Dark/Light Mode

Masyarakat Diajak Berpartisipasi

55 Persen Sampah Di Rumah Bisa Diolah Jadi Pupuk

Selasa, 11 Februari 2025 06:50 WIB
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi DKI Jakar­ta Asep Kuswanto. (Foto: Instagram/dinaslhdki)
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi DKI Jakar­ta Asep Kuswanto. (Foto: Instagram/dinaslhdki)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengajak masyarakat berpartisipasi mengurangi sampah. Salah satu caranya, mengolah jenis sampah organik menjadi pupuk.

Pemprov DKI berharap, masyarakat berperan aktif mendukung Program Kupilah (Kurangi-Pilah-Olah), untuk mengurangi sampah rumah tangga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Provinsi DKI Jakar­ta Asep Kuswanto menjelaskan, kalau dahulu pola masyarakat membuang sampah dengan cara dikumpulkan, angkut dan buang. Berbeda dengan konsep Kupilah. Program ini ditargetkan mengurangi sampah dari sumbernya, rumah tangga. Oleh karena itu dia mengajak seluruh anggota keluarga berpartisipasi melakukan pemilahan sampah.

“Rumah tangga memiliki ang­gota keluarga. Ada ayah, ibu, anak, asisten rumah tangga. Ke­empat anggota keluarga ini ayo sama-sama memilah sampah di rumah. Minimal itu. Saya salut kalau generasi muda kini lebih menonjol di situ,” jelas Asep.

Menurutnya, berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 77 Tahun 2020, terdapat empat jenis pengelolaan sam­pah, yaitu organik, anorganik, B3 (bahan berbahaya dan bera­cun), serta residu.

Baca juga : Manchester City Vs Real Madrid, Adu Ketajaman

Sampah organik adalah yang mudah diurai dan diolah menjadi kompos. 55 persen sampah yang dihasilkan masyarakat adalah sampah organik. Kompos dibuat dari sampah organik mentah.

“Sedangkan jenis sampah organik yang matang, yakni sisa kuliner atau sampah olahan dapur (SOD),” jelas dia.

Untuk sampah anorganik, lanjutnya, dimasukkan ke mesin pencacah dan dipilah sebelum dibawa ke Bank Sampah. Untuk sampah jenis B3, belum bisa diolah di Tempat Pengelolaan Sampah di Ketapang. Namun, ada petugas yang bisa menjem­put sampah B3 setiap seminggu sekali untuk dibawa ke Cililitan, Jakarta Timur.

“Termasuk e-waste atau elec­tronic waste. Itu bisa kita layani dengan jemput. Misalnya, di rumah tangga kita banyak sisa barang elektronik. Kayak TV atau sisa-sisa komputer,” im­buhnya.

Sisa buangan elektronik tidak boleh dibuang sembarangan. Karena, terdapat radiasi yang berbahaya. Terkait sampah je­nis residu, jenis tersebut adalah sampah yang sama sekali tidak bisa diolah lagi, seperti tisu dan puing bangunan yang rusak.

Baca juga : Sheryl Sheinafia, Nyaman Dengan Bisma Karisma

“Residu inilah yang terakhir dibuang ke TPA Bantar Ger­bang,” pungkasnya.

Asep menambahkan, saat ini pihaknya juga tengah bersiap dalam mewujudkan pengelolaan sampah perkotaan yang baik di Indonesia. Kota Jakarta Utara (Jakut) ditunjuk menjadi lokasi percontohan nasional.

“Jakarta diberikan mandat dari Kementerian Lingkungan Hidup agar dapat menjalankan rencana strategis ini. Kami memastikan seluruh sistem dapat berjalan efektif, serta berkelanjutan,” ujar Asep di Jakarta, Sabtu (8/2/2025).

Asep menyebut, kesiapan Jakut sebagai percontohan ditun­jukkan dengan berbagai program yang telah disusun untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Di an­taranya, adalah program untuk mendukung sistem pengelolaan sampah terintegrasi hingga ke level Rukun Warga (RW).

Dinas LH juga mengembang­kan program Pengelolaan Sam­pah Organik Terintegrasi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakut. Program ini akan menghubungkan pengola­han sampah organik dengan pe­manfaatan hasilnya untuk kebu­tuhan pangan, seperti budidaya maggot yang hasilnya dapat dijadikan pakan ternak dan ikan. Asep menegaskan, program ini tidak hanya bertumpu pada satu sektor, namun melibatkan berbagai elemen masyarakat dan dunia usaha.

Baca juga : Geber Swasembada Pangan, Pemerintah Tak Kenal Hari Libur

“Kami menerapkan pendekatan hulu, tengah, dan hilir melalui kerja sama lintas sektor agar efektivitas pengelolaan sampah semakin meningkat,” katanya.

Dengan strategi ini, lanjutnya, Jakut diharapkan mampu menjadi model bagi daerah lain dalam menangani permasalahan sampah secara lebih sistematis dan inovatif.

Staf Ahli Menteri Bidang Ke­lestarian Sumber Daya Keanekaragaman Hayati dan Sosial Budaya, Kementerian Lingkungan Hidup Noer Adi Wardojo menyampaikan, setiap wilayah harus memiliki peta jalan pengelolaan sampah yang jelas dan diterapkan secara optimal. [RAA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.