Dark/Light Mode

Ngeri!! Asap Karhutla Bisa Picu Pneumonia, Begini Penjelasan Ahli

Sabtu, 5 September 2026 08:26 WIB
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. (Foto: BNPB)
Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan. (Foto: BNPB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak boleh dianggap sepele. Meski bukan kuman penyebab infeksi, paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko pneumonia atau infeksi pada paru-paru.

Kondisi ini terjadi ketika kantong udara di paru-paru mengalami peradangan dan dapat terisi cairan, sehingga penderitanya kesulitan bernapas.

Pneumonia dapat disebabkan berbagai mikroorganisme, di antaranya bakteri pneumokokus dan virus influenza.

Lantas, bagaimana bisa kabut asap yang bukan kuman meningkatkan risiko pneumonia?

Soal ini, Dokter Spesialis Paru dari Divisi Infeksi, Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Erlina Burhan mengatakan, akar penyebabnya adalah partikel halus PM2.5 yang terkandung dalam asap karhutla.

Baca juga : Asap Karhutla Kalimantan Berpotensi ke Negara Tetangga, BMKG Sebut Karena Angin

Partikel halus tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mengganggu sistem pertahanan alami paru-paru. 

“Asap memang membuat mata perih dan tenggorokan gatal. Tapi yang justru berbahaya adalah sesuatu yang tidak kita rasakan sama sekali. Di dalamnya terkandung partikel halus bernama PM2.5, yang berukuran sekitar tiga puluh kali lebih kecil dari lebar rambut,” jelas Erlina melalui Instagram.

“Karena sehalus itu, partikel ini lolos dari saringan hidung dan masuk sampai ke bagian terdalam paru. Ia juga membawa zat sisa pembakaran yang bersifat racun bagi sel-sel paru,” lanjutnya.

Erlina menjelaskan, bagian pertama yang terganggu adalah silia, yakni bulu-bulu halus di saluran napas yang berfungsi menyapu lendir dan kotoran keluar dari paru-paru.

Saat saluran napas mengalami peradangan, kerja silia ikut melemah. Akibatnya, kuman yang seharusnya tersapu keluar, jadi lebih mudah bertahan di saluran pernapasan.

Baca juga : BNPB Minta Negara Tetangga Tak Saling Menyalahkan soal Asap Karhutla

Lapis pertahanan berikutnya adalah makrofag, sel imun di dalam paru-paru yang bertugas menangkap dan menghancurkan kuman.

Zat beracun pada partikel asap dapat melemahkan kemampuan sel ini dalam menangkap dan menghancurkan kuman yang telanjur masuk.

“Sampai di sini, paru sudah kehilangan dua lapis pertahanannya. Kuman yang biasanya bisa diatasi tubuh, malah mendapat ruang untuk berkembang, dan pneumonia pun terjadi,” beber Erlina.

Kelompok Rentan Perlu Waspada 

Erlina menyebut dampak kuman penyebab pneumonia tidak sama pada setiap orang. Kelompok yang paling perlu diperhatikan adalah anak-anak, lansia, serta mereka yang memiliki asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau penyakit jantung.

Daya tahan paru mereka lebih terbatas, sehingga gangguan pada saluran pernapasan dapat lebih cepat berkembang menjadi kondisi serius.

Baca juga : Duduk Terlalu Lama Ternyata Bisa Merusak Paru-paru, Simak Penjelasan Ahli

“Selama kualitas udara buruk, kurangi aktivitas di luar rumah dan gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus,” ujar Erlina.

“Bila batuk disertai demam, sesak, atau napas terasa berat, jangan ditunda. Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.