Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Angklung Dan Tari Pendet Mencuri Perhatian Di Festival Budaya Kanada
Senin, 17 November 2025 19:16 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia kembali menampilkan kekuatan diplomasi budayanya di panggung internasional melalui World Multicultural Festival (WMF) 2025 di Ottawa, Kanada. Angklung, Tari Pendet, dan sejumlah pertunjukan seni lainnya memukau ribuan pengunjung, memperlihatkan kekayaan budaya Nusantara di tengah keragaman global.
Kebudayaan adalah landasan kita untuk membayangkan dan membangun dunia. Hal tersebut merupakan pesan seorang pemain cello terbaik dunia keturunan China-Amerika Yo Yo Ma yang dikutip Majalah Time beberapa tahun lalu.
Kutipan tersebut terasa relevan dengan dinamika global yang masih diwarnai friksi akibat perbedaan latar budaya. Semangat menghargai perbedaan juga yang turut mendasari penyelenggaraan World Multicultural Festival (WMF) di Horticulture Building, Ottawa, Sabtu (15/11/2025).
Ottawa, Ibu Kota Kanada, merupakan salah satu melting pot dunia, tempat bertemunya orang-orang dari bermacam latar kebudayaan.
Pada WMF edisi 2025, Indonesia turut ambil bagian dengan menampilkan Angklung dan Tari Pendet, hasil kolaborasi antara Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ottawa, Indonesian Canadian Congress (ICC), dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Ottawa, serta diaspora Indonesia.
Kedua penampilan tersebut mencuri perhatian ratusan pengunjung. Meski suhu mendekati 0 derahat Celsius, para pengunjung tetap memadati lokasi acara.
Penampilan Indonesia dibuka dengan penampilan Tari Pendet yang dibawakan Nalani Gruys dan Keandra Gruys, dara kembar keturunan Indonesia, serta Jasmine Daoust, WN Kanada.
Baca juga : Lampung Jadi Pelopor Pengawasan Desa Dipimpin Kepala Daerah
Tarian sakral yang kini dikenal sebagai tari penyambutan itu tampil memukau lewat gerak luwes, ekspresi lembut, dan kostum Bali yang gemerlap. Kelopak bunga yang dijentikkan menjadi simbol kehormatan dan ketulusan Indonesia dalam menyapa dunia.
Penampilan ini tidak hanya menunjukkan estetika Bali, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seni tradisional Indonesia terus dipelihara oleh diaspora dan generasi muda yang tumbuh jauh dari kampung halaman.
Sorak penonton, bidikan kamera yang tak henti, serta berbagai apresiasi yang disampaikan secara langsung membuktikan bahwa tarian ini berhasil mengguncang hati publik Kanada.
Setelah penampilan Tari Pendet menghangatkan suasana, panggung WMF kembali bergemuruh ketika para pemain orkestra angklung, yang diperkuat anggota ICC dan DWP serta pendamping Pejabat KBRI Ottawa, membawakan Mama Mia dan Super Trouper, 2 lagu popular dari ABBA, grup vokal lawas asal Swedia yang cukup terkenal di Ottawa.
Alunan melodi instrumen musik bambu khas Jawa Barat tersebut memberikan nuansa kehangatan di tengah dinginnya cuaca kepada publik Ottawa, yang sebagian di antaranya bahkan bergoyang mengikuti irama.

Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Kanada Muhsin Syihab menyampaikan kebanggaannya akan sambutan yang begitu antusias dari para pengunjung ketika penampil dari Indonesia menaiki panggung.
“Publik Ottawa sangat terpukau dengan keindahan gerakan penari Pendet dan harmoni musik Angklung," ungkapnya dikutip dari keterangan tertulis KBRI Ottawa, Minggu (16/11/2025).
Baca juga : PET IT Tanjung Uban Gelar BerSEAdekah dan Latihan Kebakaran untuk Warga
Bahkan, sambungnya, usai penampilan, para penampil didekati banyak pengunjung yang tertarik, termasuk yang mencoba memainkan instrumen angklung.
"Ini merupakan soft power Indonesia.”, tandasnya.
President ICC Gita Nurlaila, yang turut tampil dan memimpin harmoni Angklung, menyampaikan bahwa persiapan untuk tampil telah dimulai sejak 2—3 bulan.
“Kami sangat mengapresiasi dukungan luar biasa dari KBRI Ottawa," ujarnya.
Sementara itu, Jasmine, satu dari tiga penari pendet, mengutarakan kegembiraannya dapat turut tampil membawakan Tari Pendet di hadapan publik Kanada.
KBRI Ottawa selalu berupaya menghadirkan wajah Indonesia secara utuh dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat—dari ICC, DWP, hingga diaspora.
Kolaborasi semacam inilah yang membuat diplomasi budaya kita semakin hidup, berdaya, dan menyentuh langsung masyarakat Kanada.
Baca juga : Dua Pendekar Persita Dipanggil Bela Tim Nasional
Partisipasi Indonesia dalam WMF 2025 tidak berhenti pada penampilan seni semata. Ia merupakan wujud nyata dari diplomasi budaya yang semakin relevan di tengah masyarakat global.
Dengan populasi diaspora Indonesia yang terus berkembang, khususnya di Kanada, sinergi antara KBRI dan organisasi masyarakat, serta diaspora Indonesia merupakan keniscayaan guna memperkuat citra positif Indonesia.
WMF, sebagai festival kebudayaan tahunan terbesar di Ottawa yang diikuti oleh lebih dari 70 negara, menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa penampilan beragam kesenian dan kebudayaan memiliki nilai yang luar biasa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya