individu yang jarang beraktivitas di luar ruangan," jelasnya.

Waktu Berjemur Ideal

Baca juga : Tujuh Kampus Inggris Jajaki Kerja Sama Pendidikan Dan Industri Tanah Air

Terkait waktu berjemur, dr Christy menyebut waktu ideal sangat bergantung pada waktu, musim, garis lintang, kondisi cuaca, hingga warna kulit individu.

Secara umum, orang berkulit cerah direkomendasikan berjemur 5–15 menit sebanyak 2–3 kali seminggu. Sementara itu, riset di Indonesia yang dilakukan Prof Siti Setiati merekomendasikan paparan sinar ultraviolet B selama 25 menit, tiga kali seminggu, selama enam pekan untuk meningkatkan kadar Vitamin D secara signifikan.

dr Christy pun berpesan kepada masyarakat agar tidak takut beraktivitas di bawah sinar matahari. "Perbanyak aktivitas di luar ruangan dan biasakan berjemur setiap hari. Jangan lupa periksakan diri untuk mengetahui status vitamin D pada tubuh," pesannya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.