Dark/Light Mode

Pakar IPB Soroti Fenomena Sampah Makanan di Momen Lebaran

Jumat, 20 Maret 2026 11:47 WIB
Ilustrasi hidangan Lebaran (Foto: Pexels)
Ilustrasi hidangan Lebaran (Foto: Pexels)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University Dr. Meti Ekayani menyoroti fenomena lonjakan sampah makanan di tengah hangatnya tradisi silaturahmi dan berbagai jamuan Idul Fitri. Menurutnya, fenomena tersebut mencerminkan paradoks dalam budaya konsumsi masyarakat. Niat memuliakan tamu dengan menyediakan hidangan berlimpah, kerap berujung pada pemborosan makanan.

“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, yakni budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujar Meti, melalui situs resmi IPB University.

Meti menuturkan, menyiapkan makanan berlimpah sebagai bentuk penghormatan kepada tamu, tidak hanya membudaya di Indonesia, tetapi juga di sejumlah negara Asia dan Timur Tengah. Banyak rumah tangga menyiapkan hidangan, jauh melebihi kebutuhan.

“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan, karena makanan kurang. Jadi, lebih baik dilebihkan. Padahal, seringkali akhirnya tidak habis,” jelas Meti.

Baca juga : 6 Tips Lindungi Anak Dari Penularan Campak Selama Libur Lebaran

Menurutnya, kondisi ini semakin diperparah oleh minimnya perencanaan konsumsi di tingkat rumah tangga. Banyak keluarga memasak atau membeli makanan, tanpa memperhitungkan jumlah anggota keluarga yang benar-benar akan makan di rumah.

Fenomena tersebut semakin terlihat di momen Ramadan, juga Idul Fiitri. Saat berbuka puasa, masyarakat sering membeli berbagai jenis makanan karena “lapar mata”. Namun ketika waktunya makan, tidak semua makanan tersebut benar-benar dikonsumsi.

“Seringkali, kita merasa semua makanan terlihat enak saat membeli. Tapi ketika waktunya makan, ternyata tidak habis,” kata Meti. 

Selain itu, perubahan aktivitas selama Ramadan juga turut memicu pemborosan makanan. Tidak jarang anggota keluarga memiliki agenda berbuka puasa di luar, sementara makanan sudah terlanjur disiapkan di rumah. “Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka puasa di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan menjadi berlebih,” ungkapnya.

Timbunan Sampah Kota

Baca juga : Pramono Siapkan Pergub Wajib Pilah Sampah di Jakarta, Ini Aturan dan Sanksinya

Meti menilai, persoalan food waste atau sampah makanan tidak berhenti pada pemborosan makanan. Dampaknya juga memperbesar timbunan sampah yang harus ditangani kota. Terlebih, sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih belum mampu mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah dari sumbernya.

“Pengelolaan sampah kita masih didominasi sistem kumpul-angkut–buang. Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi, tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” jelasnya.

Padahal, di sejumlah negara maju, sistem pengelolaan sampah dirancang untuk mendorong pengurangan sampah sejak dari rumah tangga. Salah satunya, melalui skema pembayaran iuran berdasarkan volume sampah yang dihasilkan.

Selain itu, Meti juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa memilah sampah. Ketika sampah makanan tercampur dengan sampah anorganik seperti kertas atau plastik, material yang sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi menjadi rusak dan tidak dapat dimanfaatkan kembali.

Baca juga : Warning KPK: Penindakan Tetap Jalan Meski Mendekati Lebaran

“Kalau food waste tercampur dengan sampah kering, yang tadinya masih bisa dijual atau didaur ulang, jadi tidak bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya.

Karena itu, Meti mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui perencanaan konsumsi yang lebih baik, serta kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga. Limbah makanan juga dapat diolah kembali, misalnya menjadi kompos atau pakan melalui budi daya maggot.

“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.