Dark/Light Mode

KPAI Turun Tangani Dugaan Perundungan Siswa Berkebutuhan Khusus Di SMP 8 Depok

Sabtu, 5 Oktober 2024 23:00 WIB
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra. Foto: Istimewa
Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengunjungi rumah keluarga korban yang diduga mengalami perundungan oleh sesama murid saat kegiatan belajar di SMP Negeri 8 Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Sabtu (5/10/2024).

Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra menyesalkan respons pihak sekolah ketika mendapat aduan dari keluarga korban. Apalagi, murid tersebut adalah anak berkebutuhan khusus.

"Ada persoalan serius tentang bullying yang selama ini dilaporkan orang tua korban, tapi kurang mendapat perhatian sekolah," kata Jasra, dalam keterangannya yang diterima, Sabtu (5/10/2024).

Menurut pengaduan orang tua korban yang diterima KPAI, perundungan terhadap anaknya oleh sesama murid terjadi berkali-kali. Dia pun sudah mengadukan hal ini kepada pihak SMP 8, tapi responnya lambab.

"Masih sadar ya, Pak," ujar Jasra menirukan ucapan orang tua korban ketika mengadukan persoalan ini ke pihak sekolah.

Baca juga : KI Pusat Kaji Integrasi Perlindungan Data Dan Keterbukaan Informasi Di Kanada

Pada kesempatan ini, KPAI juga mencoba berinteraksi langsung dengan korban. Diucapkan Jasra, perundungan teranyar yang dialami korban terjadi setelah upacara Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober.

"Anak itu bilang ke saya punggungnya ditendang, tangannya dicakar, parahnya, pelaku lebih dari satu orang," sebut Jasra menurut penuturan anak kepadanya.

Korban juga menjelaskan beberapa peristiwa yang pernah dialaminya. Misalnya kepala dan tubuh anak berkebutuhan khusus ini didorong hingga terjatuh.

Akan tetapi, anak korban tidak bisa melihat wajah yang mendorongnya. Karena si palaku langsung kabur dan menghindar.

"Jadi anak korban bercerita perilaku teman-temannya. Anak korban menyampaikan para pelaku, juga ada di ruang kelas lain," ucap Jasra.

Baca juga : IIGCE 2024 Kaji Tantangan Dan Peluang Energi Panas Bumi Di Masa Depan

Nahasnya, kejadian ini membuat traumatik mendalam bagi anak korban. Sehingga anak korban ini sampai melukai dirinya sendiri lantaran kecewa dengan tindakan yang dialami temannya, dan juga respon sekolah yang tidak tegas.

"Selama ini anak (korban) baik-baik saja. Respon pihak sekolah sebagaimana aduan yang diterima KPAI dari orang tua korban," tuturnya.

Sebelumnya, seorang siswa kelas IX di salah satu SMP di Depok, R (15), diduga menjadi korban perundungan atau bullying hingga melukai diri sendiri. Kepala sekolah membantah R dirundung dengan cara dilempar batu oleh sesama siswa.

"Nggak ada (lempar batu siswa ke R)," kata Kepala SMPN 8 Tatag Hadi Sunoto di Depok, Jumat (4/10/2024).

Tatag menyebutkan tidak ada batu di sekolahnya. Dia mengatakan, kalaupun ada, batu di sekolahnya hanya berukuran kecil.

Baca juga : PAC PDIP Majalengka Dukung Eman Suherman Di Pilbup 2024

"Oh ya iya lah (membantah adanya pelemparan batu). Seperti tadi, jangankan batu, kerikil saja nggak. Lihat saja yang di sekitar itulah. Oke, tempat lompat jauh yang sekarang kan paling pasir. Kalaupun ada batu kerikil itu. Ya di situ kan. Kan nggak ada. Jangankan batu, ibaratnya kerikil saja kan. Bisa lihat lah," jelasnya.

Dia menganggap narasi R, yang merupakan siswa berkebutuhan khusus, dilempar batu beredar karena tidak ada klarifikasi ke sekolah. Dia mengatakan siswa yang diduga melakukan perundungan telah dimintai keterangan dan membantah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.