Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
FBR: Jakarta Menuju Kota Global Berbudaya, Bukan Sekadar Pencitraan
Jumat, 14 November 2025 09:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Forum Betawi Rempug (FBR) KH. Lutfi Hakim menegaskan bahwa pembangunan Jakarta di bawah Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno bergerak pada arah strategis menjadikan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada budaya Betawi.
“Jakarta boleh modern, tapi tidak boleh tercerabut dari akar budayanya,” ujar KH Lutfi Hakim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Ketum FBR ini menilai, menuju satu tahun kepemimpinan Pramono-Rano, Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta memiliki strategi reflektif dan visioner dalam menjawab tantangan besar setelah Jakarta tidak lagi menyandang status ibu kota negara.
Menurutnya, gagasan Jakarta Kota Global Berbudaya merupakan pesan penting agar pembangunan kota tidak kehilangan rohnya. Tema tersebut, yang pertama kali dicanangkan pada HUT ke-498 Kota Jakarta, menjadi tonggak arah moral pembangunan menjelang lima abad usia kota.
“Momentum itu bukan sekadar seremonial, tapi penegasan jati diri Jakarta di tengah arus modernisasi yang sejalan dengan kegelisahan masyarakat global, bukan agenda asing dalam tanda kutip,” tegasnya.
Baca juga : Ada Yang Bergaji 100 Juta, BPJS-Nya Dibayar Negara
Lutfi kemudian menautkan gagasan itu dengan dinamika global, salah satunya melalui Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) yang tengah berlangsung di Belém, Brasil.
Dalam konferensi tersebut, dunia menyepakati enam tema besar kebijakan iklim masa depan. Salah satunya, Fostering Human and Social Development, menekankan pentingnya pelestarian budaya dan perlindungan warisan budaya (cultural heritage protection) sebagai bagian integral dari aksi iklim global.
“Jakarta sudah lebih dulu bicara soal itu. Saat dunia baru menimbang, kita sudah melangkah. Isu yang kami bawa bukan kaleng-kaleng. Ini menyentuh keresahan masyarakat dunia tentang bagaimana kota modern tetap menjaga kemanusiaan dan kebudayaannya,” paparnya.
Transformasi Jakarta menuju kota global berbudaya, lanjutnya, juga memiliki dasar hukum yang kuat, yakni Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta (DKJ). Regulasi ini menegaskan tiga arah utama pembangunan: Jakarta sebagai kota global, pusat ekonomi nasional, dan kota berkelanjutan.
Namun di antara ambisi tersebut, terdapat amanat penting mengenai pelestarian budaya lokal sebagai identitas dan karakter kota.
Baca juga : Teror Jaka Maruta Di Kerajaan Mandura
“Pemprov tidak asal melangkah. Semua melewati proses panjang, termasuk arah yang ditetapkan dalam UU DKJ,” jelas Lutfi.
Dalam konteks perubahan besar itu, Forum Betawi Rempug (FBR) tampil sebagai ormas Betawi pertama yang membaca arah kebijakan baru Jakarta.
Jauh sebelum gagasan kota global berbudaya menjadi tema resmi Pemerintah, FBR telah mendorong pembentukan lembaga adat sebagai amanat undang-undang untuk menjaga identitas Betawi di tengah arus modernisasi.
Bahkan ketika undang-undang masih dalam tahap rancangan, Lutfi bersama para pemikir muda Betawi melakukan roadshow melalui Kaukus Muda Betawi, berkeliling menemui fraksi-fraksi di DPR RI agar frasa “lembaga adat” masuk dalam UU DKJ.
“Alhamdulillah, perjuangan itu akhirnya diakomodasi pemerintah pusat dan legislatif,” ungkapnya.
Baca juga : Pelajar SMAN 72 Korban Ledakan Sudah Dapatkan Perawatan
Dorongan tersebut kemudian melahirkan Lembaga Adat Masyarakat Betawi (LAM Betawi), wadah penjaga nilai, moral, dan budaya Betawi, sekaligus poros bagi seluruh instrumen pelestarian kebudayaan lokal.
Lutfi menilai, menjadi kota global menuntut daya saing tinggi, namun tanpa budaya, pembangunan akan kehilangan arah. Karena itu, ia mengapresiasi komitmen kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno yang menandatangani fakta integritas bersama masyarakat Betawi sebagai bentuk jaminan bahwa pembangunan Jakarta tidak akan meninggalkan nilai-nilai lokalnya.
Lutfi menyebut, Jakarta kini memasuki miqot baru, titik balik sejarah menuju peran global yang berakar pada kearifan lokal. Menurutnya, kesadaran masyarakat Betawi sendiri menjadi bagian penting dari perjalanan ini menuju masa depan Betawi.
“Ini bukan hanya tugas gubernur, tapi milik kita bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap visi tersebut tidak berhenti di masa kepemimpinan Pramono Anung dan Rano Karno. Pemimpin berikutnya, kata dia, perlu melanjutkan arah yang sama: menjadi global tanpa kehilangan akar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya