Dark/Light Mode

Microtia, Kelainan Bentuk Daun Telinga Pada Bayi, Ditangani Dalam 2 Fase

Senin, 29 Desember 2025 18:41 WIB
Microtia, Kelainan Bentuk Daun Telinga Pada Bayi, Ditangani Dalam 2 Fase

RM.id  Rakyat Merdeka - Pernah melihat telinga bayi yang ukurannya lebih kecil dari biasanya, atau bahkan bentuknya belum sempurna? Dalam dunia medis, kondisi ini disebut microtia, yang berasal dari kata micro (kecil) dan otia (telinga).

Pada bayi dengan microtia, telinga luar (daun telinga) tampak kurang berkembang atau tidak terbentuk sempurna. Biasanya, ini hanya terjadi pada satu sisi telinga saja (unilateral), tapi bisa juga keduanya.

Menurut laporan Stanford Medicine Children's Health dan CDC (Centers for Disease Control and Prevention), microtia terhitung kasus yang sangat langka, dengan angka kejadian 1:6.000. Sementara Jurnal Epidemiologic Characteristics of Microtia in a Chinese Population menyebut, 67 persen kasus microtia global terdapat di kawasan Asia, banyak dialami bayi laki-laki. Mayoritas kasus bersifat sporadis. Risiko diturunkan pada anak kedua, mencapai kurang dari 6 persen.

Proses Dalam Kandungan 

Lewat akun Instagram resminya, RS Universitas Indonesia (RSUI) menjelaskan, dalam perkembangan janin, telinga  dan ginjal terbentuk dalam waktu yang bersamaan.

Baca juga : Kilang Pertamina Kembangkan Teknologi WSA untuk Tekan Emisi dan Efisiensi Energi

"Microtia terjadi pada trimester pertama kehamilan. Pada fase ini, jaringan yang membentuk telinga luar mengalami gangguan perkembangan atau kegagalan fusi (penyatuan) jarıngan," jelas RSUI.

 


Salah satu teori medis terkuat yang mendukung terbentuknya microtia adalah adanya hambatan suplai darah sesaat ke area wajah janin. Sehingga, jaringan telinga tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk tumbuh sempurna.

Hingga saat ini, belum diketahui pasti penyebab microtia. Kondisi ini jarang disebabkan oleh apa yang ibu makan, aktivitas yang dilakukan, atau mitos-mitos kehamilan seperti melilit benang atau menggunting kain. Mayoritas kasus bersifat idiopatik alias penyebab pastinya tidak diketahui.

Baca juga : Kemenhan Bekali Jurnalis Hadapi Situasi Darurat di Daerah Rawan

Microtia memiliki empat derajat, mulai dari bentuk telinga yang hampir normal hingga anotia, yaitu kondisi ketika telinga tidak terbentuk sama sekali.

"Kabar baiknya, dengan kemajuan teknologi medis saat ini, tersedia berbagai pilihan penanganan untuk membantu fungsi pendengaran maupun rekonstruksi bentuk telinga sesuai kebutuhan anak," papar RSUI.

Penanganan Medis 

RSUI menerangkan, bayi yang terlahir microtia dapat ditangani dalam dua fase. Pertama, fase awal (0-5 tahun) dengan fokus pada pendengaran. Kedua, fase lanjut (6-10 tahun) dengan fokus rekonstruksi.

Pada fase awal, dilakukan evaluasi pendengaran (BERA/ASSR), solusi non bedah (BAHA softband), dan evaluasi pendengaran (BERA/ASSR).

Baca juga : Martin Manurung Kirimkan Bantuan Logistik ke Tapanuli Tengah dan Sibolga

Sedangkan pada fase lanjut, dilakukan tindakan berupa autologus (gold standard) dengan menggunakan tulang rusuk sendiri untuk meminimalkan penolakan tubuh. Serta implan pabrikan (medpor/su-por) pada usia 3-4 tahun dengan kerangka sintetis. Cara ini memiliki tingkat risiko yang lebih tinggi.

Selain itu, juga dapat dipasang prostesa telinga tiruan (tempel atau jepit), tanpa operasi bedah berat. 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.