Dewan Pers

Dark/Light Mode

Polusi Udara Di Jakarta Sudah Parah Banget

Bau Bensin Nempel Di Pakaian Dan Kulit

Kamis, 28 Oktober 2021 07:00 WIB
Ilustrasi polusi udara di Jakarta. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)
Ilustrasi polusi udara di Jakarta. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

RM.id  Rakyat Merdeka - Polusi udara di Jakarta sudah dalam kondisi sangat parah. Indikasinya, bau bensin gampang menempel di baju dan kulit warga yang beraktivitas di luar ruangan.

Ketua Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Syafrudin mengamini, kualitas udara di Jakarta sudah sangat parah dan semakin memburuk akibat pencemaran udara dari asap kendaraan bermotor.

“Berdasarkan riset yang dilakukan Universitas Indonesia pada 2006, menunjukkan bahwa udara di DKI Jakarta sudah jauh di bawah garis rata-rata layak untuk paru-paru,” kata Puput-sapaan Ahmad Syafrudin, kemarin.

Berita Terkait : Kasus Positif Nambah 623, DKI Jakarta Paling Banyak Nyumbang

Riset tersebut dilakukan untuk memeriksa kadar hidrokarbon yang ada di udara wilayah Jakarta.

Berdasarkan riset tersebut, Puput mengungkapkan, urin masyarakat Jakarta sudah mengandung hidrokarbon sebanyak empat kali lipat lebih tinggi dari yang diperbolehkan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

Kemudian, kadar Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) dalam urin masyarakat sudah mencapai 30 kali lipat dari yang disarankan oleh WHO. Berdasarkan penelitian tersebut, kualitas udara di wilayah Jakarta sudah sangat buruk dan jauh dari kelayakan.

Berita Terkait : Paulus Waterpauw Resmi Jabat Deputi Bidang Pengelolaan Potensi Kawasan Perbatasan BNPP

Menurut Puput, ada cara yang paling mudah untuk mengetahui indikator buruknya udara di Jakarta.

“Jika masyarakat menggunakan transportasi umum atau sedang jalan kaki di pusat kota, lalu mencium bau bensin menempel pada pakaian dan kulit, itu sudah menandakan polusi udara di lokasi tersebut sudah sangat parah,” ucapnya.

Puput juga memaparkan hasil penelitian yang dilakukan kelompoknya bersama dengan United States- Environmental Protection Agency (UNEP US-EPA) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penelitian itu mencatat, sekitar lima juta penduduk Indonesia menderita penyakit terkait dengan pencemaran udara.
 Selanjutnya