Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kongres GMNI di Bandung, Ajang Rebut Kembali Marwah Gerakan Marhaenis
Senin, 30 Juni 2025 17:21 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) sedang berada di titik krusial sejarahnya. Di tengah dualisme kepengurusan yang belum terselesaikan, Kongres ke-22 GMNI yang digelar di Bandung digambarkan bukan sekadar agenda organisasi rutin, melainkan medan pertempuran ideologis untuk merebut kembali arah gerakan.
Ketua Umum GMNI versi Yogyakarta Gilang Faijin Aljiaro menyebut, dualisme yang terjadi saat ini bukan hanya persoalan administratif, tetapi telah menjelma menjadi pertarungan antara dua kutub:
Satu pihak yang ingin menegakkan kembali GMNI sebagai organisasi kader yang independen dan berpihak pada rakyat, melawan pihak yang dinilai hendak mempertahankan GMNI sebagai alat kekuasaan yang dikendalikan oleh elite tertentu.
Baca juga : Menko Polkam: Indo Defence Ajang Strategis Penguatan Kerja Sama Pertahanan Keamanan
“Kondisi ini adalah akumulasi pembusukan sistemik dan pengkhianatan terhadap nilai-nilai marhaenisme. GMNI sedang menghadapi bentuk baru dari penjajahan—bukan dari luar, tapi dominasi internal dan kooptasi struktural,” ujar Gilang dalam pernyataan resmi, Sabtu (28/6/2025).
Dengan mengusung tema “Bersatu Lawan Penjajahan Gaya Baru”, Kongres GMNI di Bandung diklaim sebagai panggilan untuk konsolidasi politik dan ideologi.
Sekretaris Jenderal Yudhya Prasetia menegaskan bahwa forum tersebut adalah ruang untuk menyatukan kekuatan dari bawah, dari kader-kader yang selama ini bergerak di jalanan, ruang diskusi, dan kampus.
Baca juga : Luas Rumah Subsidi Dipangkas, Menteri PKP: Harga Tanah Semakin Mahal
“Kami menolak kompromi palsu. Ini bukan soal rekonsiliasi struktural, tapi upaya untuk merebut kembali kehormatan kader, marwah organisasi, dan arah ideologis GMNI,” ujarnya.
Pernyataan sikap dari kubu Yogyakarta itu mencakup empat poin utama: mendukung penuh Kongres Bandung sebagai forum sah, menolak segala bentuk intervensi yang mengganggu jalannya kongres, menyerukan kepada kader untuk memilih jalan kesadaran ideologis, dan mendorong pembangunan kekuatan organisasi dari basis akar rumput.
Gilang menilai narasi "Kongres Persatuan" yang diusung kubu lain hanya menjadi tameng untuk mempertahankan status quo dan kekuasaan struktural.
Baca juga : Aksi Bupati Jombang Gercep Bentuk Kopdes/Kel Merah Putih Curi Perhatian Menkop
“Persatuan yang dibangun di atas ketakutan akan kehilangan posisi bukanlah persatuan ideologis. Itu bentuk baru feodalisme,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh kader GMNI di Indonesia untuk tidak tunduk pada kompromi yang menjauh dari nilai-nilai marhaenis.
“Keberanian untuk melawan lebih mulia daripada ketundukan untuk bertahan. Pada akhirnya, yang tidak murni akan terbakar mati,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya