Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Kontaminasi Paracetamol Di Teluk Jakarta Perlu Penelitian Lebih Lanjut
Selasa, 5 Oktober 2021 21:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Etty Riani memberikan penjelasan mengenai temuan kontaminasi paracetamol di Perairan Teluk Jakarta. Menurut Prof Etty, temuan tersebut perlu penelitian lebih lanjut. Ia juga menyampaikan, kadar paracetamol yang ditemukan di Teluk Jakarta masih terhitung kecil.
“Kalau dilihat dari jumlah 600 ng/L, itu sifatnya non akut. Sehingga tidak akan menjadi mematikan dalam jumlah tersebut,” terang Prof Etty, saat menyampaikan paparan “Paracetamol: Penyebab Laut Terkontaminasi, Dampak, Pengelolaannya”, pada Media Briefing secara virtual, di Jakarta, Selasa (5/10).
Dia melanjutkan, hal yang perlu diperhatikan adalah, lingkungan itu merupakan sistem yang saling terkait. Oleh karena itu, perlu ada penanganan lebih lanjut agar tidak menimbulkan gangguan.
“Sosialisasi kepada masyarakat juga perlu dilakukan. Jika ingin lingkungan bersih, sehat dan nyaman, maka setiap individu harus peduli lingkungan,” pesannya.
Dari hasil Penelitian Pusat Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia-Badan Riset dan Inovasi Nasional (LIPI-BRIN), konsentrasi paracetamol di Teluk Jakarta sebesar 420-610 ng/L. Artinya, terdapat kandungan 420-610 gram paracetamol dalam 1 juta meter kubik air laut.
Prof Zainal Arifin, peneliti pada penelitian “Tingginya konsentrasi paracetamol pada buangan air limbah mendominasi air di Teluk Jakarta, Indonesia” menjelaskan, riset paracetamol dan bahan pencemar ini dilakukan sejak 2017 sampai 2020. Dari lima lokasi penelitian yaitu Angke, Ancol, Tanjung Priok, Cilincing, dan Pantai Eretan, paracetamol terdeteksi di dua lokasi yaitu Ancol dan Angke.
“Dari empat parameter, yaitu parameter fisik hasilnya aman bagi biota, dan parameter logam berat terlarut umumnya aman. Sedangkan nutriens seperti ammonia, nitrate, dan fosfat melebihi baku mutu. Sementara, parameter lainnya seperti pcb dan pestisida juga aman bagi biota laut,” terangnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya