Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Gubernur Pramono Anung Tolak Buzzer, Pilih Komunikasi Publik Dua Arah
Selasa, 27 Januari 2026 08:51 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menekankan pentingnya komunikasi publik yang transparan dan dua arah dalam menjalankan birokrasi.
Ia memilih membangun komunikasi yang natural tanpa bantuan tentara siber (buzzer) maupun rekayasa jumlah pengikut di media sosial untuk meraih simpati publik.
Pernyataan tersebut disampaikan Pramono saat membuka diskusi Executive Breakfast Meeting bertajuk "Riah Riuh Komunikasi" yang diselenggarakan Ikatan Alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (IKA Fikom Unpad) di Tribrata Hall, Jakarta Selatan, Senin (26/1/2026).
Pramono, yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina IKA Fikom Unpad, menegaskan bahwa komunikasi pejabat publik seharusnya tidak berhenti pada fungsi publikasi searah, melainkan menjadi ruang dialog.
"Terutama bagi pejabat, komunikasi itu jangan dianggap sebagai publikasi saja, komunikasi itu harus menjadi ruang dialog yang terbuka dengan orang dalam," ujarnya.
Transparansi dan Kritik
Baca juga : Sukur Dorong UMP Berbasis Kualifikasi Perusahaan
Menurut Pramono, kejujuran antara apa yang terjadi di balik layar dengan apa yang ditampilkan kepada publik menjadi kunci. Ia menerapkan prinsip tanpa sekat dalam memimpin Jakarta saat ini.
"Komunikasi itu kan pilihan, memiliki ruang depan dan belakang, buat saya antara ruang depan dan belakang itu harus sama dan itu yang saya lakukan saat memimpin Jakarta saat ini," kata Pramono.
Terkait penggunaan jasa penguat pesan di media sosial, Pramono mengaku sempat mendapatkan saran tersebut, namun ia tegas menolaknya.
Ia lebih memilih organik meski harus menghadapi kritik pedas dari warga. ”Ada yang menyarankan, saya menolak. Biarkan saya seperti ini saja,” tegasnya.
Ia menambahkan, pola komunikasi natural ini terbukti efektif meningkatkan elektabilitasnya secara drastis dari 0,1 persen hingga mencapai 50,07 persen.
Baca juga : Kurangi Kemacetan, Pramono Anung Ajak Warga Beralih ke Transportasi Umum
Mengenai kritik, ia mencontohkan respons publik saat penanganan banjir. “Ya saya juga tidak anti kritik, saat banjir saja saya malah urus The Jak, ini pasti ada kritik. Tidak apa, tetapi saya juga terus bekerja mengeruk kali,” terangnya.
Perspektif Komunikasi
Acara tersebut juga menghadirkan sejumlah pakar. Analis komunikasi politik sekaligus Ketua Umum IKA Fikom Unpad, Hendri Satrio, menjelaskan bahwa buku Riah Riuh Komunikasi yang menjadi pemantik diskusi disusun untuk membedah dinamika komunikasi di Indonesia sejak transisi kepemimpinan nasional.
"Semua dalam buku ini membahas sudut pandang saya melihat beberapa hal di Indonesia dari sisi komunikasi, dan pada akhirnya sepakat kita bahas di sini untuk mengawali EBM IKA Fikom Unpad di tahun 2026," kata Hendri.
Sementara itu, analis politik Rocky Gerung menyoroti esensi komunikasi sebagai sarana mengaktifkan nalar demi mencapai kesepakatan argumen dalam bernegara.
"Komunikasi kan artinya mengaktifkan reason untuk memperoleh kesamaan argumentasi," tutur Rocky.
Baca juga : Gubernur Pramono Tebang Tiang Monorel Mangkrak
Senada dengan itu, Tenaga Ahli Kemenhan Sabrang Mowo Damar Panuluh mengingatkan bahwa komunikasi tidak boleh sekadar reaktif, melainkan harus berbasis fakta.
Ia menilai wajar jika komunikasi tidak bisa menyenangkan semua orang. "Komunikasi memang bukan alat untuk memuaskan semua pihak, mungkin saja itu salah satu utilitinya, tapi utilitas utamanya kan menyampaikan informasi satu sama sama lain," ujar Sabrang.
Penulis Maman Suherman menutup dengan pesan, agar pejabat publik tidak hanya terpaku pada isu yang viral.
"Komunikasi harus mulai mendengar yang tidak viral, karena kalau hanya ikut yang viral akan selamanya kita hanya mengikuti tren-tren di media sosial," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya