Dewan Pers

Dark/Light Mode

Muhammadiyah Galang Bantuan

Tolong, Korban Gempa Halmahera Selatan Butuh Air Bersih

Rabu, 17 Juli 2019 20:17 WIB
Korban gempa Halmahera Selatan (Foto: MDMC)
Korban gempa Halmahera Selatan (Foto: MDMC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama LazisMu telah mendirikan pos komando tanggap darurat di lokasi gempa bumi, di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Posko komando tanggap darurat ini didirikan di Jalan Delima Nomor 75, Kelurahan Toboko, Kota Ternate. 

Pembentukan pos komando diketuai Didik Kurniyawan. Perkembangan pos komando saat ini sampai pada pemetaan wilayah bencana menggunakan peta geografis sederhana. Pemetaan wilayah tersebut berguna untuk mengetahui jalur mana yang bisa diakses menuju lokasi bencana, sehingga dapat memudahkan pendistribusian logistik dan lain-lain. 

Berita Terkait : Bantu Korban Gempa Maluku, Pertamina Kirim Makanan Dan Peralatan Masak

Berdasarkan laporan MDMC Maluku Utara, kebutuhan warga yang paling mendesak saat ini ialah makanan dan minuman, tempat pengungsian sementara seperti terpal, alat mandi, dan air bersih. Ada pun laporan dari salah satu desa, yaitu Desa Dowora, Tidore Timur, Kota Tidore, tidak memiliki sumber air bersih untuk dikonsumsi. Dalam kondisi normal saja, mereka harus mengambil air di Halmahera. Sumber air yang mereka miliki hanya air danau, yang tidak layak dan sedikit payau.

Didik menerangkan, pihaknya telah mengirimkan empat orang tim asistensi di lokasi bencana untuk mendata informasi terkait kebutuhan dan potensi yang ada di sana. Pendataan tersebut sedikit mengalami kelambatan karena sulitnya akses menuju lokasi, seperti di Kecamatan Gane yang rata-rata merupakan wilayah pesisir dengan tingkat kerusakan yang bermacam-macam akibat gempa. “Karena lokasi bencana berbeda-beda tempat. Ada yang di pulau ada yang di pesisir,” ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (17/7).

Berita Terkait : Korban Gempa Halmahera Selatan Kini 6 Orang

Kesulitan mengakses lokasi terdampak gempa juga dirasakan tim asistensi yang berada di sana. Selasa kemarin (16/7), tim asistensi menuju ke lokasi bencana harus memilih menggunakan transportasi laut. Untuk menuju lokasi, ada tiga pilihan jalur, yaitu jalur laut, udara, dan darat. “Karena letak geografis agak jauh, jadi kami gunakan laut. Kalau darat bisa 12 jam, sedangkan laut hanya sekitar 8  jam,” jelas Didik. 

Melihat kesulitan dalam pengaksesan jalan tersebut, MDMC Maluku Utara juga mengupayakan SDM terkait relawan, tim medis, dan SAR untuk diturunkan ke lokasi bencana. Mereka juga menghimpun dan mengkoordinasikan penggalangan dana dengan Ortom Muhammadiyah, Lembaga Pemerintah, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, mahasiswa, dan warga setempat. 

Berita Terkait : Kirim Bantuan Ke Halmahera Selatan, BNPB Terjunkan Helikopter

“Bahkan siswa-siswa sekolah berbondong-bondong ikut menggalang dana. Kami gerakkan penggalangan dana banyak-banyak. Jika hasil asesment sudah ada dan memungkinkan kami untuk membuka pos pelayanan, maka kami sudah siap,” tutup Didik. [USU]